MALANG POST – Sebanyak 295 atlet cilik tingkat SD/MI dari tiga kecamatan se-Kota Batu resmi memulai pertarungan sengit dalam ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kota Batu tahun 2026 yang dibuka di GOR Gajah Mada, Rabu (10/6/2026) pagi. Kompetisi pelajar terbesar di Kota Wisata ini sengaja digulirkan oleh Dinas Pendidikan hingga 11 Juni esok guna menyaring bibit unggul yang akan mewakili daerah ke tingkat Provinsi Jawa Timur, sekaligus menjadi penawar instan bagi fenomena kecanduan gawai (gadget) pada generasi muda sejak usia dini.
Anak-anak zaman sekarang itu pemandangan sehari-harinya hampir seragam. Di mana-mana sama. Kepala menunduk. Mata lekat menatap layar gawai. Jempolnya lincah bergerak di atas kaca ponsel.
Mereka lebih akrab dengan game online ketimbang lapangan tanah. Lebih betah duduk diam berjam-jam ketimbang berkeringat mengejar bola.
Fenomena mengkhawatirkan itulah yang coba dilawan di Kota Batu pekan ini. Caranya? Lewat olahraga. Lewat jalur kompetisi riil di lapangan terbuka.
Rabu pagi ini, GOR Gajah Mada mendadak bergemuruh. Ramai sekali. Wajah-wajah tegang bercampur ceria khas anak-anak memenuhi ruangan.
Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) jenjang SD/MI tingkat Kota Batu resmi ditabuh kembali.

SPORTIVITAS: Dinas Pendidkan Kota Batu kembali menggelar O2SN tingkat SD Kota Batu, mereka menekankan kepada para atlet untuk menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Temanya mentereng, khas program pemerintah: Talenta Sehat, Bugar, Berkarakter dan Hebat Melalui Olahraga.
Intinya sebenarnya sederhana: pemerintah ingin anak-anak ini kembali bergerak. Menjadi sehat di dunia nyata, bukan cuma hebat di dunia maya.
Saringannya ketat. Ada 295 atlet muda yang ambil bagian. Mereka bukan penunjuk langsung dari sekolah, melainkan hasil peras seleksi berjenjang yang melelahkan di tingkat kecamatan sebelumnya. Kompetisi akan digeber selama dua hari, sampai Kamis, 11 Juni esok.
Mari kita bedah kekuatan pasukannya berdasarkan rincian kontingen kecamatan:
Kecamatan Batu mengirim pasukan paling gemuk: 128 atlet.
Kecamatan Bumiaji menyusul di posisi kedua: 104 atlet.
Kecamatan Junrejo menjadi yang paling ramping: 63 atlet.
Mereka semua akan saling jegal, saling adu ketangkasan di lima cabang olahraga resmi. Cabang-cabang yang difasilitasi langsung oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Ragam olahraganya meliputi: pencak silat, kids atletik, bulu tangkis, renang, dan senam prestasi.
Agar tidak menumpuk dan mengganggu jadwal, panitia menyebar venue pertandingan di empat titik strategis di Kota Batu.
Mulai dari GOR Gajah Mada sendiri, GOR Ganesha, Lapangan Merdeka Desa Pendem, hingga Kolam Renang Tirta Buanacakti di dalam kompleks Pusdik Arhanud.
Bagi birokrasi pendidikan di Batu, O2SN ini punya nilai politis dan strategis yang tinggi.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Batu, Rr Maria Inge, hadir langsung memberikan wejangan.
Bagi Inge, ajang ini adalah fondasi awal dari cetak biru pembinaan olahraga pendidikan nasional. Harus berjenjang, terarah, dan tidak boleh putus di tengah jalan.
Namun, Inge buru-buru mengingatkan. Target utama dari mengumpulkan ratusan anak kecil ini bukan sekadar urusan berburu medali emas. Bukan pula urusan pamer piala di lemari sekolah.
“Kegiatan ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga wadah untuk membentuk karakter, sportivitas, disiplin, dan semangat juang sejak dini,” kata Maria Inge, Rabu (10/6/2026) hari ini.
Inge menitipkan pesan mendalam di hadapan para atlet cilik. Kompetisi ini harus dijadikan laboratorium untuk belajar mengukur diri dan mengembangkan kapasitas pribadi.
Menang memang menyenangkan, tapi kemenangan bukan segalanya dalam dunia pendidikan.
“Yang terpenting adalah bagaimana kalian berusaha dengan sungguh-sungguh, bermain dengan jujur, dan menghargai lawan,” tuturnya dengan nada lembut namun tegas.
Logika pendidikan Inge sangat jelas. Jiwa sportivitas dan integritas yang ditanam sejak usia SD akan menjadi modal mental yang sangat kokoh saat anak-anak ini beranjak dewasa kelak. Menghadapi tantangan hidup yang jauh lebih kejam di masa depan.
Lagipula, ada misi penyelamatan fisik yang sedang diemban.
Inge blak-blakan menyentil urusan gawai yang sudah merusak ritme gerak fisik anak-anak kita.
“Anak-anak sekarang lebih banyak memegang gadget. Karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan menjadi ruang bagi mereka untuk menggali dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” ungkapnya.
Biarkan kulit mereka terbakar matahari lapangan. Biarkan otot mereka pegal karena berlari. Itu jauh lebih sehat ketimbang mata mereka minus karena radiasi layar ponsel.
Tentu, bagi anak-anak yang berprestasi dan keluar sebagai jawara, negara sudah menyiapkan karpet merah tersendiri.
Prestasi di O2SN ini bisa menjadi kunci sakti. Jalur prestasi akan terbuka lebar bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Beasiswa dan berbagai apresiasi sudah mengantre di ujung kompetisi.
Bahkan, para pemenang terbaik di tingkat Kota Batu ini otomatis akan langsung mengemas koper.
Mereka resmi menyandang status sebagai duta daerah, bersiap bertarung membawa nama nama Kota Batu di level regional Jawa Timur hingga tingkat nasional.
Di akhir arahannya, Inge tidak lupa menyampaikan rasa terima kasih dan respek setinggi-tingginya kepada para aktor di balik layar.
Para kepala sekolah yang pusing mengatur anggaran, para pengawas yang cerewet, guru pendamping yang lelah, serta seluruh pelatih yang telaten melatih otot anak-anak daerah ini sejak subuh.
Mimpi melahirkan atlet kelas dunia memang harus dimulai dari tempat yang sederhana seperti GOR Gajah Mada hari ini. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




