Ilustrasi Pelayanan KB, tahun ini Kota Batu menargetkan sebanyak 1.497 akseptor baru. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Pemerintah Kota Batu, melalui DP3AP2KB menargetkan penambahan 1.497 akseptor keluarga berencana (KB) baru sepanjang 2026. Setelah jumlah peserta KB aktif, terus menurun hingga tersisa 25.231 orang per Maret 2026. Target tersebut ditempuh dengan memperkuat layanan kontrasepsi di rumah sakit, puskesmas, hingga bidan desa, sekaligus mengintensifkan edukasi kepada masyarakat untuk mengembalikan partisipasi program KB.
Program keluarga berencana (KB) di Kota Batu menghadapi tantangan baru. Jumlah peserta aktif belum mampu kembali ke level sebelumnya. Karena itu, Pemkot Batu memasang target ambisius: menambah 1.497 akseptor baru sepanjang 2026 agar laju penurunan partisipasi dapat ditekan.
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu menunjukkan tren penurunan berlangsung dalam setahun terakhir. Pada Januari 2025 tercatat 26.194 peserta KB aktif. Jumlah tersebut turun menjadi 25.515 peserta pada akhir 2025, lalu kembali menyusut menjadi 25.231 peserta per Maret 2026. Dengan demikian, selama sekitar 14 bulan jumlah peserta aktif berkurang 963 akseptor.
Kepala DP3AP2KB Kota Batu, Heru Yulianto, mengatakan penurunan memang tidak terjadi secara drastis, tetapi berlangsung konsisten sehingga perlu mendapat perhatian serius. Sebab, program KB berperan penting dalam pengendalian pertumbuhan penduduk sekaligus peningkatan kualitas keluarga.
“Sebagai respons, Pemkot Batu menargetkan penambahan 1.497 akseptor baru pada 2026. Target itu juga selaras dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur,” ujar Heru, Minggu (5/7/2026).
Heru menjelaskan, metode kontrasepsi jangka panjang masih menjadi prioritas. Pemerintah menargetkan 800 akseptor implan, 630 akseptor Intrauterine Device (IUD), 65 akseptor Metode Operasi Wanita (MOW), serta 2 akseptor Metode Operasi Pria (MOP).
Target tersebut memang lebih rendah dibanding capaian tahun lalu yang mencapai 1.827 akseptor baru. Meski demikian, pemerintah memastikan berbagai upaya terus dilakukan agar minat masyarakat mengikuti program KB kembali meningkat.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperkuat jaringan pelayanan kesehatan. Pemkot Batu bekerja sama dengan sejumlah rumah sakit dan tenaga kesehatan hingga tingkat desa agar akses layanan kontrasepsi semakin mudah dijangkau masyarakat.
“Ada sekitar lima rumah sakit yang bekerja sama, termasuk Hasta Brata, Baptis, dan RS Punten,” jelas Heru.
Selain rumah sakit, peran bidan desa juga diperkuat. Mereka tidak hanya memberikan konsultasi, tetapi juga dibekali alat kontrasepsi sehingga pelayanan dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih besar.
Di sisi lain, edukasi kepada masyarakat terus diperluas melalui program Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Sosialisasi dilakukan lebih intensif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga.
“Selain penguatan layanan, kami juga mengintensifkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE). Sosialisasi dilakukan lebih masif untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya perencanaan keluarga,” kata Heru.
Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DP3AP2KB Kota Batu, Sintinche Agustina Pamungkas, menambahkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi fokus. Kader, penyuluh lapangan, dan bidan rutin mendapatkan pelatihan agar kualitas pelayanan terus meningkat.
“Pemerintah juga memberikan pendampingan menyeluruh, mulai dari tahap skrining calon akseptor hingga pemasangan alat kontrasepsi,” ujarnya.
Bahkan, untuk metode kontrasepsi tertentu, pemerintah menyediakan dukungan berupa fasilitas transportasi dan konsumsi guna mempermudah masyarakat mengikuti layanan KB.
Meski berbagai strategi telah dijalankan, penyebab turunnya partisipasi KB masih terus dievaluasi. Pemerintah menilai faktor penyebabnya cukup kompleks, mulai dari pilihan setiap keluarga, perubahan pola pikir masyarakat, hingga dinamika sosial yang terus berkembang.
Dengan penguatan layanan kesehatan, peningkatan edukasi, serta pendampingan yang lebih intensif, Pemkot Batu optimistis target 1.497 akseptor baru dapat tercapai sekaligus mengembalikan tren partisipasi program KB.
“Target akseptor baru harus tercapai agar pengendalian penduduk tetap terjaga,” tegas Sintinche. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




