Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
MALANG POST – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) 2026 di Kota Batu, tidak lagi diposisikan sekadar sebagai kegiatan menyambut siswa baru. Dinas Pendidikan Kota Batu mengarahkan seluruh sekolah menjadikan MPLS sebagai ruang pembentukan karakter, penguatan literasi digital, kepedulian lingkungan, serta pencegahan perundungan melalui konsep SAE (Santun, Aktif, Edukatif) yang selaras dengan visi pembangunan mBatu SAE.
Hari pertama sekolah sering menjadi momen yang paling diingat seorang siswa. Pengalaman itu bisa menjadi kenangan yang menyenangkan atau justru meninggalkan trauma. Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Batu ingin memastikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ini benar-benar menjadi awal yang baik bagi peserta didik.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menegaskan pelaksanaan MPLS harus sejalan dengan semangat mBatu SAE, yakni Sinergis, Akomodatif, dan Ekologis. Menurutnya, nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam dunia pendidikan.
“MPLS di Kota Batu tahun ini bisa menjadi momentum luar biasa untuk membangun pondasi karakter siswa baru,” ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Konsep SAE kemudian diterjemahkan lebih dekat dengan dunia pendidikan. Dalam bahasa Jawa, sae berarti baik. Alfi mengembangkannya menjadi tiga nilai utama, yakni Santun, Aktif, dan Edukatif.
Formula itu, menurutnya, menjadi landasan agar MPLS benar-benar memberi pengalaman positif sekaligus menghapus stigma perpeloncoan yang selama ini masih melekat pada kegiatan pengenalan sekolah.
“Mengusung konsep SAE, kegiatan ini harus diarahkan agar benar-benar berdampak positif dan jauh dari kesan perpeloncoan. Ini formula untuk mewujudkan MPLS yang SAE, baik, dan produktif di Kota Batu,” tegasnya.
Alfi menjelaskan, nilai Santun diwujudkan melalui pembentukan karakter dan budi pekerti. Siswa diajak memahami etika berkomunikasi, menghormati orang tua dan guru, menghargai teman, serta mengenal budaya lokal Kota Batu yang menjunjung sopan santun.

Sementara itu, nilai Aktif mendorong siswa berani bertanya, menyampaikan pendapat, mengenali potensi diri, serta mulai beradaptasi dengan organisasi dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
Adapun aspek Edukatif menegaskan seluruh aktivitas MPLS harus memiliki tujuan pembelajaran yang jelas. Tidak boleh ada kegiatan yang mempermalukan siswa atau sekadar menjadi hiburan tanpa manfaat.
“Setiap permainan maupun materi wajib memiliki output pembelajaran,” katanya.
Disdik Kota Batu juga mendorong sekolah memperkenalkan potensi lokal melalui MPLS. Sebagai daerah yang dikenal dengan sektor pariwisata, pertanian, dan ekonomi kreatif, Kota Batu dinilai memiliki banyak sumber belajar yang dapat diintegrasikan ke dalam kegiatan pengenalan sekolah.
Siswa baru, misalnya, dapat diajak memahami pengelolaan sampah, membiasakan memilah sampah di sekolah, hingga membuat proyek sederhana yang berkaitan dengan agrowisata atau sejarah Kota Batu.
Di sisi lain, literasi digital menjadi perhatian utama. Alfi menegaskan MPLS bukan ruang untuk melarang penggunaan gawai, melainkan mengajarkan pemanfaatan teknologi secara produktif.
Sekolah didorong mengenalkan platform pembelajaran digital yang digunakan sekaligus memberikan edukasi mengenai etika bermedia sosial, termasuk kampanye menghentikan cyberbullying.
“Mengenalkan platform belajar digital yang digunakan sekolah, serta edukasi stop cyberbullying dan bijak bermedia sosial,” ujarnya.
Tak hanya itu, Disdik Kota Batu juga meminta sekolah memberi perhatian pada kesehatan mental siswa. Masa transisi menuju lingkungan belajar baru kerap memunculkan kecemasan, tekanan sosial, hingga rasa kurang percaya diri.
Karena itu, materi mengenai pencegahan intoleransi, anti-perundungan, pencegahan kekerasan seksual, pentingnya menjaga kesehatan fisik, serta menciptakan lingkungan sekolah yang bersih harus menjadi bagian dari MPLS.
Agar seluruh konsep berjalan optimal, Alfi meminta panitia, baik guru maupun pengurus OSIS, bekerja secara terstruktur. Materi harus mengacu pada regulasi Kemendikbudristek, kakak pendamping dibekali terlebih dahulu agar menjadi pembimbing, bukan sosok yang ditakuti, serta menghapus seluruh tugas yang tidak masuk akal dan membebani orang tua.
“Coret semua tugas yang tidak masuk akal, seperti membawa barang aneh yang justru menyulitkan orang tua,” tegasnya.
Pelaksanaan MPLS juga diharapkan berlangsung interaktif dengan pendekatan sersan atau serius tetapi santai, dipadukan dengan aktivitas luar ruang untuk membangun kerja sama antarsiswa.
Di akhir kegiatan, setiap peserta diminta melakukan refleksi terhadap pengalaman dan pelajaran yang diperoleh selama MPLS.
Alfi optimistis, dengan dukungan sekolah, orang tua, dan Dinas Pendidikan, MPLS di Kota Batu tidak hanya menjadi pintu masuk ke lingkungan sekolah baru, tetapi juga menjadi langkah awal mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, adaptif terhadap perkembangan teknologi, peduli lingkungan, dan siap berkontribusi bagi pembangunan daerah. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




