MALANG POST – Menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Polres Batu bersama Pemerintah Kota Batu memulai bedah rumah tidak layak huni milik Nur Kosim, seorang buruh tani di Dusun Krajan Kidul, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Pembongkaran awal rumah yang memprihatinkan tersebut dilakukan langsung oleh sejumlah personel kepolisian pada Sabtu (20/6/2026) sebagai wujud nyata kehadiran Polri dalam meringankan beban ekonomi warga kurang mampu.
Polisi berulang tahun lagi. Tahun ini usianya genap 80 tahun.
Biasanya, ulang tahun institusi identik dengan upacara. Parade. Atau potong tumpeng. Namun, Polres Batu memilih jalan lain. Mereka ingin merayakannya dengan cara yang langsung menyentuh tanah. Langsung dirasakan warga kecil.
Bukan sekadar seremoni. Jajaran kepolisian turun tangan langsung ke lapangan. Mereka menjalankan program bedah rumah tidak layak huni.
Sasarannya jelas: Nur Kosim. Ia seorang buruh tani. Tinggalnya di Dusun Krajan Kidul, Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Kondisi rumah Nur Kosim sudah sangat memprihatinkan. Jauh dari kata aman. Apalagi sehat. Rumah itu butuh penanganan segera agar layak dihuni manusia.
Sabtu (20/6/2026) pagi, kesibukan terlihat di sana. Sejumlah personel Polres Batu berkumpul. Mereka bersama pihak terkait langsung melakukan tahap awal: membongkar bagian-bagian rumah yang sudah rusak parah.

GOTONG ROYONG: Kapolres Batu, AKBP Dr Aris Purwanto bersama personel Polres Batu dan warga saat gotong royong melakukan bedah rumah. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Kapolres Batu, AKBP Aris Purwanto, menegaskan bahwa aksi sosial ini adalah bagian dari rangkaian Hari Bhayangkara ke-80. Ini bukti konkret kehadiran Polri di tengah-tengah masyarakat yang sedang kesulitan.
“Dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80, kami melaksanakan kegiatan bedah rumah warga yang tidak layak huni. Ini merupakan representasi kehadiran Polri untuk masyarakat,” ujar Aris, Sabtu (20/6/2026).
Aris memastikan program ini tidak asal-asalan. Tidak serampangan pilih orang. Sebelum menentukan rumah Nur Kosim, Polres Batu lebih dulu melakukan survei ketat di lapangan.
Tujuannya satu: agar tepat sasaran. Bantuan harus jatuh ke tangan orang yang benar-benar membutuhkan. Jangan sampai salah alamat.
“Kami melakukan survei terlebih dahulu sebelum pelaksanaan, sehingga program ini bisa tepat sasaran dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tambahnya.
Kerja sosial ini juga tidak sendirian. Polres Batu menggandeng Pemkot Batu. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai penting. Sinergi ini membuat bantuan sosial punya daya dobrak yang kuat. Tidak berhenti sebagai kosmetik seremonial belaka, melainkan memberi dampak langsung yang permanen.
Bagi buruh tani seperti Nur Kosim, urusan ekonomi harian saja sudah berat. Sektor informal seperti ini kerap menghadapi keterbatasan pendapatan. Mana mungkin berpikir untuk merenovasi rumah.
Di sinilah negara hadir melalui seragam cokelat.
Melalui program bedah rumah ini, Polres Batu berharap bisa meringankan beban hidup warga kecil. Jika rumahnya sudah layak, aman, dan sehat, kualitas hidup keluarga penerima bantuan otomatis akan naik.
Momentum Hari Bhayangkara ke-80 akhirnya menjelma menjadi ruang pengabdian. Memberi manfaat nyata. Bukan sekadar meriah di atas panggung, tapi bermakna di dalam gubuk warga. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




