MALANG POST – Kawasan wisata Songgoriti, Kota Batu, sempat punya cerita pilu: lesu dan mulai ditinggalkan pelancong yang beralih ke wahana modern. Namun, ketika tradisi lokal digetarkan kembali, kawasan legendaris di kaki Gunung Banyak ini mendadak hidup lagi. Ramai luar biasa.
Senjatanya adalah Kirab Bantengan Empu Supo. Sebuah ritual Suroan tahunan yang menjelma menjadi magnet pariwisata raksasa.
Dampaknya langsung terasa ke dompet masyarakat bawah. Saat kirab budaya ini digelar, hampir 60 persen kamar penginapan dan vila di Songgoriti ludes disewa pelancong. Mayoritas dari mereka adalah wisatawan domestik asal luar Malang Raya yang sengaja datang demi menyaksikan magisnya amukan kesenian bantengan.
Geliat ekonomi berbasis budaya ini dibedah tuntas dalam program talk show Idjen Talk yang disiarkan langsung oleh Radio City Guide 911 FM pada Kamis (25/6/2026). Otoritas dinas, seniman panggung, hingga akademisi kepariwisataan blak-blakan meracik formula agar tradisi ini tidak mati digilas zaman.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kota Batu, Muhammad Hartoto, menegaskan komitmennya untuk menjaga kesenian ini agar tidak sekadar menjadi tontonan musiman. Payung perlindungannya sudah kokoh.
”Kesenian Bantengan telah resmi diakui negara sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Di Kota Batu sendiri, saat ini ada lebih dari 70 kelompok bantengan yang aktif berkembang. Tugas kami sekarang adalah melakukan pembinaan, pelestarian, dan pemberdayaan SDM-nya secara berkelanjutan,” urai Hartoto.
Kemasan Modern Tanpa Kehilangan Ruh
Di garis depan kebudayaan, para seniman rupanya sudah melek industri. Mereka sadar, jika ingin memikat turis milenial dan mancanegara, tradisi lama harus diberi sentuhan baru.
Udik Arianto, seorang seniman bantengan Kota Batu, membeberkan taktiknya. Pertunjukan bantengan kini mulai dikawinkan dengan aransemen musik modern yang lebih dinamis serta pengemasan atraksi yang teatrikal. Namun, ruh esensi nilai budayanya tetap dijaga sakral.
”Kami juga tidak mau berjalan sendiri. Kami menggandeng para pemandu wisata (tour guide) untuk menjual paket wisata komplet. Isinya menarik: ada promo tiket penginapan, kuliner makanan khas lokal, dan tempat duduk premium untuk menonton pertunjukan bantengan,” jelas Udik.
Rumus Sukses Segitiga Pariwisata
Langkah kreatif para seniman dan Pemkot Batu ini dinilai sudah memenuhi syarat ilmiah dalam industri pelesiran. Wakil Ketua 1 Program Diploma Kepariwisataan Universitas Merdeka (UNMER) Malang, Dr. Fitria Earlike Anwar Sani, menjatuhkan rapor hijau untuk ekosistem Bantengan Songgoriti.
Menurut Earlike, kesenian ini sukses karena mampu mengawinkan tiga hukum utama pariwisata: something to see, something to do, dan something to buy.
”Sisi something to see-nya jelas, penonton dimanjakan oleh keunikan Kirab Budaya Empu Supo. Lalu ada unsur something to do, di mana wisatawan tidak cuma duduk menonton, tapi ikut merasakan pengalaman mistis dan sensasi tradisi yang membekas di memori,” analisis Earlike.
Terakhir, urusan isi saku. Sektor something to buy sudah hidup lewat menjamurnya penjualan suvenir, kaos, hingga replika kepala banteng mini buatan perajin lokal. Earlike mendesak agar potensi ekonomi ini segera melompat ke ranah digital. “Integrasikan promosi dan pemesanan suvenir lewat platform digital agar generasi muda makin gandrung,” pungkasnya.
Tradisi tidak selamanya harus menjadi barang kuno di dalam museum. Kirab Bantengan di Songgoriti telah membuktikan bahwa rupa budaya yang dirawat dengan benar bisa menjadi juru selamat bagi ekonomi masyarakat kelurahan. Paket wisata sudah dikemas, status warisan budaya sudah dipegang, kini tinggal konsistensi Pemkot Batu dalam menjaga agar kalender event ini tetap berputar rapi setiap tahunnya. (Yolanda Oktaviani / Ra Indrata)




