MALANG POST – Wali Kota Batu Nurochman merancang kawasan pertanian terpadu dan cerdas (Smart and Integrated Farming) seluas 2,8 hektare di Desa Giripurno, Bumiaji, Selasa (22/9/2026), guna mengatasi kendala enggan bertani akibat takut gosong serta mendorong regenerasi generasi milenial dan Gen Z.
Regenerasi petani menjadi salah satu pekerjaan rumah besar di sektor pertanian Kota Batu. Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan pangan, minat generasi muda untuk terjun langsung ke sawah maupun kebun masih menjadi tantangan tersendiri.
Wali Kota Batu, Nurochman, menyebutkan bahwa persepsi terhadap pekerjaan petani menjadi salah satu penyebab utamanya. Aktivitas bertani masih kerap dianggap identik dengan pekerjaan berat, kotor, serta harus berlama-lama di bawah terik matahari.
“Anak muda sekarang tentu kurang tertarik ke dunia pertanian terbuka karena takut kulitnya gosong, tidak kelihatan cerah (glowing),” ujar Nurochman, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, persoalan regenerasi tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab, sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama ketahanan pangan yang keberlangsungannya sangat bergantung pada keberadaan generasi penerus.

MENYAPA: Wali Kota Batu Nurochman saat menyapa petani Kota Batu, saat ini Kota Batu mengalami kekurang petani muda. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Terlebih lagi, kata Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, dunia saat ini sedang menghadapi tantangan krisis energi dan pangan. Oleh karena itu, profesi petani tetap memiliki peran vital dan kebutuhan terhadap pekerjaan tersebut tidak akan pernah berhenti.
“Tanpa regenerasi, mata rantai dunia pertanian yang menopang ketahanan pangan akan terputus. Dunia ini sedang menghadapi krisis energi dan krisis pangan sehingga pekerjaan petani itu sebenarnya tidak ada matinya,” katanya.
Untuk menarik minat generasi muda, Pemkot Batu menyiapkan pendekatan pertanian yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Salah satunya melalui pengembangan kawasan pertanian cerdas dan terpadu (Smart and Integrated Farming) di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji.
Kawasan tersebut direncanakan memanfaatkan aset Pemkot Batu seluas 2,8 hektare. Konsepnya tidak sebatas budidaya tanaman, melainkan mengintegrasikan sejumlah subsektor pertanian, mulai dari tanaman pangan, peternakan, perikanan, hingga pengolahan limbah.
Kawasan itu juga disiapkan sebagai lokasi percontohan sekaligus sarana edukasi pertanian bagi generasi muda. Teknologi akan menjadi bagian penting dalam proses produksi pertanian sehingga aktivitas di sektor agraris tidak lagi identik dengan pekerjaan konvensional semata.
Cak Nur mengatakan bahwa pembangunan fasilitas fisik ditargetkan mulai berjalan pada 2027. Penataan infrastruktur diharapkan sudah mencapai lebih dari 50 persen pada tahun tersebut. Selanjutnya, fasilitas ditargetkan mulai beroperasi secara penuh pada 2028.
“Targetnya pada 2028 sudah bisa kita operasionalkan. Fasilitas ini akan menjadi salah satu laboratorium praktik bagi anak-anak muda. Teknologi akan menjadi bagian terpenting dari proses kita bertani ke depannya sehingga hal ini bisa menjadi daya tarik utama,” tambahnya.
Konsep pertanian cerdas (smart agriculture) tersebut nantinya tidak hanya menyentuh proses budidaya. Pemanfaatan teknologi juga diarahkan hingga ke tahap pengolahan dan pemasaran hasil pertanian. Dengan begitu, pekerjaan petani diharapkan menjadi lebih efisien sekaligus mampu meningkatkan nilai tambah produk.
Langkah regenerasi ini juga diperkuat melalui program Petani Muda Berjaya. Pada 2026, program tersebut telah memasuki tahun ketiga pelaksanaannya. Pemkot Batu berharap program tersebut dapat menjadi wadah bagi anak muda untuk mengenal sekaligus mengembangkan sektor pertanian dengan pendekatan yang lebih modern.
Ia menambahkan bahwa kondisi petani yang sebagian besar telah berusia lanjut membuat regenerasi makin mendesak. Anak-anak mereka yang masuk dalam kelompok milenial dan Gen Z belum tentu memilih untuk meneruskan pekerjaan orang tua di kebun maupun sawah.
“Petani yang usianya hari ini sudah tua, anak-anaknya yang milenial dan Gen Z tentu tidak mudah jika diminta langsung masuk ke kebun maupun sawah. Maka Smart and Integrated Farming ini menjadi bagian penting dari proses regenerasi agar mereka bisa meneruskan perjuangan orang tuanya yang konsisten di dunia pertanian,” ujarnya.
Keterlibatan generasi muda dengan inovasi teknologi, lanjutnya, diharapkan mampu mendorong perubahan pola produksi hingga rantai pemasaran. Kehadiran petani milenial juga diharapkan dapat memutus stagnasi pemanfaatan lahan yang sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
“Petani milenial diharapkan mampu memutus tren negatif stagnasi lahan yang sempat terjadi dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.
Upaya tersebut sekaligus menjadi strategi Pemkot Batu dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian di tengah perkembangan pariwisata yang makin pesat. Nurochman menegaskan bahwa sektor pertanian dan pariwisata tidak harus berjalan sendiri-sendiri.
Kedua sektor tersebut justru diharapkan dapat saling menguatkan. Produk pertanian lokal dapat menjadi bagian dari daya tarik aktivitas pariwisata, sedangkan perkembangan industri wisata tetap memberikan ruang bagi keberlanjutan kehidupan petani.
Dengan demikian, generasi muda tidak hanya diarahkan menjadi pengguna teknologi semata. Mereka juga diharapkan mampu memanfaatkan teknologi untuk menghidupkan kembali sektor agraris sekaligus membuat profesi bertani lebih relevan dengan karakter generasi masa kini. (Ananto Wibowo)




