MALANG POST – Manajemen Arema FC, secara resmi mengumumkan berakhirnya hubungan kerja sama dengan gelandang jangkar asal Brasil, Gildson Pablo de Oliveira Silva, menyusul habisnya masa kontrak sang pemain untuk musim kompetisi mendatang. Keputusan berat untuk melepas legiun asing berusia 31 tahun ini dikonfirmasi langsung oleh General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi, Jumat (12/6/2026) sore, sekaligus menandai akhir dari kisah pilu dua musim perjuangan sang jenderal lapangan tengah, yang kariernya sempat hancur akibat hantaman cedera ligamen lutut parah.
Menjadi pemain bola asing di Indonesia itu berat. Ekspektasi publik teramat tinggi. Begitu datang, Anda harus langsung jadi dewa penolong. Main harus bagus, fisik harus prima. Sekali saja Anda masuk ruang perawatan karena cedera panjang, nasib kontrak Anda langsung berada di ujung tanduk.
Nasib kurang beruntung itulah yang kini harus dialami oleh Gildson Pablo de Oliveira Silva. Jenderal lapangan tengah Arema FC asal Brasil.
Jumat sore ini, manajemen Arema FC resmi mengetok palu. Kebersamaan manis sekaligus getir selama dua musim itu harus berakhir. Masa kontrak kerja Pablo habis. Manajemen memilih bersikap realistis dengan tidak memperpanjang masa baktinya untuk musim depan.
Bagi Singo Edan, melepas Pablo sebenarnya menyisakan rasa sesak.
Pemain berumur 31 tahun ini bukan sekadar buruh asing yang bertugas memotong bola atau mengatur ritme di lini kedua. Di mata manajemen dan Aremania, Pablo adalah simbol profesionalisme sejati. Dia teladan tentang bagaimana seorang atlet bertarung habis-habisan melawan takdir buruk cedera di atas rumput hijau.
Padahal, awal kisahnya di Malang berjalan sangat indah.

Didatangkan untuk memperkuat jangkar tengah, Pablo langsung nyetel pada musim pertamanya. Di kompetisi Liga 1 musim 2024/2025, dia melahap 27 pertandingan resmi. Sambil menjaga kedalaman pertahanan, dia bahkan sanggup menyumbangkan 3 gol penting. Dia menjadi kepingan taktik yang tak tergantikan.
Tapi sepak bola kadang kejam. Memasuki musim Super League 2025/2026, nasibnya berbalik arah.
Badai cedera datang menghantam. Proses pemulihannya memakan waktu berbulan-bulan. Melelahkan. Saking kuatnya mental mentalitas Pablo, dia berhasil bangkit dan merumput kembali pada putaran kedua, tepatnya Januari 2026 lalu.
Sialnya, nasib baik belum mau singgah. Baru sebentar mencicipi atmosfer pertandingan, lututnya kembali dihantam cedera yang jauh lebih mengerikan: ligamen lutut MCL dan ACL-nya putus.
Kiamat kecil bagi seorang pesepak bola. Pablo terpaksa harus mengepak koper lebih awal, terbang pulang ke Brasil untuk naik ke meja operasi sebelum kompetisi selesai.
Walau fisiknya hancur, dedikasinya luar biasa. Sepanjang musim 2025/2026 yang terkutuk bagi fisiknya itu, dia masih memaksakan diri mencatatkan 3 penampilan demi lambang Singo Edan di dada.
Atas dasar etos kerja yang langka itulah, General Manager Arema FC, Yusrinal, melepas kepergian Pablo dengan rasa hormat yang amat tinggi.
“Bukan hanya melalui penampilannya di atas lapangan, tetapi juga melalui semangat dan keteguhannya dalam menghadapi masa-masa sulit akibat cedera. Pablo telah menunjukkan arti sesungguhnya dari perjuangan sebagai seorang profesional,” puji Yusrinal, Jumat (12/6/2026) hari ini.
Inal—sapaan akrab sang manajer—percaya dengan karakter baja yang dimiliki Pablo, sang gelandang akan mampu pulih total dan kembali menemukan level terbaiknya di klub baru nanti. “Terima kasih karena telah menjadi bagian dari keluarga besar Arema FC,” tambah Inal.
Dua tahun berseragam Arema, kontribusi Gildson Pablo memang melampaui deretan statistik angka di atas kertas. Dia dihormati karena ketenangannya memimpin lini tengah dan keteguhannya saat diuji nasib buruk.
Industri sepak bola profesional memang menuntut hitungan rasional yang dingin, tapi marwah kemanusiaan tidak boleh hilang. Arema sudah mengambil keputusan taktis untuk merombak lini tengahnya, namun memori tentang jenderal Brasil yang menolak menyerah pada rasa sakit ini akan tetap abadi di bumi Arema. Boa sorte, Pablo! (Ra Indrata)




