DIBENAHI: Julian Guevara saat turun melawan PSBS Biak. Lini belakang yang dipandegani defender asal Brasil ini, mendapatkan perhatian khusus pelatih sebelum menjamu PSIM. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Manajemen dan tim pelatih Arema FC menegaskan, tidak akan mengendurkan tempo permainan sedikit pun, saat menjamu PSIM Jogja pada laga terakhir kompetisi Super League 2025/2026, yang akan digeber di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Jumat sore (22/5/2026).
Meski kompetisi kasta tertinggi ini tinggal menyisakan satu partai pamungkas, skuad Singo Edan tetap memburu kemenangan mutlak, demi memperbaiki posisi di klasemen akhir. Sekaligus membalas memori pahit pada pertemuan pertama lalu.
Musim kompetisi hampir habis. Bagi sebagian tim yang sudah aman dari degradasi, laga terakhir biasanya hanya jadi formalitas. Panggung hiburan. Ajang bagi-bagi menit bermain untuk pemain cadangan.
Tapi jangan harap itu terjadi di bawah kendali Marcos Santos. Pelatih kepala Arema FC asal Brasil itu emoh santai. Ia mengharamkan anak asuhnya berleha-leha di depan publik sendiri.
“Kami ingin memberikan yang terbaik dan hal positif bagi suporter Arema. Ini bukan sekadar laga penutup. Kami harus berusaha memberi performa terbaik untuk menutup kompetisi dengan baik, serta mencoba naik posisi di klasemen,” ujar Marcos Santos tegas.
Sama-Sama 45 Poin, Rebutan Papan Tengah
Motivasi Arema sedang tinggi. Pekan lalu, mereka baru saja mengamuk di Bantul dengan melumat PSBS Biak lewat skor mencolok 5-2. Kemenangan besar itu mendongkrak posisi Singo Edan ke peringkat ke-9 klasemen sementara dengan koleksi 45 poin dari 33 laga—hasil dari 12 kali menang, 9 kali seri, dan 12 kali kalah.
Peluang naik kelas masih terbuka. Targetnya adalah menyodok ke posisi delapan besar yang saat ini dihuni Bali United dengan selisih hanya tiga angka.
Namun, lawan yang datang ke Kanjuruhan nanti bukan tim semenjana. PSIM Jogja datang dengan amunisi motivasi yang sama persis. Laskar Mataram juga mengoleksi 45 poin. Mereka hanya kalah selisih gol dari Persita Tangerang dan Arema sehingga harus rela tertahan di peringkat ke-11.
Siapa yang menang di Kanjuruhan, dialah yang berhak finis di papan tengah atas.
Selain urusan tabel klasemen, laga ini adalah urusan harga diri. Ada utang sejarah yang harus dibayar lunas oleh Arema.
Pada pertemuan pertama di Stadion Sultan Agung, 16 Agustus 2025 tahun lalu, kemenangan Arema yang sudah di depan mata buyar secara tragis.
Kala itu, penalti dingin Dalberto Luan Belo di menit ke-41 sudah membuat Arema unggul. Sialnya, dua menit sebelum bubar—menit ke-88—bek Roberto Pimenta Vinagre Filho justru mencetak gol bunuh diri. Skor berakhir imbang 1-1. Rasa sesak akibat gol bunuh diri itulah yang kini ingin ditebus di Kanjuruhan.
Sorotan Tajam: Lini Belakang yang Longgar
Namun, pesta gol 5-2 atas PSBS Biak pekan lalu ternyata tidak membuat mata Marcos Santos silau. Sebagai juru taktik yang jeli, ia justru gelisah. Ada ganjalan besar di hatinya.
Penyebabnya: lini pertahanan Arema dirasa masih hobi “sedekah” gol kepada lawan.
Bayangkan, sebelum bertemu Arema, PSBS Biak adalah tim yang sedang menderita kelaparan gol yang akut. Mereka mandul. Puasa membobol gawang lawan dalam lima pertandingan beruntun—mulai dari saat menghadapi Persija, Persijap, Malut United, Persebaya, hingga Dewa United.
Tapi, begitu bertemu benteng Arema di babak pertama, lini depan Biak mendadak bisa mencetak dua gol. Ini yang membuat Marcos Santos meradang.
“Terlepas dari kemenangan besar itu, kami tidak boleh mengabaikan dua gol yang bersarang ke gawang tim kami. Situasi seperti di babak pertama laga itu tidak boleh terulang kembali,” sentil Marcos.
Penyakit Malas Turun Setelah Menyerang
Marcos membedah anatomi kebocoran lini belakangnya secara gamblang. Gol pertama PSBS lahir dari skema serangan balik cepat yang memanfaatkan longgarnya sisi kiri lapangan Arema.
Gol kedua lebih fatal: terjadi handball di dalam kotak terlarang akibat kepanikan pemain belakang mengantisipasi bola.
Berdasarkan analisisnya, garis pertahanan Singo Edan cenderung melar dan longgar di momen-momen krusial. Pemain sering terlambat mengantisipasi bola kedua (second ball).
Penyakit utamanya adalah masalah kedisiplinan transisi. Beberapa pemain kerap keasyikan menyerang, lalu mendadak “malas” atau lambat kembali ke posisinya saat lawan melancarkan serangan balik kilat.
“Pertandingan mendatang pasti tidak akan mudah bagi kami. Apalagi lawan kali ini memiliki lini depan yang jauh lebih berbahaya,” aku Marcos jujur.
Sepekan ini, menu latihan di Malang diubah total. Fokusnya satu: menambal sulam pertahanan. Pasukan Arema digembleng habis-habisan untuk mematangkan skema antisipasi serangan lawan, baik lewat permainan terbuka (open play) maupun situasi bola mati (set piece).
Marcos Santos ingin memastikan bahwa saat peluit panjang berbunyi di Kanjuruhan Jumat sore nanti, Aremania pulang tidak hanya membawa cerita kemenangan, melainkan sebuah tontonan sepak bola yang disiplin, kokoh, dan bersih dari noda kelalaian di lini belakang. (Ra Indrata)




