MALANG POST – Klub futsal kebanggaan Malang, Unggul FC, sukses menumbangkan perlawanan sengit Pangsuma FC dengan skor ketat 7-5, dalam lanjutan pekan ke-13 kompetisi Pro Futsal League (PFL) 2025-2026, di GOR Ken Arok, Kota Malang, Minggu malam (17/5/2026).
Sayangnya, kendati Unggul FC berhasil menyapu bersih enam poin penuh di seri kandang ini, kemenangan dramatis tersebut resmi menutup peluang kedua tim, untuk menembus babak final four.
Laga malam itu sejatinya adalah laga hidup mati yang semu. Kedua tim tahu taruhannya. Sebelum peluit pertama berbunyi, Unggul FC dan Pangsuma FC, masih mengintip peluang tipis ke empat besar.
Namun, takdir berkata lain. Di seri Malang kali ini, sang raksasa Bintang Timur Surabaya (BTS) tampil tanpa cela. Dua kemenangan beruntun diraup BTS, mengunci posisi empat besar, sekaligus memutus harapan anak-anak Malang dan Pontianak.
Maka, laga di Ken Arok berubah menjadi panggung harga diri. Dan di atas lapangan, Unggul FC memilih mengamuk sejak menit awal.
Panggung Edan Wellington Pereira
Andres Josue Teran mengawali serangan dengan penuh percaya diri. Dominasi tuan rumah terasa mutlak. Hasilnya mengerikan: babak pertama ditutup dengan keunggulan telak Unggul FC, 4-1.
Bintangnya malam itu tunggal: Wellington Pereira. Pemain asing andalan Unggul FC ini tampil seperti kesurupan. Skema permainan agresif yang diterapkan tim pelatih berhasil dimanfaatkan dengan sempurna olehnya.
Tidak tanggung-tanggung, Wellington memborong lima gol alias quattrick plus satu ke gawang Pangsuma.
Tambahan lima gol itu menasbihkan dirinya sebagai top skor sementara PFL 2025-2026 dengan koleksi fantastis: 27 gol. Dua gol sisa Unggul FC malam itu, disumbangkan oleh Andres Dwi dan sang kreator, Andres Josue Teran.

URUNG: Penalti yang diambil Wellington Pereira, gagal menambah pundi-pundi golnya. Tapi lawan Pangsuma FC, Minggu (17/5/2026) malam itu, Wellington mencetak lima gol. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Namun, futsal adalah olahraga dinamis. Pangsuma FC bukan tim kemarin sore. Memasuki pertengahan babak kedua, klub asal Pontianak itu mulai terbangun dari tidur. Mereka mengamuk.
Pelatih Pangsuma, Wahyudin, menginstruksikan strategi radikal: power play. Kiper ikut maju menyerang. Hasilnya instan, babak kedua mereka berhasil menyarangkan empat gol tambahan.
Sementara Unggul FC hanya menambah tiga gol. Skor bergerak liar hingga berakhir di angka 7-5 untuk kemenangan Malang.
Suara dari Bench Unggul FC: Maaf untuk Final Four
Usai laga, atmosfer haru sekaligus bangga menyelimuti kubu Unggul FC. Analis tim, Ageng Guntoro, mewakili jajaran pelatih langsung menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam kepada publik Malang.
“Alhamdulillah, kita berhasil mendapatkan enam poin di Malang. Ini berkat doa penonton di rumah dan kerja keras anak-anak serta staf. Intinya kita semua bersyukur, apa yang disiapkan jauh-jauh hari membuahkan hasil,” ujar Ageng dengan rona lega.
Namun, sebagai analis, ia tidak menutup mata atas jebolnya lini pertahanan mereka sebanyak lima kali di babak kedua. Evaluasi total akan diserahkan kepada head coach Andre Brocanelo.
Selain itu, dengan jantan Ageng menyampaikan permohonan maaf terbuka kepada Aremania atas kegagalan menembus final four. Beberapa pertandingan krusial di seri sebelumnya meleset dari target.
“Ini tahun pertama pelatih bersama tim. Harusnya tidak ada alasan adaptasi, tapi beliau memang butuh waktu melihat calon lawan yang belum pernah dihadapi di Indonesia. Mudah-mudahan di tahun keduanya kita bisa bawa piala,” harapnya optimis.
Sikap Ksatria Coach Wahyudin
Di sudut lain, ruang ganti Pangsuma FC diselimuti kekecewaan mendalam. Pelatih mereka, Wahyudin, tidak mau mencari kambing hitam. Ia tampil sangat ksatria di depan awak media.
“Tidak ada alasan bagi kita, dan tidak ada alasan untuk saya pribadi untuk menjelaskannya. Kami gagal, ya gagal. Konsekuensinya, tanggung jawab buat saya pribadi,” tegas Wahyudin tanpa tedeng aling-aling.
Ketika ditanya wartawan soal rapuhnya babak pertama dan petaka power play, Wahyudin membedah taktiknya dengan jernih. Menurutnya, biang keladi kekalahan adalah kesalahan individu (individual error) di dua seri terakhir.
Strategi power play yang ia usung ibarat pisau bermata dua. Ada yang berhasil menghasilkan gol, namun ada juga yang gagal dan justru membuat gawang mereka, terperangkap serangan balik cepat Unggul FC yang mematikan.
“Sebenarnya dari pandangan mata saya, peluang kita dari babak pertama sampai babak kedua itu lebih banyak dari lawan. Cuma sayang, tidak bisa dikonversi menjadi gol. Lawan bermain lebih efektif,” tutup Wahyudin evaluatif.
Selesai sudah drama di Ken Arok. Unggul FC berada di posisi kelima dan Pangsuma di peringkat keenam klasemen hingga pekan ini. Mereka memang gagal melaju ke fase puncak, namun hujan 12 gol malam itu membuktikan bahwa kelas dan hiburan bermutu tinggi tetap tersaji hingga detik terakhir kompetisi. (Ra Indrata)




