Ps Kasi Humas Polres Batu, Iptu M. Huda Rohman. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
MALANG POST – Misteri penyebab tewasnya dua warga, akibat dugaan minuman keras (miras) oplosan, di sebuah rumah kontrakan produksi tempe di Jalan Sarimun, Desa Beji, Kecamatan Junrejo, mulai menemukan titik terang.
DW (40), satu-satunya saksi kunci yang selamat dalam tragedi maut tersebut, dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan medis yang positif, setelah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Punten, Kota Batu.
Kesaksian DW kini menjadi tumpuan utama penyidik Satreskrim Polres Batu, untuk mengungkap kronologi kejadian, asal-usul minuman, hingga kandungan zat kimia yang merenggut nyawa rekannya, KJ (36) dan IH (29), pada awal pekan lalu.
Ps Kasi Humas Polres Batu, Iptu M. Huda Rohman, mengonfirmasi, kondisi kesehatan DW telah berangsur stabil, setelah sempat mengalami penurunan fungsi organ tubuh yang signifikan, akibat efek zat cair yang dikonsumsinya.
“Saat ini yang bersangkutan masih dalam observasi tim medis di Rumah Sakit Punten. Kabar baiknya, kondisinya sudah mulai membaik dibandingkan saat pertama kali dilarikan ke RS,” ujar Iptu M. Huda Rohman kepada Malang Post, kemarin.
Proyeksi Rawat Jalan dan Agenda Pemeriksaan
Pihak kepolisian terus memantau progres kesehatan DW secara berkala. Jika tren kesembuhan ini konsisten, polisi memproyeksikan DW dapat segera meninggalkan rumah sakit untuk menjalani pemulihan di rumah.
“Kami terus menunggu progresnya dari tim dokter. Jika dalam satu atau dua hari ke depan kondisi fisiknya sudah benar-benar fit, DW kemungkinan diperbolehkan untuk rawat jalan,” imbuh Huda.
Kendati demikian, Iptu Huda menegaskan, penyidik belum melakukan pemeriksaan secara mendalam atau meminta keterangan pro-justitia kepada DW.
Polisi sangat berhati-hati dan mengutamakan aspek kemanusiaan, dengan menunggu saksi benar-benar pulih secara fisik maupun psikis, agar keterangan yang diberikan akurat.
Kunci Pengungkapan Home Industry Tempe Beji
Keterangan DW dinilai menjadi potongan puzzle terakhir yang paling krusial. Sebagaimana diketahui, peristiwa memilukan ini bermula ketika DW, KJ, dan IH melakukan pesta miras di sebuah rumah kontrakan, yang juga berfungsi sebagai tempat industri rumahan tempe.
Tragedi ini berujung maut bagi dua rekan DW. Korban KJ ditemukan meninggal dunia di kediamannya pada Senin (4/5/2026) malam. Sementara IH sempat berjuang di ruang IGD, sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Baptis Batu pada Selasa (5/5/2026) dini hari.
“Dari saksi DW inilah nantinya, kita bisa mengetahui jenis minuman apa yang mereka konsumsi. Apakah ada campuran zat berbahaya lain, dan dari mana barang tersebut didapatkan. Ini kunci untuk menentukan langkah hukum selanjutnya,” papar Huda.
Penyelidikan Terus Bergulir
Hingga saat ini, Satreskrim Polres Batu masih melakukan pendalaman, dengan mengumpulkan berbagai barang bukti dari lokasi kejadian (TKP). Pemeriksaan terhadap sejumlah saksi di lingkungan sekitar Jalan Sarimun, juga terus dilakukan untuk memperkuat konstruksi perkara.
Polres Batu mengimbau masyarakat untuk menjauhi segala bentuk minuman beralkohol ilegal atau oplosan yang tidak jelas kandungannya.
Penyelidikan ini diharapkan dapat mengungkap jaringan peredaran miras berbahaya di wilayah Kota Batu, agar kejadian serupa tidak kembali terulang di masa depan. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




