MALANG POST – Sabtu pagi yang sejuk di Tumpang, 30 Mei 2026. Ratusan anak SD kelas 5 dan 6 berkumpul di SDN 3 Tumpang, Kabupaten Malang. Wajah mereka polos. Khas anak-anak desa di lereng Gunung Bromo.
Hari itu dada mereka dipasangi alat. Mereka tidak sedang sakit. Mereka sedang diperiksa. Nama medisnya keren sekaligus ngeri: Skrining Penyakit Jantung Rematik. Atau Rheumatic Heart Disease (RHD).
Acara ini bukan main-main. Yang membuka langsung Wakil Bupati Malang, Hj. Lathifah Shohib.
Hadir juga Sekda Budiar Anwar, dan Ketua YJI Malang Raya, Hanik Dwi Martya P, S.Fams, M.A.P. Bahkan, jagoan jantung dari Jakarta pun turun gunung. Dialah dr. B. R. M. Aeio Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), Ketua Tim Skrining Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Pusat.
Lathifah Shohib tersenyum melihat anak-anak itu. Tapi di balik senyumnya, ada rasa syukur yang dalam. Wakil Bupati tahu, Kabupaten Malang sedang mendapat durian runtuh.
YJI Pusat rupanya punya program nasional. Mereka hanya memilih empat daerah di seluruh Indonesia untuk menjadi proyek percontohan skrining ini.
Siapa saja yang terpilih? Kabupaten Bekasi di Jawa Barat, Minahasa Utara di Sulawesi Utara, Tulang Bawang di Lampung, dan satu lagi: Kabupaten Malang.
“Penunjukan ini kehormatan. Sekaligus tanggung jawab besar,” kata Lathifah, matanya berbinar saat memberikan sambutan.
Mengapa harus jantung rematik? Dan mengapa harus anak SD?
Banyak orang tua mengira penyakit jantung hanya milik orang tua. Milik mereka yang kaya. Atau yang suka makan enak. Itu salah besar.

Penyakit jantung rematik justru mengintai anak-anak usia sekolah. Dan celakanya, penyakit ini sering kali berawal dari hal sepele: radang tenggorokan yang tidak diobati dengan benar. Kuman merayap perlahan, lalu merusak katup jantung. Diam-diam. Tanpa permisi.
Maka, deteksi dini adalah kunci. Sebelum segalanya terlambat. Sebelum katup jantung telanjur bocor.
Untuk tahap awal ini, Kecamatan Tumpang jadi episentrumnya. Ada dua lokasi yang disasar: SDN 3 Tumpang dan SDN 1 Tumpang. Totalnya ada 370 siswa yang dadanya diperiksa bergantian.
Bagi Lathifah, merawat jantung anak-anak ini sama dengan merawat masa depan. “Anak-anak yang sehat adalah investasi masa depan bangsa,” tuturnya diplomatis, namun terasa sangat berbobot.
Logikanya sederhana. Bagaimana mungkin seorang anak bisa belajar dengan optimal, menjadi cerdas, dan kompetitif, jika jantungnya kedodoran? Jantung adalah mesin utama tubuh. Jika mesinnya bermasalah, seluruh sistemnya pasti mogok.
Oleh karena itu, Wakil Bupati tidak ingin gerakan ini berhenti setelah tim dokter dari Jakarta pulang. Ini harus jadi momentum kesadaran massal.
Lathifah mengetuk hati para orang tua, guru, dan masyarakat luas di Malang Raya. Mulailah peduli. Caranya tidak perlu mahal. Cukup ajarkan anak-anak pola hidup sehat. Jaga kebersihan lingkungan. Beri mereka gizi seimbang. Dan jangan remehkan jika anak mengeluh sakit tenggorokan atau demam.
Sabtu siang, skrining selesai. Alat-alat kedokteran itu dikemas kembali.
Anak-anak Tumpang kembali berlarian di halaman sekolah. Dada mereka kini lebih aman. Jantung mereka sudah diintip oleh ahlinya. Dan dari Tumpang, Kabupaten Malang sedang memastikan bahwa generasi penerusnya tidak akan mati muda hanya karena urusan jantung yang terlambat dideteksi. (PKP/Ra Indrata)




