TEKAN TOMBOL: Bupati Sanusi menekan tombol pada screen, sebagai simbol dimulainya program inovatif Gerakan Desa Maslahah yang diinisiasi Universtias Al-Qolam Malang. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
MALANG POST – Bupati Malang, HM Sanusi, meluncurkan secara resmi program inovatif bertajuk Gerakan Desa Maslahah hasil inisiasi Universitas Al-Qolam Malang di Balai Desa Bambang, Kecamatan Wajak, Minggu (7/6/2026) pagi. Program pemberdayaan masyarakat desa yang diintegrasikan dengan Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) ini sengaja digulirkan lewat sinergi strategis bersama PCNU dan PC GP Ansor Kabupaten Malang guna mendongkrak kualitas SDM serta kemandirian ekonomi lokal di wilayah pedesaan.
Membangun desa itu ternyata bukan cuma urusan mengaduk semen. Bukan sekadar perkara menghampar aspal jalanan. Ada yang jauh lebih mendasar dari itu semua: membangun manusianya. Memperbaiki ekonominya. Dan merawat nilai-nilai sosial keagamaannya.
Itulah esensi penting yang ditekankan oleh Bupati Malang, M. Sanusi, akhir pekan kemarin. Hari Minggu pagi. Tempatnya di Balai Desa Bambang, Kecamatan Wajak.
Acaranya penting: peluncuran Gerakan Desa Maslahah.
Inisiatornya adalah kampus Islam terkemuka di Malang Selatan: Universitas Al-Qolam. Mereka tidak sendirian. Gerakan ini dikeroyok bersama oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang dan Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Provinsi Jawa Timur serta Kabupaten Malang.
Birokrasi pun ikut mengawal. Tampak hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Malang Dr. Ir. Budiar Anwar, M.Si., beserta jajaran kepala dinas hingga Forkopimcam Wajak. Komplet.
Sanusi langsung angkat topi. Dia memberikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Al-Qolam, PCNU, dan Ansor. Kolaborasi ini dianggapnya sebagai ikhtiar cerdas yang sangat klik dengan nafas pembangunan daerah saat ini.
“Pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik,” kata Sanusi. Dia merinci, esensi desa yang kuat itu harus mencakup kualitas SDM, penguatan nilai keagamaan, pemberdayaan ekonomi, kelestarian lingkungan, sampai urusan tata kelola pemerintahan desa yang bersih.
Logikanya sederhana. Kata “maslahah” itu sendiri punya makna yang dalam. Kebijakan apa pun, program model apa pun, ujung-ujungnya harus membawa manfaat nyata. Manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat bawah.

PIDATO: Bupati Malang, HM Sanusi, ketika memberikan pengarahan dalam acara Gerakan Desa Maslahah di Wajak. (Foto: Prokopim Sekda Kab Malang)
“Gerakan Desa Maslahah ini tidak hanya berorientasi pada capaian program di atas kertas,” tegas Sanusi. Targetnya riil: kesejahteraan dan kemajuan yang bisa dirasakan langsung oleh warga di dapur mereka masing-masing.
Ada satu hal yang membuat Sanusi makin kepincut dengan konsep ini. Rupanya, Universitas Al-Qolam mengawinkan gerakan ini dengan program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) mahasiswa mereka.
Ini lompatan cerdas. Mahasiswa tidak lagi datang ke desa hanya untuk mengecat gapura atau membuat plang penunjuk jalan. Tugas mereka kali ini lebih berbobot.
Para mahasiswa diterjunkan sebagai katalisator perubahan. Mereka dipaksa membawa inovasi. Tugas utamanya adalah membantu mendeteksi, mengidentifikasi, lalu ikut memoles potensi-potensi tersembunyi yang dimiliki oleh desa.
“Sinergi antara dunia akademik, organisasi kemasyarakatan, dan pemerintah desa seperti inilah yang menjadi kekuatan penting,” puji Sanusi. Model keroyokan begini terbukti ampuh mempercepat pembangunan berbasis pemberdayaan warga.
Lewat Gerakan Desa Maslahah ini, bupati berharap akan muncul program-program konkret di lapangan. Ada penguatan ketahanan sosial. Ada perbaikan mutu pendidikan dan kesehatan. Ada geliat ekonomi lokal yang tumbuh mandiri. Dan tentu saja, menjaga semangat gotong royong agar tidak luntur tergerus zaman.
Tapi Sanusi juga mengingatkan satu hal krusial. Konsep yang muluk-muluk di atas kertas tidak akan ada gunanya jika tanpa komitmen. Kuncinya ada pada konsistensi.
“Marilah bersama-sama mengambil peran aktif, menjaga semangat kolaborasi, dan menjadikan Gerakan Desa Maslahah sebagai gerakan bersama yang berkelanjutan,” tandasnya dengan nada serius.
Pemerintah Kabupaten Malang pun berjanji tidak akan tinggal diam. Dukungan penuh akan diberikan untuk setiap gerakan yang bertujuan memandirikan desa, menyejahterakan warga, serta membangun tatanan sosial yang harmonis dan religius.
Harapan besarnya, proyek percontohan di Desa Bambang Wajak ini sukses besar. Jika berhasil, pola kolaborasi cantik ini akan langsung direplikasi. Dicontoh dan diterapkan di seluruh desa lain di Kabupaten Malang.
Kemandirian daerah memang harus dimulai dari kemakmuran warga desanya. Dan Al-Qolam sudah menyalakan lilinnya dari Wajak. (PKP/Ra Indrata)




