MALANG – Universitas Islam Malang (Unisma) secara resmi memperluas cengkeraman jejaring akademiknya di benua Eropa, melalui kunjungan misi strategis ke Constructor University di Bremen, Jerman, pada Rabu (3/6/2026). Delegasi tingkat tinggi yang dipimpin langsung oleh Rektor Unisma, Prof. Drs. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D., ini sukses menembus kesepakatan konkret dengan jajaran pimpinan universitas Jerman tersebut untuk menggolkan program Adjunct Professorship, riset multidisiplin global, hingga pembukaan peluang hibah internasional bagi dosen dan mahasiswa.
Menjadi kampus kelas dunia itu tidak bisa diraih hanya dengan duduk manis di Dinoyo. Tidak cukup dengan mengandalkan ruang kuliah yang megah atau jumlah mahasiswa yang ribuan. Jaringannya harus internasional. Mutu risetnya harus diakui dunia.
Prinsip itulah yang sedang dipraktikkan secara radikal oleh Universitas Islam Malang. Populer disebut Unisma.
Rabu, 3 Juni lalu. Sebuah delegasi penting dari Malang mendarat di Jerman. Tidak tanggung-tanggung, pasukannya dipimpin langsung oleh sang Rektor, Prof. Drs. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D.

Prof Junaidi tidak sendirian. Ia membawa gerbong inti pertahanan kampus. Ada Ketua Umum Yayasan Unisma, Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, S.P., M.P. Ikut pula Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, SDM, dan Keuangan, Dr. H. Ronny Malavia Mardani, S.E., M.M., MOS. Serta sang motor penggerak hubungan luar negeri, Ketua Lembaga Urusan Internasional, Dr. Imam Wahyudi Karimullah, S.S., M.A.
Sasarannya jelas: Constructor University di Kota Bremen. Sebuah kampus dengan reputasi internasional yang disegani di Eropa.
Di Bremen, rombongan dari Malang ini disambut hangat. Yang menerima adalah orang nomor satu di bidang akademik sana: Dr. Frazer Cairns. Jabatannya komplet: Provost, Vice-President, sekaligus Head of Academic Operations. Dr. Frazer ini bukan sosok sembarangan. Beliau adalah pakar dunia dalam urusan internasionalisasi pendidikan tinggi dan kepemimpinan akademik multibahasa.
Menariknya, di samping Dr. Frazer, berdiri seorang profesor yang wajahnya sangat akrab. Sangat Indonesia. Beliau adalah Prof. Dr.-Ing. Hendro Wicaksono.
Prof Hendro adalah aset bangsa yang bersinar di Jerman. Di Constructor University, beliau menjabat sebagai profesor sekaligus kepala research group Data-Driven Industrial Systems. Keberadaan Prof Hendro di sana tentu menjadi jembatan emosional yang sangat menguntungkan bagi Unisma.
Pertemuan berlangsung gayeng. Hangat. Visi kedua kampus ternyata langsung klik. Satu frekuensi.

Hasilnya? Unisma pulang tidak dengan tangan hampa. Mereka tidak sekadar berfoto formalitas lalu pulang membawa dokumen MoU yang berujung masuk laci. Pertemuan di Bremen menghasilkan kesepakatan yang sangat padat dan konkret.
Ada lima poin kerja sama yang langsung dikunci:
- Pertama, pengembangan program Adjunct Professorship. Ini penting. Dosen dari Jerman bisa ikut mengajar atau membimbing di Malang, begitu juga sebaliknya.
- Kedua, pelaksanaan riset bersama (joint research).
- Ketiga, kolaborasi publikasi ilmiah di jurnal-jurnal bereputasi dunia.
- Keempat, kongsi menyusun proposal hibah riset internasional. Mencari dana penelitian dari lembaga donor global.
- Kelima, keterlibatan aktif dosen dan mahasiswa Unisma dalam proyek penelitian multidisiplin yang menjawab tantangan dunia.
Langkah taktis ini jelas menjadi energi baru bagi Unisma. Produktivitas riset kampus akan terkerek naik. Rekognisi atau pengakuan akademik Unisma di kancah internasional otomatis akan melompat lebih tinggi.

Rektor Unisma, Prof. Junaidi Mistar, tampak sangat puas dengan hasil diplomasi akademiknya. Bagi beliau, Constructor University adalah mitra yang sangat strategis. Rekam jejak globalnya tidak perlu diragukan lagi.
“Kami melihat peluang besar untuk mengembangkan kerja sama yang lebih konkret, terutama melalui program Adjunct Professorship, penelitian bersama, publikasi internasional, dan pengembangan jejaring akademik global. Kolaborasi ini diharapkan memberikan manfaat nyata bagi dosen, mahasiswa, dan kedua institusi,” tegas Prof Junaidi.
Sinyal positif itu ditangkap dengan antusias oleh Prof. Hendro Wicaksono. Sebagai sesama orang Indonesia, beliau bangga melihat komitmen Unisma yang begitu agresif memperluas sayap di Eropa. Sinergi ini diyakini akan membuka pintu lebar-lebar bagi inovasi teknologi dan pengembangan SDM Indonesia di panggung global.
Perjalanan ke Bremen ini sebenarnya adalah bagian dari safari misi internasional Unisma di benua Eropa. Sebuah kerja keras yang terukur untuk menaikkan kelas Unisma dari kampus lokal menjadi pemain global.
Kedua pihak kini sudah sepakat. Sesi diskusi sudah selesai. Aturan main sudah dibuat. Sekarang, saatnya pembuktian di lapangan melalui program aksi nyata yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh seluruh civitas akademika Unisma. Kita tunggu saja, kapan profesor dari Bremen mulai mengajar di Dinoyo. (M. Abd. Rachman Rozzi/Ra Indrata)




