MALANG POST – Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdi, memimpin upacara khidmat laporan kenaikan pangkat massal bagi 74 personel jajaran Polres Malang terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Juli 2026 di Lapangan Apel Mako Polres Malang, Jumat (3/7/2026) pagi. Agenda sakral Korps Bhayangkara yang ditutup dengan tradisi siraman air bunga ini digulirkan sebagai wujud penghargaan institusi atas dedikasi anggota sekaligus penegasan komitmen peningkatan kualitas pelayanan publik di Bhumi Arema.
Di dalam dunia militer dan kepolisian, pundak adalah simbol. Begitu helai kain di pundak bertambah satu garis atau satu bintang, seketika itu pula beban hidup dan tanggung jawab profesionalisme melejit ke atas. Naik pangkat bukan tempat untuk berleha-leha. Justru menjadi gerbang pembuktian kerja yang jauh lebih berat.
Hukum prestasi itulah yang kemarin dirayakan di Lapangan Apel Mako Polres Malang.
Jumat (3/7) pagi, suasana markas komando tampak rapi. Barisan personel berjejer tegap di bawah cuaca cerah Kepanjen. Kapolres Malang AKBP Muhammad Taat Resdi berdiri tegak di podium utama, memimpin langsung upacara kenaikan pangkat periode TMT 1 Juli 2026. Total ada 74 personel yang menerima anugerah kilap pangkat baru tersebut.
Rincian gerbongnya padat, menyentuh hampir seluruh lapisan pangkat. Di level perwira, terdapat satu personel dari AKP melesat ke posisi Kompol melalui jalur pengabdian. Menyusul satu personel Iptu naik kelas ke AKP, serta satu personel Ipda menjadi Iptu.
Sementara di barisan bintara, pergeseran paling masif terjadi pada korps Aipda ke Aiptu yang menembus 35 personel. Diikuti 18 personel Bripka ke Aipda, dua personel Brigpol ke Bripka, serta masing-masing delapan personel di jalur Briptu ke Brigpol dan Bda ke Briptu.

Begitu rangkaian upacara formal rampung ketuk palu, suasana formal mendadak cair menjadi haru. Ritual tradisi digulirkan.
Satu per satu personel yang beruntung diguyur dengan siraman air bunga. Wangi. Segar. Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar urusan membasahi baju seragam, melainkan sebuah simbolisasi mendalam: rasa syukur komunal sekaligus simbol pembersihan diri untuk menyongsong semangat baru di lembaran tugas yang baru.
Bagi AKBP Taat Resdi, kenaikan tingkat ini tidak boleh diartikan secara sempit sebagai hadiah masa dinas semata. Itu cara pandang yang keliru.
Institusi memberikan penghargaan karena melihat ada keringat dedikasi dan loyalitas yang tumpah selama bertugas. Konsekuensi logisnya, kualitas pelayanan kepada masyarakat kecil wajib ikut terkerek naik. Harus lebih peka. Lebih responsif.
“Kenaikan pangkat adalah bentuk kepercayaan dan penghargaan institusi atas dedikasi yang telah ditunjukkan. Saya berharap setiap personel menjadikan momentum ini sebagai motivasi untuk terus meningkatkan profesionalisme, integritas, dan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” tegas AKBP Taat, Jumat (3/7).
Perwira dengan dua melati di pundak ini mengingatkan, semakin tinggi anak tangga kepangkatan yang diduduki, semakin besar pula sorotan mata publik. Disiplin diri harus diperketat, loyalitas pada garis komando tidak boleh goyang, dan etika profesi wajib dijunjung setinggi langit. Anggota dituntut hadir di tengah warga secara humanis tanpa kehilangan ketegasan profesionalnya.
“Dengan pangkat yang baru, tanggung jawab juga semakin besar. Jadikan kebanggaan ini sebagai penyemangat untuk terus bekerja secara profesional, humanis, dan memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya.
Upacara parade sudah selesai digelar, air bunga di lapangan apel sudah mengering, dan tanda pangkat baru sudah melekat mengkilap di jersi dinas. Sekarang tinggal 74 personel Polres Malang ini ditantang di lapangan: sanggupkah tanda pangkat baru ini langsung dikonversi menjadi akselerasi pelayanan publik yang bebas pungli dan ramah warga mulai esok hari? Kita lihat kiprah nyata mereka di jalanan. (HmsResma / Ra Indrata)




