MALANG POST – Berbagai elemen masyarakat berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu menggelar pameran seni lingkungan bertajuk “Hulu Hilir” di Gedung St Simon Stock, Jalan Panglima Sudirman Nomor 82–80, Ngaglik, Kota Batu, sejak 20 hingga 27 Juni 2026. Pameran gratis dalam rangkaian Greenation Garis Hijau ini menyuguhkan 17 karya kritis mulai dari fotografi cerita hingga instalasi lingkungan sebagai ruang refleksi atas kompleksnya alih fungsi lahan dan problem sampah di Kota Wisata tersebut.
Persoalan lingkungan di Kota Batu hari-hari ini sudah kian kompleks. Ruwet. Alih fungsi lahan terjadi di mana-mana. Ruang hijau menyusut drastis. Ekosistem rusak, ditambah lagi urusan sampah yang menjadi pekerjaan rumah menahun yang tidak kunjung selesai.
Pembangunan bergerak cepat. Sayang, alamnya yang megap-megap.
Jika seruan normatif lewat spanduk birokrasi sudah tidak mempan, maka seni harus turun tangan. Seni dicoba hadir sebagai medium alternatif. Menjadi alat ketuk untuk membangunkan kesadaran manusia yang mulai mati rasa.
Pesan kuat itulah yang memancar dari Gedung St Simon Stock, Jalan Panglima Sudirman, Ngaglik, Kota Batu.
Sejak 20 hingga 27 Juni 2026, sebuah pameran seni lingkungan bertajuk “Hulu Hilir” resmi digelar. Warga bisa menikmatinya secara gratis. Acara ini merupakan buah kolaborasi apik antara berbagai elemen masyarakat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Ini bagian dari rangkaian Greenation Garis Hijau, sekaligus penanda Hari Lingkungan Hidup 2026.
Pameran ini bukan sekadar ruang pamer estetika visual yang manja. Bukan tempat swafoto demi gaya-gayaan di media sosial. Hulu Hilir adalah ruang otopsi ekologis.

AMATI: Pengunjung saat mengamati karya fotografi pameran seni lingkungan bertajuk Hulu Hilir di Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Melalui jepretan fotografi, guratan batik lukis, seni instalasi, hingga karya inovasi, pengunjung dipaksa untuk membaca ulang relasi mereka dengan alam sekitar.
“Pameran ini menjadi ikhtiar bersama untuk merawat kesadaran ekologis melalui bahasa seni,” ujar Rizki Dwi Putra, salah satu pengkarya fotografi lingkungan, Selasa (23/6).
Bagi Rizki, Hulu Hilir tidak mau terjebak pada dokumentasi kerusakan yang kaku atau khotbah pelestarian alam yang membosankan. Pameran ini adalah ajaran untuk menengok kembali apa-apa saja yang perlahan hilang dan memudar dari bumi Batu.
Tanah yang dulu terkenal subur, pepohonan yang dulu rimbun menaungi jalan, hingga aliran sungai yang dulu jernih sebagai ruang kehidupan. Kini, semua bentang alam itu compang-camping berubah wajah seiring ketamakan laju pembangunan atas nama kebutuhan manusia. Alamnya terluka, relasi manusianya retak.
Total ada 17 karya yang dipajang berdampingan di dalam ruangan. Racikannya pas.
Ada tujuh karya fotografi cerita yang dengan jeli merekam jejak perubahan lingkungan. Lalu ada enam karya seni rupa hasil residensi yang merespons langsung denyut nadi Sumber Brantas—mata air vital penopang hidup Kota Batu.
Generasi muda juga diberi panggung. Ada dua karya inovasi dari siswa SMP Negeri 1 Kota Batu dan SMP Muhammadiyah Kota Batu. Komposisi ini digenapi oleh dua karya instalasi sarat kritik dari organisasi lingkungan, Ecoton. Semua dipajang berdekatan, melahirkan ruang dialog yang hidup antara data, ekspresi seni, dan solusi masa depan.
Konsep Hulu Hilir sengaja dipilih Rizki dan kawan-kawan sebagai metafora yang pas. Aliran sungai dari atas ke bawah adalah hukum sebab-akibat. Apa yang diputuskan manusia di atas, dampaknya akan menggulung kehidupan di bawah.
Setiap krisis ekologis yang kasatmata hari ini adalah akumulasi dari pilihan-pilihan ekonomi dan kebijakan yang keliru di masa lalu. Tapi, harapan untuk berbenah belum sepenuhnya kiamat.
“Sebab setiap yang tiba di hilir, sesungguhnya bermula dari hulu,” kata Rizki filosofis.
Pameran ini mengajak kita berhenti sejenak dari kesibukan dunia yang berputar cepat. Menjaga alam sejatinya bukan merawat sesuatu di luar tubuh kita, melainkan merawat sistem yang menopang napas hidup kita sendiri. Semoga warga Batu sadar: merawat lingkungan bukan beban, tapi cara merawat rumah bersama. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




