TOP SKOR: Aksi Adelice Maureen Hanum Faisal, Pemain SDN Lowokwaru 3 yang juga menjadi top scorer dengan 36 gol pada KU 12 Milklife Soccer Challenge Malang Seri 2 2025-2026. (Foto: MilkLife Soccer Challenge for Malang Post)
MALANG POST – Penyelenggaraan turnamen MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Malang Seri 2, resmi ditutup dengan catatan rekor fantastis setelah berhasil menyedot partisipasi sebanyak 2.161 pesepak bola putri usia dini di Stadion Gajayana, Malang, Minggu (24/5/2026) sore. Lonjakan massal kuantitas peserta yang meningkat tajam dari seri pertama terdahulu ini, dinilai oleh jajaran tokoh sepak bola nasional sebagai sinyal kuat bahwa ekosistem dan hulu pembinaan sepak bola wanita di Bumi Arema telah terbentuk secara masif dan berkelanjutan.
Sepak bola di Malang itu sudah bukan lagi sekadar olahraga. Ia adalah agama kedua. Kultur. Garis nasib.
Maka, ketika Bakti Olahraga Djarum Foundation dan MilkLife menebar jala kompetisi sepak bola putri format 7 lawan 7 di Malang, hasilnya langsung meledak. Luar biasa. Di luar dugaan banyak orang.
Anda harus melihat statistiknya, agar tidak dikira bual kosong. Pada Seri 1 lalu, jumlah peserta “hanya” 1.918 anak. Kemarin sore, angkanya melonjak menjadi 2.161 siswi. Sekolah yang ikut bertaruh nasib naik dari 120 menjadi 122 SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Malang Raya.
Kategori Usia (KU) 10 melesat dari 64 menjadi 82 tim. KU 12 ikut merayap naik dari 111 menjadi 116 tim. Angka-angka ini tidak bisa bohong: ada gairah baru yang sedang berdenyut di bawah permukaan tanah Arema.
Mengapa masyarakat, terutama para orang tua dan guru sekolah, mendadak begitu antusias mengirim anak perempuannya berpanas-panasan mengejar bola?

Program Director MilkLife Soccer Challenge, Teddy Tjahjono, punya analisis yang tajam. Menurutnya, ini soal kepercayaan (trust) publik terhadap konsistensi penyelenggara.
“Masyarakat melihat keseriusan kami. Ada komitmen jangka panjang bahwa turnamen ini akan terus konsisten dan berkesinambungan. Atas dasar itu, sekolah-sekolah mempersiapkan diri jauh-jauh hari. Tren penambahan peserta seperti ini juga terjadi di kota-kota besar lain,” ujar Teddy Tjahjono, Minggu (24/5/2026).
PSSI Kota Malang langsung semringah melihat fenomena ini. Anggota Executive Committee (Exco) Bidang Kompetisi PSSI Kota Malang, Rochman Hadi, menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam.
Bagi PSSI, turnamen tahun kedua di Malang ini adalah berkah. Menjadi barometer nyata dalam proses pelacakan bakat (talent scouting) untuk masa depan Timnas Putri Indonesia.
“Harapan kami, tahun depan kompetisi ini hadir lagi. Gairah ini harus dijaga. Semoga kompetisi putri semakin banyak digelar di daerah kita,” tutur Rochman bangga.
Namun, di mana letak kekuatan utama Malang Raya hingga kompetisi sekecil apa pun selalu riuh?
Jawabannya ada pada faktor geografis dan sejarah. Head Coach MilkLife Soccer Challenge, Timo Scheunemann, membedah hal itu dengan jernih.
Menurut pria Jerman yang fasih berbahasa Jawa boso Malangan itu, Malang Raya punya keunggulan unik: wilayah Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu saling menempel rapat. Aksesnya dekat.
“Antusiasme sekolah di tiga wilayah ini luar biasa. Ke depan, mereka akan berlatih secara kontinu. Kalau latihan jalan terus, anak berbakat muncul, mereka pasti akan memburu Sekolah Sepak Bola (SSB). Di situlah ekosistem sepak bola kita otomatis bertumbuh sehat,” urai Timo.

KOMPAK: Para finalis MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Malang Seri 2 dari KU 10 dan 12, ketika merayakan sukses mereka menjadi yang terbaik di kelompok usia. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Mantan pelatih Persema Malang itu juga blak-blakan soal taktik “gerilya” yang dia lakukan bersama tim pemantau bakat. Mereka tidak sekadar menunggu di tribun VIP. Timo dkk turun ke sekolah-sekolah, mendatangi siswi yang punya bakat alamiah, dan merayu gurunya agar bersedia mengirim tim.
Salah satu hasil gerilyanya adalah Adelice Maureen, penyerang sayap SDN Lowokwaru 3 yang baru saja mencetak hat-trick di final KU 12 menggilas SDN 3 Pandanlandung 3-0.
Sementara di KU 10, trofi juara digondol oleh anak-anak gunung dari SDN Tulungrejo 02 Batu yang menjinakkan SDN Tunjungsekar 3 dengan skor 3-1.
“Perkembangan kualitas anak-anak Malang cepat sekali. Tradisi sepak bola di sini luar biasa. Anak-anak putri tumbuh di lingkungan yang memang gila bola, tidak ada lagi sekat perbedaan gender,” puji Timo.
Tantangan sesungguhnya kini sudah menanti di depan mata. Tim pemantau bakat telah menyaring 16 pemain terbaik dari bumi Malang. Mereka akan masuk ke dalam program extra training superketat.
Tujuannya jelas: membentuk tim elite All-Stars Malang yang akan diterbangkan ke ajang nasional pada 22 Juni 2026 di Stadion Super Soccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Di sana, srikandi cilik Arema akan ditantang tim-tim raksasa dari Surabaya, Jakarta, Bandung, hingga Balikpapan.
Teddy Tjahjono bahkan berani memprediksi, All-Stars Malang punya potensi besar untuk meledak menjadi kuda hitam yang menakutkan di Kudus bulan depan, meniru jejak All-Stars Solo tahun lalu.
Sebab, kota yang punya akar sejarah sepak bola kuat sejak era Perserikatan seperti Malang, mental bertandingnya tidak akan mudah ciut.
Rumput Gajayana sudah melahirkan banyak legenda, dan kini, giliran anak-anak perempuan kecil itu yang bersiap menulis sejarah baru mereka sendiri di panggung nasional. (Ra Indrata)




