Ilustrasi vasektomi, di Kota Batu peminatnya semakin meningkat. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Kesadaran kaum pria di Kota Batu, untuk ikut bertanggung jawab dalam perencanaan keluarga, mulai menunjukkan tren positif. Hal ini ditandai dengan meningkatnya minat masyarakat, terhadap Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, mengusulkan penambahan kuota ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kesadaran kaum pria untuk ikut bertanggung jawab dalam perencanaan keluarga mulai tumbuh di Kota Batu. Hal tersebut terlihat dari meningkatnya minat masyarakat terhadap Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bahkan mengusulkan penambahan kuota peserta program tersebut. Pasalnya, alokasi yang diberikan pada tahun ini dinilai belum mampu mengakomodasi antusiasme warga yang kian meningkat.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (KB) DP3AP2KB Kota Batu, Sintinche Agustina Pamungkas, mengatakan bahwa kuota MOP yang diterima dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada awal tahun hanya untuk dua peserta. Melihat dinamika lapangan tersebut, pihaknya mengajukan tambahan dua kuota lagi melalui dukungan anggaran internal.
“Target awal dari provinsi hanya dua peserta. Kami usulkan tambahan dua kuota lagi. Jika disetujui, tahun ini total menjadi empat peserta,” ujar Sintinche, Rabu (22/7/2026).
Meski jumlahnya masih relatif kecil, menurut Sintinche, tren tersebut menjadi sinyal positif perubahan paradigma masyarakat. Saat ini, semakin banyak pria yang mulai aktif mencari informasi mengenai vasektomi melalui kader KB, penyuluh lapangan, hingga tenaga kesehatan. Warga tidak lagi memandang program keluarga berencana sebagai tanggung jawab perempuan semata.
“Sekarang peran pria dalam program KB mulai meningkat. Banyak yang datang berkonsultasi secara sukarela sebelum memutuskan untuk mengikuti program,” katanya.

Perubahan cara pandang tersebut dinilai menjadi modal penting untuk meningkatkan keterlibatan laki-laki dalam mewujudkan keluarga yang sehat dan terencana. Sebab, selama ini penggunaan alat kontrasepsi masih didominasi oleh perempuan, sedangkan partisipasi pria tergolong sangat rendah.
Selain kesadaran yang meningkat, faktor pembiayaan juga menjadi pertimbangan utama masyarakat. Prosedur vasektomi membutuhkan biaya yang tidak sedikit apabila dilakukan secara mandiri di fasilitas kesehatan swasta. Melalui program pemerintah ini, seluruh rangkaian layanan diberikan tanpa dipungut biaya, mulai dari konsultasi, skrining kesehatan, hingga tindakan medis.
“Masyarakat dapat memanfaatkan layanan ini secara gratis karena seluruh prosesnya difasilitasi penuh oleh pemerintah,” jelas Sintinche.
Secara medis, MOP merupakan metode kontrasepsi permanen bagi laki-laki yang dilakukan dengan memotong atau menutup saluran sperma sehingga tidak terjadi pembuahan. Prosedur ini diperuntukkan khusus bagi pasangan suami istri yang telah mantap tidak ingin menambah momongan.
Saat ini, sejumlah calon peserta telah masuk dalam daftar antrean dan menunggu jadwal pelaksanaan dari penyuluh KB di wilayah masing-masing. Namun, tidak semua pendaftar bisa langsung menjalani tindakan operasi.
Sintinche menegaskan bahwa setiap calon peserta wajib melalui tahapan skrining medis secara ketat guna memastikan kondisi fisiknya memenuhi syarat medis.
“Semua tetap berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan. Tidak semua calon peserta bisa langsung menjalani tindakan,” tegasnya.
Melalui penambahan kuota MOP ini, DP3AP2KB Kota Batu berharap semakin banyak pasangan usia subur yang memahami bahwa keberhasilan program keluarga berencana merupakan tanggung jawab bersama. Keterlibatan aktif pria menjadi salah satu kunci penting untuk mewujudkan keluarga yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




