Merti Bumi di Desa Tulungrejo. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Wali Kota Batu Nurochman bersama Wakil Wali Kota Heli Suyanto, menghadiri prosesi ritual adat sakral Merti Bumi yang digelar serentak di dua wilayah sentra pertanian, yakni Desa Tulungrejo dan Desa Bumiaji, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, akhir pekan kemarin. Langkah pembagian tugas jajaran pimpinan daerah ini dilakukan, sebagai bentuk dukungan konkret pemerintah terhadap pelestarian warisan budaya leluhur, sekaligus menandai peringatan hari jadi ke-100 (satu abad) Desa Tulungrejo di tengah derasnya arus modernisasi kota wisata.
Memodernisasi sebuah kota itu urusan mudah. Tinggal datangkan investor, bangun hotel mewah, lalu buka tempat wisata baru. Tapi merawat jiwa dan akar tradisi masyarakatnya di tengah gempuran modernisasi, itu tantangan kelas berat.
Kota Batu rupanya enggan kehilangan jati diri. Di bawah kepungan gemerlap industri pariwisata, denyut nadi tradisi agraria justru terbukti masih berdetak sangat kencang.
Akhir pekan kemarin, atmosfer rasa syukur meledak di Kecamatan Bumiaji. Dua desa serentak menggelar ritual Merti Bumi: Desa Tulungrejo dan Desa Bumiaji. Isinya padat. Mulai dari ritual sakral, kirab hasil panen yang mengular di jalanan, hingga doa bersama. Warga diingatkan kembali pada kodrat mereka: merawat bumi yang memberi makan.
Pucuk pimpinan daerah sampai harus berbagi tugas. Wali Kota Batu Nurochman—akrab disapa Cak Nur—merapat ke Balai Desa Tulungrejo untuk prosesi Atur Pisungsun. Sementara Wakil Wali Kota Heli Suyanto bergeser ke Rest Area Desa Bumiaji guna mengawal Kirab Tumpeng dan Pawai Murak Berkat.
Di Tulungrejo, suasananya jauh lebih emosional. Merti Bumi tahun ini bertepatan dengan usia desa yang genap menyentuh angka satu abad. Satu generasi emas. Mengusung tema filosofis Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti, warga dari lima dusun turun ke jalan. Mereka menggotong gunungan buah dan sayur segar hasil petikan ladang sendiri. Simbol kemakmuran atas berkah Tuhan.

Cak Nur memanfaatkan momen satu abad ini untuk melempar pesan penting. Baginya, kebudayaan warisan leluhur bukanlah tontonan seremonial yang kaku untuk turis semata. Kebudayaan adalah benteng terakhir.
“Identitas budaya leluhur kita menjadi tameng yang kuat untuk membentengi generasi penerus dari dampak negatif perkembangan zaman yang semakin cepat,” tegas Cak Nur.
Momen paling magis terjadi saat Cak Nur dan Heli menerima sesembahan bumi. Keduanya lalu menuangkan air suci dari Dusun Wonorejo ke dalam wadah Kendhi Agung, bercampur dengan air dari lima dusun lainnya. Ritual ini merupakan simbol pemersatu, harmoni sosial, dan ikrar bersama untuk tidak merusak alam.
Nuansa syukur yang sama juga tumpah ruah di Desa Bumiaji. Ratusan warga menyemut mengikuti Kirab Tumpeng. Hasil bumi diarak sebagai doa bersama agar musim tanam berikutnya tanah tetap subur dan dijauhkan dari gagal panen.
Heli Suyanto yang hadir didampingi Ketua Perwosi Kota Batu, Ridha Heli Suyanto, menatap tajam potensi ini. Bumiaji adalah jantung dan lumbung pertanian Kota Batu. Maka, perhatian pemerintah tidak boleh bergeser dari urusan kesejahteraan para petani bawah.
“Semoga masyarakat Bumiaji selalu diberikan rezeki yang berkah, hasil tanamannya semakin baik, dan saat dipasarkan memperoleh harga yang tinggi,” harap Heli. Acara di Bumiaji kemudian dipungkasi dengan doa lintas tokoh, tradisi gotong royong murak berkat, dan pemotongan tumpeng utama.
Dua desa bergerak bersama dalam satu pesan ekologi yang sama. Maju menjadi kota modern bukan berarti harus durhaka dan mengubur akar sejarah. Justru dari tanah yang dihormati dan tradisi yang dirawat itulah, kemakmuran Kota Batu tetap terjaga. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




