PIMPINAN: Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi, bersama Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat launching QRISMA di Kayutangan Heritage. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Tekanan inflasi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, menunjukkan tren melandai, pasca-momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadan dan Idulfitri 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Kota Malang mencatatkan inflasi tipis sebesar 0,05 persen (mtm) pada April 2026, sementara Kota Probolinggo justru mengalami deflasi sebesar 0,65 persen (mtm) seiring dengan normalisasi permintaan masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, menjelaskan, terkendalinya angka inflasi ini tidak lepas dari sinergi kolaboratif Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di masing-masing wilayah, dalam menjaga stabilitas harga pangan.
“Tekanan inflasi di Kota Malang maupun Probolinggo pada April 2026 ini, masih sangat terjaga dan sejalan dengan kondisi di tingkat Provinsi Jawa Timur maupun Nasional.”
“Hal ini merupakan buah dari koordinasi solid TPID melalui berbagai aksi nyata di lapangan,” ujar Indra Kuspriyadi.
Kondisi IHK Kota Malang
Di Kota Malang, inflasi bulanan sebesar 0,05 persen (mtm) tercatat jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 0,34 persen (mtm).
Secara tahunan, inflasi Kota Malang berada di angka 2,70 persen (yoy). Angka ini lebih rendah dari inflasi Jawa Timur (2,85 persen yoy), namun masih sedikit di atas nasional (2,42 persen yoy).
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi motor utama dengan andil inflasi 0,48 persen (mtm). Komoditas seperti cabai rawit (0,20 persen), daging ayam ras (0,10 persen), telur ayam ras (0,07 persen), dan cabai merah (0,02 persen) mengalami kenaikan harga akibat tingginya permintaan dan kendala cuaca yang membatasi pasokan.

Selain pangan, kenaikan tarif angkutan udara dan BBM nonsubsidi (Pertamax & Pertamax Turbo) per 1 April juga memberi dampak pada IHK.
Meski demikian, inflasi tertahan oleh deflasi pada beberapa komoditas pasca-lebaran. “Penurunan harga daging ayam ras, cabai rawit, hingga emas perhiasan terjadi karena permintaan kembali normal serta masuknya masa panen raya di beberapa daerah penyangga,” tambah Indra.
Kota Probolinggo Catatkan Deflasi
Berbeda dengan Malang, Kota Probolinggo justru mencatatkan deflasi sebesar 0,65 persen (mtm) pada periode yang sama.
Secara tahunan, inflasi di kota pelabuhan ini berada di level 2,72 persen (yoy). Penurunan harga paling signifikan terjadi pada emas perhiasan dengan andil 0,25 persen, disusul daging ayam ras (0,18 persen), serta cabai rawit dan telur ayam ras (masing-masing 0,11 persen).
Uniknya, di Probolinggo, penurunan harga emas didorong oleh tren masyarakat yang menjual kembali perhiasan mereka, untuk memenuhi kebutuhan likuiditas pasca-pengeluaran besar saat Lebaran.
Sementara itu, komoditas minyak goreng masih memberikan andil inflasi tipis sebesar 0,01 persen (mtm) akibat kenaikan harga CPO global dan biaya logistik.
Sinergi GNPIP dan Program 4K
Keberhasilan menjaga stabilitas harga ini didukung oleh rentetan kegiatan TPID selama April 2026.
Di Malang, langkah konkret meliputi sidak stok LPG 3 kg, panen cabai, hingga tanam padi serentak di Kelurahan Mulyorejo. Sedangkan di Probolinggo, Gerakan Pangan Murah (GPM) dan penyusunan neraca pangan mingguan menjadi kunci utama.
Ke depan, Bank Indonesia Malang berkomitmen terus memperkuat Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“Kami akan terus melanjutkan penguatan program 4K—Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, serta Komunikasi efektif—untuk memastikan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran 2,5 ± 1 persen (yoy),” tegas Indra Kuspriyadi. (Ra Indrata)




