MALANG POST – Halaman luar Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, mendadak berubah menjadi lautan warna-warni, Sabtu (30/5/2026) pagi. Ribuan anak Taman Kanak-Kanak (TK) berkumpul di sana. Mereka tidak sedang menonton sepak bola. Mereka sedang menari.
Nama acaranya panjang: Gebyar Tari Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Acara ini istimewa. Dirangkaikan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 IGTKI-PGRI Kabupaten Malang.
Bupati Malang, HM Sanusi, hadir langsung. Berdiri di sana, menyerap energi luar biasa dari ribuan pasang kaki mungil yang bergerak serempak.
Di sampingnya, tampak Wakil Bupati Hj Lathifah Shohib, Sekda Budiar Anwar, serta jajaran pejabat Pemkab Malang dan pengurus IGTKI-PGRI.
Matanya berbinar. Sanusi tahu benar apa yang sedang dia lihat pagi itu.
Bukan sekadar anak-anak yang pandai menghafal gerakan tari. Bukan sekadar tontonan akhir pekan. yang dia lihat adalah masa depan.

“Pendidikan anak usia dini merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter bangsa,” ujar Sanusi, suaranya bergetar penuh apresiasi.
Dia melihat ke arah kerumunan guru TK, yang mendampingi dengan peluh di dahi. Bagi Sanusi, dari ruang-ruang TK yang penuh warna, tawa, dan lagu ceria itulah, masa depan Indonesia sebenarnya sedang dicor. Dibangun.
Peran guru TK itu strategis. Sangat strategis. Melalui tangan-tangan sabar mereka, benih akhlak mulia, kedisiplinan, kreativitas, dan rasa percaya diri ditanam. Sejak usia dini. Saat otak anak-anak itu masih seperti spons yang menyerap apa saja.
Maka, tarian pagi itu bukan seremoni kosong. Ada misi besar di dalamnya. Namanya: Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat.
Apa saja tujuh kebiasaan itu? Sederhana, tapi mendasar. Bangun pagi. Beribadah. Berolahraga. Makan sehat dan bergizi. Gemar belajar. Bermasyarakat. Dan terakhir: tidur cepat.
Kelihatannya sepele? Jangan salah. Sesuatu yang besar selalu dimulai dari konsistensi hal-hal kecil seperti ini.
“Melalui kebiasaan-kebiasaan baik tersebut, kita sedang menyiapkan generasi Kabupaten Malang yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan kepribadian,” tegas Bupati.

Momentum Hardiknas tahun ini, bagi Sanusi, harus menjadi alarm pengingat. Pendidikan itu bukan cuma urusan dinas pendidikan. Bukan cuma beban guru di kelas.
Pendidikan adalah tanggung jawab keroyokan. Pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat harus jalan satu saf. Selaras. Jika jalannya sendiri-sendiri, harmoni itu tidak akan pernah runtuh menjadi sebuah prestasi.
Sanusi tidak ingin acara di Kanjuruhan ini menguap begitu saja setelah panggung dibongkar. Dia tidak mau ini hanya jadi ritual tahunan yang melelahkan.
Harus ada yang tinggal. Harus ada ruang tumbuh yang terus dirawat untuk kreativitas anak dan penguatan karakter. Sinergi sekolah dan rumah harus lebih erat.
Sebelum turun dari podium, Sanusi memberikan hormat tertingginya kepada keluarga besar IGTKI-PGRI Kabupaten Malang. Mereka adalah garda terdepan. Yang mendidik dengan modal utama yang mulai langka: kesabaran dan ketulusan.
“Selamat memperingati Hari Pendidikan Nasional dan Dirgahayu ke-76 IGTKI-PGRI. Semoga seluruh pengabdian para pendidik menjadi amal kebaikan dan membawa manfaat besar bagi kemajuan bangsa, khususnya Kabupaten Malang,” pungkas Sanusi.
Matahari makin tinggi di Kepanjen. Anak-anak itu pulang membawa tawa. Para guru pulang membawa lelah yang berkah. Dan Kabupaten Malang baru saja menanam modal terbaiknya untuk menyongsong Indonesia Emas. (PKP/Ra Indrata)




