MALANG POST – Upaya Kota Batu untuk mengukuhkan diri sebagai kota kreatif terus dipacu. Kali ini, Pemkot Batu mengajak seluruh elemen masyarakat berpartisipasi dalam Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia (PMK3I) 2026.
Partisipasi publik tersebut menjadi salah satu tahapan penting untuk memperkuat posisi Kota Batu menuju predikat Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif) Indonesia, sekaligus mempertegas identitas daerah sebagai kawasan Batu Agrokreatif.
Program yang digagas oleh Kementerian Ekonomi Kreatif itu tidak sekadar menjadi ajang penilaian. Lebih dari itu, PMK3I menjadi instrumen untuk memetakan kekuatan, peluang, hingga tantangan yang dimiliki daerah dalam mengembangkan ekosistem ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
Wali Kota Batu, Nurochman, menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam proses penilaian. Sebab, data yang diisi melalui borang survei akan menjadi dasar pemerintah dalam memotret kondisi riil ekonomi kreatif di Kota Batu.
“Ayo dukung Kota Batu dalam KaTa Kreatif Indonesia. Kami mengajak seluruh pelaku ekonomi kreatif, seniman, UMKM, petani, komunitas, akademisi, pelaku pariwisata, media, pelajar, hingga seluruh warga Kota Batu untuk berpartisipasi mengisi borang survei PMK3I 2026,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, setiap isian survei memiliki arti penting karena akan menjadi pijakan dalam menyusun arah kebijakan pengembangan ekonomi kreatif daerah. Mulai dari sektor unggulan, kebutuhan pelaku usaha kreatif, hingga peluang kolaborasi lintas sektor dapat dipetakan melalui data tersebut.

PRODUK LOKAL: Menteri Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya bersama Wali Kota Batu, Nurochman saat melihat hasil dari kreatifitas pelaku ekonomi kreatif lokal beberapa waktu lalu, kini Kota Batu membidik KaTa Kreatif Indonesia. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
“Setiap isian survei menjadi bagian penting dari pemetaan potensi ekonomi kreatif Kota Batu sebagai langkah menuju KaTa Kreatif Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem Batu Agrokreatif,” tambahnya.
Optimisme itu bukan tanpa alasan. Kota Batu dinilai memiliki modal besar untuk berkembang sebagai kota kreatif. Selain dikenal sebagai sentra pertanian hortikultura, kota ini juga memiliki kekuatan di sektor pariwisata, kuliner, seni budaya, industri kreatif berbasis UMKM, serta inovasi produk olahan hasil pertanian yang terus berkembang.
Potensi tersebut didukung oleh tumbuhnya komunitas kreatif, pelaku usaha muda, pekerja kreatif, akademisi, serta masyarakat yang aktif melahirkan berbagai inovasi. Seluruh kekuatan itu diharapkan dapat saling terhubung untuk membangun ekosistem agro, budaya, dan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Karena itu, Pemkot Batu mendorong kolaborasi seluruh unsur pentahelix bahkan hexahelix, mulai dari pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, hingga masyarakat luas.
“Partisipasi aktif seluruh komponen ini menjadi bukti komitmen bersama agar Kota Batu masuk dalam ekosistem Kota Kreatif nasional. Mari kita bersinergi,” tegas Nurochman.
Pemkot Batu membuka kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk ikut mengisi borang PMK3I secara daring. Survei dapat diakses melalui laman https://ekr.af/borang-pmk3i dan dibuka hingga 15 Juli 2026. Data yang terkumpul nantinya akan menjadi dasar penyusunan kebijakan, fasilitasi program, sekaligus penguatan ekosistem ekonomi kreatif agar Kota Batu semakin kompetitif di tingkat nasional. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




