MALANG POST — Kursi jenderal aparatur sipil negara (ASN) di Kota Batu kian panas. Menjelang pengumuman tiga besar pada Jumat (5/6/2026) mendatang, Ketua DPRD Kota Batu, M Didik Subianto, mengingatkan dengan tegas agar seluruh tahapan akhir Seleksi Terbuka (Selter) Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) berjalan transparan, profesional, dan steril dari titipan politik mana pun sejak Senin (1/6/2026).
Dewan tidak ingin posisi krusial ini diisi oleh figur yang salah.
Bagi Didik, jabatan Sekda itu bukan sekadar posisi administratif biasa. Bukan tukang stempel. Sekda adalah motor penggerak birokrasi. Dialah yang menentukan apakah kebijakan kepala daerah bisa lari kencang di lapangan atau justru jalan di tempat.
Maka, jalan satu-satunya adalah meritokrasi. Panitia Seleksi (Pansel) diminta mengunci pintu rapat-rapat dari segala bentuk intervensi luar. Harus independen.
“Pansel wajib bekerja secara profesional guna melahirkan pemimpin birokrasi yang benar-benar berkompeten dan berintegritas tinggi,” ujar Didik, Senin (1/6/2026).
Politikus PKB itu punya kriteria sendiri. Sosok Sekda ideal Kota Batu ke depan tidak boleh hanya kuat di atas kertas. Kemampuan manajerialnya wajib tangguh, paham luar dalam soal tata kelola pemerintahan, dan yang tidak kalah penting: harus lihai menjembatani komunikasi antara eksekutif di balai kota dan legislatif di gedung dewan.
Tantangan Batu ke depan tidak main-main. Butuh birokrat yang sat-set. Adaptif. Berani mengambil keputusan cepat tapi tetap patuh pada regulasi.
“Siapa pun yang nanti terpilih harus mampu mengoordinasikan seluruh perangkat daerah. Sekda itu ibarat dirigen yang mengatur ritme pemerintahan agar berjalan harmonis,” tegas Didik. Sebuah perumpamaan yang pas. Kalau dirigennya salah angkat tongkat, musik birokrasi pasti fals.

Ketua DPRD Kota Batu, M Didik Subiyanto. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Saat ini, enam ksatria eselon II sudah menyelesaikan seluruh ujian berat. Mulai dari urusan administrasi, assessment center, uji kompetensi manajerial, wawancara, hingga tes kesehatan jasmani dan rohani.
Siapa saja mereka? Anda tentu sudah hafal namanya: Akhmad Dahlan (Kepala Bakesbangpol), Alfi Nurhidayat (Kepala Dinas Pendidikan), Arief As Siddiq (Kepala Disperum), Bangun Yulianto (Kepala Bappelitbangda), Endro Wahjudi (Inspektur Kota), dan Mohammad Nur Adhim (Kepala Bapenda).
Sebelumnya, Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto, sudah memuji habis keenam nama ini. Heli menyebut mereka sebagai skuad “Triple A”. Kualitasnya setara. Kemampuannya merata.
“Ketiganya ini bisa dibilang kandidat triple A. Integritas dan kemampuan mereka bagus,” puji Heli.
Lalu, siapa penentu akhirnya?
Tetap di tangan Wali Kota definitif, Nurochman. Saat ini sang wali kota masih berada di tanah suci. Sesuai jadwal, esok hari, 2 Juni 2026, Nurochman mendarat di Asrama Haji Sukolilo Surabaya sebelum bertolak ke Kota Batu.
Heli memastikan, pembahasan penentuan satu nama Sekda definitif baru akan digelar setelah wali kota pulang, beristirahat, dan siap berdiskusi jernih. Rekam jejak dan kesesuaian visi akan dibedah total.
“Tiga nama terbaik itu nanti bagus semua. Kami akan berdiskusi dan memilih yang terbaik dari tiga pilihan tersebut,” kata Heli.
Sesuai linimasa, Jumat ini tiga nama teratas akan diumumkan. Nama terpilih kemudian terbang ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) di Jakarta untuk mendapatkan persetujuan resmi sebelum pelantikan.
Pansel sudah diingatkan dewan, kepala daerah sudah siap memilih, dan enam calon sudah pasrah menunggu nasib. Kita tunggu saja, siapa dirigen pilihan akhir yang akan memimpin simfoni pemerintahan Kota Batu. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




