MALANG POST – Geliat penjualan kambing kurban menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah di Kota Batu, mulai marak di sejumlah titik. Salah satunya di kawasan Jalan Sultan Agung.
Namun, para pedagang musiman di sentra wisata ini, harus memutar otak lebih keras. Daya beli masyarakat pada musim kurban tahun ini, dirasakan jauh lebih lesu dibandingkan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya.
Iduladha tinggal menghitung hari. Lapak-lapak bambu sudah berdiri. Bau khas prengus kambing mulai menyengat hidung pengguna jalan. Tapi ada yang kurang: kerumunan pembeli.
Muhammad Subhan adalah salah satunya. Pria ini sudah menggelar lapak musiman di Jalan Sultan Agung sejak dua pekan lalu. Di atas trotoar itu, ia mencoba peruntungan.
“Kami sudah hampir dua pekan ini berjualan. Sekarang stoknya ada sekitar 22 ekor kambing jenis Jawa,” ujar Subhan saat ditemui di lapaknya, Minggu siang (17/5/2026).
Ada pasang, ada surut. Subhan tahu betul itu. Separuh dari puluhan kambing berwajah tenang itu adalah hasil ternaknya sendiri. Sisanya? Ia datangkan dari luar daerah. Istilahnya: kulakan. Langkah itu terpaksa diambil demi menjaga variasi bobot dan selera pasar orang Batu yang terkenal pemilih.
Hitung-hitungan yang Meleset
Namun, matematika pasar tahun ini agak seret. Dari 22 ekor modal hidup yang ia bawa ke kota, baru lima ekor yang berpindah tangan. Itu pun setelah dua minggu memeras keringat di bawah terik matahari dan dinginnya angin Kota Batu.

BERI PAKAN: Salah seorang penjual kambing musiman di Kota Batu, M Subhan saat memberi pakan kambing daganganya, ia mengeluhkan jelang momen Idul Adha penjual kambing masih lesu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Padahal, tahun lalu grafiknya mentereng. Dalam sepekan saja, Subhan bisa melepas 10 hingga 15 ekor kambing tanpa banyak drama nego harga.
“Sekarang seminggu cuma laku sekitar lima ekor. Jadi memang terasa agak sepi dibanding tahun lalu,” ungkapnya dengan nada datar. Khas pedagang yang sudah kenyang makan asam garam.
Bukan soal harga rasanya. Subhan memasang tarif rasional. Fleksibel, tergantung isi dompet pembeli. Ada kambing ukuran ekonomis seharga Rp2,5 juta. Ada juga kelas premium—yang besar, kekar, dan berbulu bersih—dilepas di angka Rp8 juta per ekor. Semua opsi tersedia.
Karena pasar sedang “batuk”, Subhan memakai jurus selamat: rem stok. Ia emoh berspekulasi menimbun banyak hewan kurban di lapak jalanan. Risikonya terlalu besar. Biaya pakan jalan terus, sementara pembeli belum tentu datang.
“Dengan kondisi seperti ini, saya tidak berani menyetok terlalu banyak. Kalau habis ya nanti kulakan lagi. Kami lihat dulu perkembangan pasarnya,” katanya membeberkan strategi. Logika bisnis yang sehat. Lebih baik kurang stok daripada nomok modal.
Bonus Layanan Gratis dan Jaminan Sehat
Menariknya, lesunya pasar tidak membuat servis Subhan ikut lesu. Ia tahu cara memanjakan konsumen setianya. Lima ekor kambing yang sudah laku, ternyata tidak langsung dibawa pulang oleh pembeli. Semuanya masih tertinggal di lapaknya, mengunyah rumput dengan lahap.
Mengapa? Ternyata banyak warga kota yang tidak punya halaman luas, tidak punya kandang, atau sekadar tidak punya waktu untuk merawat embek-embek itu sampai hari penyembelihan tiba.
Subhan pun membuka jasa penitipan. Hebatnya: gratis. Nol rupiah.
“Banyak yang sudah beli tapi dititipkan di sini. Kami tidak memungut biaya sampai hari H. Itu bagian dari pelayanan kami kepada pembeli,” jelasnya tersenyum. Sebuah strategi komunikasi pemasaran tradisional yang ampuh mengikat hati pelanggan.
Lantas, bagaimana dengan urusan keabsahan syariat dan kesehatan? Subhan menjamin seluruh kambing Jawa miliknya dalam kondisi prima, jantan, cukup umur, dan tidak cacat fisik.
Ia juga sangat terbuka dengan regulasi. Biasanya, Pemerintah Kota Batu melalui dinas terkait tidak akan tinggal diam. Petugas medis veteriner rutin turun ke jalanan untuk melakukan sidak berkala.
“Biasanya sekitar lima hari sebelum hari kurban ada pemeriksaan dari petugas. Tapi saya pastikan kambing-kambing yang dijual di sini sehat dan memenuhi syarat untuk kurban,” tandasnya mantap.
Pasar boleh saja sepi, namun komitmen terhadap kualitas kurban dan pelayanan tampaknya tetap menjadi modal utama para pedagang di Kota Batu untuk menjemput berkah Iduladha. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




