MALANG POST – Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB), dr. Andrew William Tulle, M.Sc, SpMK, menjadi pemateri dalam Webinar Sinau IDI Malang Raya, Rabu (13/5/2026). Acara kolaborasi antara IDI Malang Raya, RSUD Dr. Saiful Anwar dan UB ini mengusung tema “Kesiapsiagaan Fasyankes Menghadapi Emerging Zoonosis Hantavirus.”
Tujuannya untuk memperkuat pengetahuan tenaga kesehatan tentang ancaman penyakit zoonosis yang berpotensi menjadi masalah global.
Dalam paparan berjudul “Hantavirus: Memahami Virologi, Reservoir dan Diagnosis Laboratorium,” Andrew menjelaskan bahwa Hantavirus sebenarnya sudah lama dikenal di dunia, tetapi masih kurang dipahami di Indonesia. Karena itu, peningkatan literasi tenaga kesehatan menjadi kunci agar kesiapsiagaan dapat dibangun sejak dini.
Hantavirus berasal dari famili Bunyaviridae, genus Orthohantavirus. Virus ini ditularkan dari hewan pengerat ke manusia dan dapat menyebabkan penyakit dengan tingkat keparahan tinggi. Data global menunjukkan sekitar 150.000 hingga 200.000 kasus Hantavirus terjadi setiap tahun di berbagai negara, mayoritas di Asia. Namun, peningkatan kasus juga dilaporkan di Amerika dan Eropa.
“Ini menjadi sinyal bahwa ancaman Hantavirus terus berkembang dan memerlukan kewaspadaan global, termasuk di Indonesia yang memiliki populasi rodent tinggi dan lingkungan tropis mendukung keberadaan reservoir penyakit zoonosis,” ungkapnya.
Andrew menjelaskan, Hantavirus menyebabkan dua sindrom klinis utama: Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa, serta Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS) yang dominan di Amerika.
HFRS ditandai demam, gangguan ginjal, perdarahan, dan trombositopenia, sedangkan HCPS lebih banyak menyerang sistem pernapasan dan kardiovaskular dengan tingkat fatalitas tinggi.
“Perbedaan manifestasi klinis ini penting dipahami tenaga kesehatan agar kewaspadaan klinis meningkat ketika menemukan gejala yang mengarah pada infeksi zoonosis,” jelasnya.
Salah satu konsep penting dalam virus ini adalah “One Rodent – One Virus” yang menjelaskan bahwa setiap spesies Hantavirus biasanya berhubungan spesifik dengan satu jenis rodent tertentu sebagai reservoir alami.
“Hampir setiap jenis Hantavirus memiliki host spesifik. Ada keterkaitan kuat antara virus dengan spesies rodent tertentu,” terangnya.

Webinar “Kesiapsiagaan Fasyankes Menghadapi Emerging Zoonosis Hantavirus”. (Foto: Istimewa)
Penularan antarrodent terjadi melalui gigitan, kontak langsung, maupun aerosol. Sementara itu, manusia hanya menjadi accidental dead-end host, inang tidak sengaja yang tidak melanjutkan rantai penularan ke rodent lain.
“Penularan utama ke manusia biasanya terjadi saat membersihkan gudang, bangunan lama, atau area tertutup yang banyak dihuni tikus. Debu yang tercampur partikel virus terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.”
“Penularan juga bisa melalui kontak langsung dengan rodent terinfeksi, seperti gigitan atau paparan ekskreta pada membran mukosa dan luka terbuka. Penularan lewat makanan dan air yang terkontaminasi masih memiliki bukti ilmiah terbatas, meski tetap perlu diwaspadai,” jelasnya.
Andrew juga menyebut Andes virus, satu-satunya jenis Hantavirus dengan bukti transmisi antarmanusia, meski terbatas melalui droplet dan kontak erat.
“Meski penularan antarmanusia sangat jarang, fenomena ini menunjukkan bahwa evolusi dan adaptasi virus tetap perlu diantisipasi,” ujarnya.
Dalam diagnosis laboratorium, Andrew menekankan pentingnya peran mikrobiologi klinik untuk konfirmasi kasus Hantavirus. Pemeriksaan seperti ELISA, RT-PCR, dan Immunohistochemistry (IHC) menjadi metode utama.
Edukasi masyarakat juga menjadi bagian penting dalam strategi pencegahan. Masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan tikus atau kotorannya, serta menggunakan alat pelindung diri seperti masker N95 saat membersihkan area berdebu yang berpotensi terkontaminasi.
“Kesadaran masyarakat adalah salah satu kunci utama mencegah penyebaran penyakit zoonosis,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara dokter klinis, ahli laboratorium, dokter hewan, dan ahli lingkungan dalam membangun sistem respons terpadu terhadap ancaman zoonosis.
“Kolaborasi lintas disiplin sangat penting. Pendekatan One Health tidak bisa dijalankan satu sektor saja karena kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling berkaitan,” tegasnya.
Selain Andrew, webinar ini juga menghadirkan Dr. dr. Didi Candradikusuma, SpPD, K-PTIC, dari Perkumpulan Pengendalian Infeksi Indonesia (PERDALIN). Ia memaparkan perkembangan wabah Andes virus di kapal pesiar MV Hondius pada April-Mei 2026. Wabah tersebut menginfeksi sekitar 12 orang, dengan 9 kasus terkonfirmasi positif dan 3 kematian dari total 149 penumpang serta kru kapal.
Kasus pertama diduga tertular di daratan Amerika Latin sebelum kapal berangkat dari Ushuaia, Argentina. Kondisi geografis yang terpencil, seperti di South Georgia, membuat evakuasi dan penanganan medis cukup menantang karena keterbatasan akses fasilitas kesehatan.
Menurut Didi, WHO menilai risiko global wabah tersebut masih rendah karena belum ditemukan bukti penyebaran luas antarmanusia maupun indikasi potensi pandemi yang signifikan.
Pada sesi berikutnya, Dr. dr. Ninik Budiarti, SpPD, K-PTI, dari Perhimpunan Peneliti Tropik dan Infeksi (PETRI) Malang Raya, menyoroti kondisi Hantavirus di Indonesia. Menurutnya, penyakit ini sering tidak terdiagnosis dengan baik karena gejala awalnya mirip dengan demam berdarah dengue, leptospirosis, tifoid, hingga rickettsiosis. Akibatnya, banyak kasus luput dari perhatian tenaga kesehatan.
“Hantavirus sering terlewat karena gejala awalnya sangat mirip dengan penyakit infeksi tropis lainnya,” ujarnya.
Dr. Ninik menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap gejala klinis yang mengarah pada infeksi Hantavirus, seperti demam akut disertai trombositopenia, gagal ginjal akut tanpa penyebab jelas, sesak napas progresif, edema paru non-kardiogenik, syok yang tidak responsif terhadap terapi cairan, hingga perdarahan spontan.
“Disfungsi organ spesifik, baik ginjal maupun paru, harus menjadi perhatian penting dalam menentukan tata laksana dan kecepatan rujukan pasien,” tegasnya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




