MALANG POST – Tiga mahasiswi Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM), sukses menuntaskan riset mendalam mengenai rekonstruksi sejarah warisan budaya George Town di Penang, Malaysia. Melalui payung program UM Global Immersion Experience (UM GIE), yang berlangsung pada 2–9 Juli 2026. Delegasi Kampus Rujukan ini berhasil memproduksi tiga esai ilmiah bertema “Nusantarisasi” di bawah bimbingan langsung pakar Centre of Policy Research (CPR) Universiti Sains Malaysia (USM) guna mendukung capaian global Sustainable Development Goals (SDGs).
Universitas Negeri Malang (UM) kembali memperkuat taji di kancah internasional melalui program UM Global Immersion Experience (UM GIE). Kali ini, tiga mahasiswi dari Program Studi Pendidikan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial (FIS) UM, sukses menuntaskan riset mendalam mengenai aspek sosiologis dan sejarah warisan budaya George Town di Penang, Malaysia.
Agenda riset internasional ini dikemas dalam International Internship Programme yang difasilitasi oleh Centre of Policy Research (CPR), Universiti Sains Malaysia (USM) pada 2–9 Juli 2026. Lewat serangkaian observasi lapangan, wawancara mendalam, hingga analisis data makro, mereka berhasil mempresentasikan temuan ilmiahnya di forum akademik internasional.
Angkat Narasi ‘Nusantarisasi’ di Tanah Penang
Ketiga mahasiswi berprestasi tersebut adalah Rihlah Khoirunnisa’, Salsabila Almira Andria, dan Inayah Amalia Taufani. Mereka menyoroti tema besar Nusantara-ization of Penang Heritage Discourse, sebuah konsep orisinal yang membedah keterikatan sejarah dan sosiokultural yang erat antara Nusantara dan situs Warisan Dunia UNESCO di George Town.
Selama sepekan penuh, ketiganya menelusuri sudut-sudut kota Penang untuk memproduksi tiga esai ilmiah dengan fokus lokus yang berbeda:
- Esai 1: The Erased Kampung: Empty Heritage of the Javanese Landscape of Jalan Kampung Jawa Baru in the Buffer Periphery (Near Buffer Zone) of George Town World Heritage Site (GTWHS).
- Esai 2: When Heritage Loses Its Memory: Reading the “Empty Heritage” of the Syed Alatas Mansion through the Lens of “Nusantarization” at the George Town UNESCO World Heritage Site.
- Esai 3: Saving Kampung Makam: Protecting Wakaf Land and Traditional Stilted Houses from Modern Development in George Town.
Secara garis besar, karya ilmiah kolaboratif mereka mengkritisi isu pelestarian warisan budaya, pergeseran identitas lokal, serta tantangan modernisasi tata kota di kawasan bersejarah tersebut.
Bimbingan Pakar dan Kesiapan Metodologi
Keberhasilan riset ini tidak lepas dari arahan dan bimbingan intensif Associate Professor Dr. Mohamad Reevany Bustami. Seorang pakar dari CPR USM tersebut bertindak sebagai mentor utama di lapangan. Sebelum terjun langsung melakukan observasi, para mahasiswa telah dibekali pelatihan metodologi penelitian secara daring (online) pada 22–24 Juni 2026 demi mematangkan desain riset mereka.
Dr. Mohamad Reevany Bustami memberikan apresiasi tinggi atas kegigihan dan ketajaman analisis mahasiswa UM dalam mengolah data di lapangan. Ia berharap riset ini menjadi pemantik awal bagi studi sejarah regional berbasis pendekatan Nusantarisasi.
“Saya berharap apa yang mereka pelajari di sini dan pengalaman empiris yang mereka dapatkan di Penang menjadi awal lahirnya peneliti-peneliti muda yang berani membawa perspektif Nusantara ke forum akademik internasional,” tutur Dr. Mohamad Reevany.
Selain melakukan penelitian mandiri, para mahasiswa juga dilibatkan aktif dalam seminar akademik serta diskusi tesis bersama mahasiswa pascasarjana CPR USM untuk merasakan langsung atmosfer akademik di jenjang studi yang lebih tinggi.
Bagi Rihlah Khoirunnisa’, salah satu delegasi mahasiswa UM, program ini memberikan perspektif global baru yang tidak didapatkan di bangku kuliah reguler.
“Melalui program ini, kami belajar bahwa penelitian bukan hanya tentang mengumpulkan data, melainkan juga memahami bagaimana sejarah, budaya, dan kehidupan masyarakat saling terhubung secara nyata. Kami juga belajar melihat warisan budaya dari perspektif yang lebih luas, sekaligus memahami bahwa Indonesia dan Malaysia memiliki banyak jejak sejarah yang saling berkaitan. Pengalaman ini membuat kami semakin percaya diri untuk menghasilkan penelitian yang mampu berkontribusi di tingkat internasional,” papar Rihlah.
Kolaborasi strategis antara UM dan USM ini menjadi bukti nyata komitmen universitas dalam melahirkan lulusan yang adaptif dan berwawasan global. Langkah ini juga selaras dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain:
- SDG 4 (Pendidikan Berkualitas): Menyediakan pembelajaran berbasis pengalaman internasional yang transformatif bagi mahasiswa.
- SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan): Berkontribusi nyata pada studi pelestarian budaya dan perlindungan kawasan bersejarah.
- SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan): Memperkuat sinergi akademik dan riset transnasional antar-perguruan tinggi di Asia Tenggara.
(M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




