MALANG POST – Program Keluarga Berencana (KB) di Kota Batu menghadapi tantangan baru. Dalam setahun terakhir, jumlah peserta KB aktif menyusut 761 orang. Pemerintah menilai penurunan itu dipengaruhi perubahan perencanaan keluarga, pelepasan alat kontrasepsi, hingga munculnya fenomena sosial seperti childfree yang mulai memengaruhi cara pandang sebagian masyarakat terhadap kehidupan berkeluarga.
Semakin banyak pasangan di Kota Batu memutuskan berhenti menggunakan alat kontrasepsi. Sebagian ingin kembali memiliki anak. Sebagian lainnya dipengaruhi perubahan cara pandang terhadap kehidupan berkeluarga. Dampaknya mulai terlihat pada angka kepesertaan program Keluarga Berencana (KB) yang terus menurun.
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu menunjukkan, jumlah peserta KB aktif turun dari 26.194 orang pada Januari 2025 menjadi 25.433 peserta pada Januari 2026, lalu kembali menyusut menjadi 25.231 peserta pada Maret 2026. Artinya, dalam kurun setahun jumlah akseptor aktif berkurang 761 orang.
Kepala DP3AP2KB Kota Batu, Heru Yulianto, mengatakan tren tersebut berlangsung secara konsisten sejak tahun lalu dan bukan sekadar penurunan sesaat.
“Per Maret 2026 tinggal 25.231 peserta. Artinya, tren penurunan memang berulang sejak tahun lalu,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Jumlah pasangan usia subur (PUS) di Kota Batu saat ini mencapai 35.703 pasangan. Dengan 25.231 peserta aktif, tingkat partisipasi KB masih berada di kisaran 70 persen. Meski demikian, penurunan jumlah peserta tetap menjadi perhatian karena program KB merupakan salah satu instrumen penting dalam mengendalikan pertumbuhan penduduk sekaligus meningkatkan kualitas keluarga.
Heru menjelaskan, penurunan kepesertaan dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya keputusan pasangan untuk menghentikan penggunaan kontrasepsi karena ingin menambah anak. Faktor kematian peserta dan pengaruh sosial budaya juga ikut memengaruhi.
“Masih ada pandangan tertentu di masyarakat yang membuat pasangan enggan menggunakan kontrasepsi,” katanya.

KEPALA Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, Heru Yulianto. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Ia memastikan penurunan tersebut bukan disebabkan keterbatasan layanan kesehatan. Menurutnya, pelayanan KB di Kota Batu telah menjangkau hampir seluruh wilayah melalui rumah sakit, puskesmas, hingga bidan desa.
Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AP2KB Kota Batu, Sintinche Agustina Pamungkas, mengatakan metode kontrasepsi implan masih menjadi pilihan yang paling banyak digunakan masyarakat.
Selain memiliki tingkat efektivitas tinggi, implan dinilai praktis karena dapat dilepas sewaktu-waktu ketika pasangan kembali merencanakan kehamilan.
“Implan bisa dilepas kapan saja jika pasangan ingin kembali merencanakan kehamilan,” ujarnya.
Menurutnya, metode kontrasepsi modern masih lebih banyak dipilih dibanding metode tradisional karena lebih efektif mencegah kehamilan. Mayoritas pengguna KB berasal dari kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 40 tahun, dengan rata-rata telah memiliki satu hingga dua anak.
Di sisi lain, DP3AP2KB mulai mencermati perubahan pola pikir generasi muda yang berpengaruh terhadap keberlanjutan program KB. Fenomena childfree, meningkatnya kekhawatiran terhadap beban ekonomi keluarga, hingga keraguan membangun rumah tangga menjadi dinamika baru yang perlu direspons pemerintah.
“Sekarang ada dinamika baru di masyarakat. Ini yang harus dipahami agar program tetap tepat sasaran dan sesuai tujuan,” kata Sintinche.
DP3AP2KB memastikan evaluasi akan terus dilakukan untuk menahan laju penurunan peserta KB aktif. Pemerintah menilai pendekatan yang lebih adaptif, edukatif, dan sesuai perkembangan sosial menjadi kunci agar program keluarga berencana tetap relevan sekaligus mampu mewujudkan keluarga kecil yang sehat, sejahtera, dan berkualitas. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




