LAST GAME: Marcos Santos dan Walisson Maia, saat pre-match press conference untuk pertandingan Arema vs PSIM. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Skuad Arema FC bersiap melakoni laga pamungkas kompetisi BRI Super League musim 2025/2026 dengan menjamu tim promosi rasa raksasa, PSIM Yogyakarta, di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, Jumat (22/5/2026) sore. Partai penutup pekan ke-34 yang dijadwalkan bertensi tinggi ini akan menjadi panggung pembuktian terakhir bagi Pelatih Kepala asal Brasil, Marcos Vinicius dos Santos Goncalves, untuk mempersembahkan kemenangan manis di depan publik Aremania sekaligus menentukan kelanjutan masa baktinya bersama manajemen Singo Edan untuk musim depan.
Satu laga sisa. Tapi auranya mirip partai final.
Bagi Arema FC, ini bukan sekadar laga formalitas penutup kalender kompetisi. Ini soal harga diri. Soal bagaimana menutup musim di kandang sendiri dengan kepala tegak.
Musuh yang datang bukan tim sembarangan. PSIM Yogyakarta memang berstatus tim promosi. Mereka baru saja kembali mencicipi kasta tertinggi setelah mengembara selama 19 tahun di kompetisi kasta bawah sejak 2007 silam.
Namun, di bawah asuhan arsitek asal Belanda, Jean-Paul van Gastel, Laskar Mataram menjelma menjadi tim yang gemar merusak pesta klub mapan. Di awal musim, mereka sempat nangkring di papan atas. Kini, posisi mereka tepat berada di bawah Arema FC—di peringkat ke-11.
Poin kedua tim identik: 45 poin dari 33 laga. Arema hanya unggul sejumput selisih gol dan catatan head-to-head.
Memori pertemuan pertama di Stadion Sultan Agung masih menyisakan rasa penasaran. Kala itu, gol dingin Dalberto Luan Belo di menit ke-41 buyar seketika. Gara-garanya gol bunuh diri Roberto Pimenta Vinagre Filho (Betinho Filho) di menit ke-88. Skor berakhir 1-1. Petaka menit akhir yang emoh diulangi Arema.
Dapur Taktik Marcos Santos: Lini Belakang yang Rapuh
Di ruang konferensi pers, Pelatih Arema, Marcos Santos, membuka draf evaluasinya dengan raut wajah tenang. Khas pria Brasil. Ia tidak mau berdalih, namun ia mengajak publik melihat dinamika ruang ganti Singo Edan sepanjang musim yang penuh riak ini.
“Persiapan kami menyambut pertandingan terakhir ini berjalan dengan baik. Tuntutan dan tekanan adalah hal yang wajar di tim besar,” ujar Marcos Santos.

Marcos jujur. Ia tidak puas dengan posisi Arema yang tercecer di papan tengah. Namun, ia meminta semua pihak objektif.
Sepanjang musim, badai cedera dan akumulasi kartu konstan menghantam lini belakang Arema. Akibatnya, ia terpaksa melakukan bongkar-pasang bek tengah secara ekstrem di awal kompetisi. Stabilitas pertahanan sempat goyah.
Beruntung, di fase akhir liga, para pemain menunjukkan dedikasi luar biasa. Mereka mengorbankan waktu bersama keluarga demi memeras keringat di lapangan latihan.
Bagaimana soal masa depannya di Malang? Kontraknya memang akan habis. Ruang isu sempat liar. Namun, Marcos melempar sinyal positif.
“Mengenai kepastian apakah saya akan bertahan atau tidak, kami sedang membicarakannya dengan pihak manajemen klub. Pembicaraan dengan jajaran direksi sudah cukup matang dan berjalan ke arah yang positif. Namun, mari kita tunggu hingga pertandingan terakhir selesai. Fokus utama kami saat ini adalah memenangkan pertandingan,” tegasnya.
Walisson Maia: Pulih Total dari Patah Tulang
Di samping pelatih, berdiri kokoh bek asing Walisson Maia. Pemain asal Negeri Samba ini mengaku sempat terkejut dengan atmosfer sepak bola Indonesia.
“Saat masih di Brasil, kami tidak memiliki gambaran yang utuh mengenai besarnya dimensi klub Arema serta seketat apa persaingan di liga ini. Kompetisinya berjalan sangat kompetitif,” aku Walisson.
Enam bulan pertama Walisson di Malang berjalan dramatis. Ia sempat dihantam cedera mengerikan: patah tulang. Beruntung, tim medis Arema bekerja taktis. Hari ini, Walisson menegaskan kondisinya sudah pulih 100 persen dan siap berduel satu lawan satu dengan penyerang lawan.
Tim analis Arema sudah membedah kekuatan PSIM. Laskar Mataram punya hulu ledak berbahaya di sektor sayap yang dihuni pemain-pemain berkecepatan tinggi.
“Menghapi tim seperti ini, kami harus menjaga tingkat konsentrasi tetap tinggi sepanjang laga demi meredam poin-poin kuat mereka. Jika kami mampu tampil kokoh di belakang dan menjaga gawang agar tidak kebobolan, rekan-rekan kami di lini depan pasti akan mendapatkan momentum,” kata Walisson, optimis.
Marcos Santos diprediksi akan memakai skema modern 3-4-2-1. Trio lini belakang akan dikunci oleh Hansamu Yama, Walisson Maia, dan Julian Guevara untuk membentengi kiper Lucas Frigeri. Di lini tengah, motor serangan diserahkan kepada gelandang muda Arkhan Fikri bersama Betinho. Sementara di lini depan, ketajaman Dalberto Luan Belo kembali menjadi tumpuan utama untuk merobek jala Cahya Supriadi.
Stadion Kanjuruhan diprediksi akan membara besok malam. Kemenangan pekan lalu saat melumat PSBS Bi 5-2 menjadi modal psikologis yang sangat mewah. Kini, Aremania tinggal datang memenuhi tribun, bertindak sebagai bahan bakar terakhir guna mengantar Singo Edan menutup musim dengan senyuman kemenangan. (Ra Indrata)
Perkiraan Susunan Pemain
Arema FC (3-4-2-1): Lucas Frigeri; Hansamu Yama, Walisson Maia, Julian Guevara; Rio Fahmi, Betinho, Arkhan Fikri, Johan Farizi; Gustavo Franca, Joel Vinicius; Dalberto Luan. Pelatih: Marcos Santos.
PSIM Yogyakarta (4-2-3-1): Cahya Supriadi; Raka Cahyana, Ramos Minggo, Jop van der Avert, Yusaku Yamadera; Muhammad Iqbal, Ghulam Fatkur; Ezequiel Vidal, Ze Valente, Riyatno Abiyoso; Deri Corfe. Pelatih: Jean-Paul van Gastel.




