DUEL: Gabriel Silva mengejar bola yang dikuasai Hansamu Yama, dalam latihan rutin untuk persiapan Piala Presiden 2026. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Arema FC memutuskan menjadikan laga penyisihan Grup A Piala Presiden 2026 di Bandung, sebagai ajang uji coba (trial) utama untuk mematangkan taktik dan adaptasi 10 pemain baru jelang kompetisi Super League 2026/2027, sebagaimana disampaikan General Manager M. Yusrinal Fitriandi di Kota Malang pada Selasa (21/7/2026).
Rencana awal Arema FC berantakan total. Tapi manajemen Singo Edan justru tersenyum lega.
Sebelumnya, manajemen sudah menyiapkan dua skenario uji coba pramusim yang mentereng. Skenario pertama: menggelar laga persahabatan internasional format home and away melawan klub papan atas Thailand, Filipina, atau Malaysia.
Skenario kedua: menggelar turnamen trofeo di Stadion Kanjuruhan dengan mengundang tim kuat Persija Jakarta dan Bali United.
Semua agenda mandiri itu mendadak dicoret dari papan tulis. Kepastian bergulirnya Piala Presiden 2026 menjadi penyebabnya.
“Seluruh rencana uji coba awal akhirnya kami batalkan setelah ada kepastian penyelenggaraan Piala Presiden.”
“Karena tujuannya sama, kami memutuskan fokus berpartisipasi di turnamen ini,” tegas General Manager Arema FC, M. Yusrinal Fitriandi, Selasa (21/7/2026) di Kota Malang.
Bagi pria yang akrab disapa Inal itu, Piala Presiden 2026 di Bandung bukan sekadar panggung perburuan gelar. Laga penyisihan Grup A dijadikan ajang eksperimen utama (trial) untuk mematangkan komposisi tim sebelum sepak mula kompetisi resmi Super League 2026/2027 bergulir.
Ekspektasi Aremania jelas tinggi. Maklum, Arema FC adalah penguasa takhta pramusim—klub kolektor trofi Piala Presiden terbanyak di tanah air. Tuntutan membawa pulang piala selalu menggema di garis tepi.
Namun, manajemen dan tim pelatih memilih berkepala dingin. Mereka bersikap realistis.
“Gelar juara di pramusim sejatinya bukan target utama kami. Fokus utamanya adalah persiapan menuju liga. Tapi kalau tim mampu tampil maksimal dan kembali mengamankan trofi juara, tentu itu menjadi bonus yang sangat berharga,” pangkas Inal.
Di ruang ganti, pelatih kepala Arema FC, Marcos Santos, sepakat dengan pandangan manajemen. Dia tidak mau anak asuhnya terbebani oleh bayang-bayang sejarah manis masa lalu.
Fokus utama Marcos Santos saat ini adalah mematangkan taktik, menggembleng fisik, dan membangun kekompakan tim (chemistry).
Apalagi, wajah skuad Singo Edan musim ini berubah drastis. Ada 10 pemain anyar yang baru didatangkan untuk mengarungi musim 2026/2027, ditambah satu analis tim baru di jajaran kepelatihan.
Bagi Marcos, Piala Presiden di Bandung adalah laboratorium tempat menyatukan pemikiran para pemain lama dan pemain baru.
“Turnamen ini penting bagi kami. Kami tahu Arema adalah tim yang paling banyak memenangkan Piala Presiden. Tapi saya tegaskan, kami akan menggunakan turnamen ini sebagai persiapan menghadapi Super League,” ujar Marcos Santos.
Tantangan terbesar Marcos ada pada adaptasi pemain asing baru yang belum pernah merasakan sengatan atmosfer sepak bola Indonesia. Laga pramusim berintensitas tinggi ini akan menjadi ujian instan bagi mereka.
“Pertandingan-pertandingan di Bandung akan menjadi informasi awal bagi para pemain baru, baik lokal maupun asing. Ini membantu mereka beradaptasi lebih cepat dengan karakter permainan Arema,” tambah sang juru taktik.
Pesan manajemen ke tim pelatih sudah bulat: manfaatkan setiap menit pertandingan di Grup A secara maksimal.
A
Siap tempur, bongkar pasang strategi, cari bentuk permainan terbaik, dan jika trofi bisa dibawa pulang ke Malang—anggap saja itu hadiah bonus dari kerja keras. (Ra Indrata)




