MALANG POST – Jajaran kepolisian Polres Malang bersama TNI, Bhayangkari, dan masyarakat umum menggelar aksi kemanusiaan donor darah massal di GOR Indoor Polres Malang, Kepanjen, pada Rabu (24/6/2026) pagi. Kegiatan sosial yang dimotori oleh Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) bersama PMI Kabupaten Malang, dalam rangka menyambut Hari Bhayangkara ke-80 ini berhasil menjaring 184 peserta guna membantu menyuplai ketersediaan stok darah bagi pasien yang membutuhkan di rumah sakit.
Menolak lupa pada substansi pengabdian. Itulah prinsip yang sedang ditunjukkan oleh Polres Malang. Menjelang Hari Bhayangkara ke-80, korps baju cokelat ini memilih tidak larut dalam pesta pora atau seremoni yang kaku.
Mereka memilih cara yang lebih membumi: menyumbangkan darah.
Rabu pagi tadi (24/6), GOR Indoor Polres Malang mendadak berubah fungsi. Ruangan itu disulap menjadi markas kemanusiaan. Ratusan peserta datang bergelombang. Suasananya ramai, tapi tertib.
Agenda hari itu adalah aksi donor darah massal. Penyelenggaranya adalah Seksi Kedokteran dan Kesehatan (Sidokkes) Polres Malang, yang berkolaborasi apik dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Malang. Targetnya jelas: membantu mengamankan pasokan stok darah yang kian hari kian dibutuhkan masyarakat luas.
Kapolres Malang, AKBP Muhammad Taat Resdi, memimpin langsung gerakan ini. Bagi Taat, donor darah adalah bentuk konkret dari pengabdian nyata Polri kepada rakyat. Bukan sekadar retorika di atas panggung.

“Setetes darah yang disumbangkan memiliki nilai kemanusiaan yang sangat besar karena dapat membantu menyelamatkan nyawa sesama,” kata Taat, Rabu (24/6).
Mari kita hitung kekuatannya. Berdasarkan catatan di meja panitia, ada 184 peserta yang sukses mendaftarkan diri. Sinergi di lapangan terasa sangat kental.
Pasukannya beragam. Mulai dari anggota Polri Polres Malang, para ASN, hingga pegawai PPPK internal. Solidaritas TNI-Polri juga pamer gigi di sini. Personel dari Yonzipur V/ABW dan anggota Kodim 0818 Malang-Batu tampak ikut menggulung lengan baju, duduk berdampingan dengan ibu-ibu Bhayangkari Cabang Malang serta warga sipil biasa. Semua melebur tanpa sekat pangkat.
Tentu, prosesnya tidak bisa serampangan. Sebelum jarum suntik menembus kulit, tim medis menerapkan sensor pemeriksaan kesehatan yang ketat.
Seluruh peserta wajib melewati rangkaian skrining berlapis. Dicek tekanan darahnya. Diukur suhu tubuhnya. Dihitung kadar hemoglobin (HB), hingga diverifikasi riwayat kesehatannya oleh tim dokter PMI. Hanya mereka yang benar-benar fit yang boleh menyumbang.
Tingginya antusiasme peserta membuat kapolres tersenyum lebar. Baginya, angka 184 pendonor itu adalah simbol bahwa urat nadi gotong royong dan kepedulian sosial di Malang masih berdenyut kencang. Kebersamaan seperti ini mahal harganya.
Ulang tahun ke-80 ini dijadikan momentum besar oleh Polres Malang untuk melakukan refleksi. Polisi ingin kehadirannya di tengah masyarakat tidak hanya ditakuti sebagai penegak hukum, melainkan dirasakan manfaat langsungnya sebagai pelindung yang humanis.
Lewat kantong-kantong darah yang terkumpul hari ini, hubungan harmonis antara polisi dan seluruh elemen masyarakat diharapkan semakin erat dan mengakar kuat. Selamat ulang tahun, Bhayangkara! (HmsResma/Ra Indrata)




