SAYAP: Duel Dalberto dengan Telmo Ferreira tidak terelakkan lagi. Karena kedua pemain memang head to head di sektor sayap. Meski keduanya sama-sama mencetak satu gol untuk tim masing-masing. (Foto: Arema Official)
MALANG POST – Skuadra Singo Edan tampaknya masih belum bisa bangkit dari trauma derbi Jawa Timur. Setelah menelan pil pahit kekalahan telak 0-4 dari Persebaya Surabaya pada pekan ke-30, Arema FC kembali dipaksa menyerah oleh sesama tim asal Jatim, Persik Kediri, dalam laga pekan ke-31 Liga 1 musim 2025/2026.
Bertanding di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, pada Minggu (3/5/2026), anak asuh Marcos Santos harus mengakui keunggulan tim Macan Putih dengan skor tipis 2-3. Meski berupaya mengejar di menit-menit akhir, rapuhnya koordinasi pertahanan di babak pertama menjadi biang kerok kegagalan Arema mencuri poin dalam laga tanpa penonton tersebut.
Kekalahan ini menjadi catatan kelam bagi Arema FC yang seolah kehilangan taring saat menghadapi tim-tim tetangga. Eksperimen lini belakang yang dilakukan pelatih asal Brasil, Marcos Santos, justru menjadi bumerang yang mematikan bagi gawang Lucas Frigeri.
Eksperimen ‘Judi’ Lini Belakang yang Gagal Total
Dalam laga yang dipimpin oleh wasit Yoko Suprianto ini, Marcos Santos tampak mencoba melakukan perjudian dengan merombak total komposisi pemain bertahan. Hanya Rio Fahmi yang tetap dipertahankan sebagai bek sayap kanan. Sisanya, benar-benar formasi baru yang minim chemistry.
Walisson Maia yang baru saja pulih dari cedera dipaksa tampil sebagai starter, diduetkan dengan Anwar Rifai di jantung pertahanan. Sementara itu, posisi bek sayap kiri yang biasanya dikunci oleh sang kapten Johan Alfarizi, kali ini diserahkan kepada Leo Guntara.
Hasilnya? Benar-benar kacau. Koordinasi antara keempat pemain ini tampak sangat berantakan, meninggalkan lubang menganga yang dengan mudah dieksploitasi oleh para pemain cepat Persik Kediri.
Babak Pertama: Panggung Bagi Ernesto Gomez
Keroposnya benteng pertahanan Arema FC langsung dimanfaatkan Persik untuk berpesta di babak pertama. Laga baru berjalan delapan menit, gawang Lucas Frigeri sudah jebol.
Berawal dari pergerakan Telmo Ferreira di sektor kanan kotak penalti, sebuah umpan cutback matang dikirimkan ke tengah.
Ernesto Gomez Munoz yang datang dari lini kedua tanpa pengawalan (coming from behind) dengan mudah melepaskan tendangan placing. Frigeri sempat menyentuh bola, namun derasnya laju si kulit bundar tak terbendung masuk ke pojok gawang.
Tak berhenti di situ, pada menit ke-28, kesalahan fatal dilakukan Anwar Rifai saat membuang bola. Bola liar berhasil direbut Bayu Otto yang langsung memberikan umpan manja kepada Telmo Ferreira.
Lucas Frigeri yang sudah keluar dari posisinya hanya bisa terpaku melihat Telmo menceploskan bola ke gawang yang sudah melongpong. Skor berubah menjadi 0-2.
Menjelang turun minum, tepatnya menit ke-43, Ernesto Gomez mencetak brace (gol kedua). Gol ini tergolong memalukan bagi pertahanan Arema.
Para bek Singo Edan seolah terhipnotis dan hanya melakukan ball watching saat Ernesto meliuk-liuk melewati hadangan pemain belakang.
Tidak ada pressing ketat maupun man-to-man marking, hingga akhirnya Ernesto tinggal berhadapan satu lawan satu dengan Frigeri dan menutup babak pertama dengan keunggulan telak 0-3 untuk Persik.
Respons Terlambat di Babak Kedua
Memasuki babak kedua, Marcos Santos sadar bahwa timnya sedang dalam bencana. Perombakan besar-besaran dilakukan untuk menyuntikkan tenaga baru dan memperbaiki mentalitas pemain yang tampak down. Arema mulai mengambil alih kendali permainan dan mengurung pertahanan Macan Putih.
Namun, Persik Kediri yang sudah unggul tiga gol memilih bermain pragmatis dengan menerapkan strategi pertahanan gerendel. Rapatnya barisan belakang tim asuhan Marcelo Rospide ini membuat Arema kesulitan mencari celah.
Singo Edan baru bisa memperkecil ketertinggalan pada menit-menit akhir pertandingan. Dalberto Luan Belo berhasil memecah kebuntuan pada menit ke-86 lewat sundulan mautnya.
Memasuki masa injury time tepatnya menit ke-90, Walisson Maia mencetak gol kedua Arema lewat situasi bola mati, mengubah skor menjadi 2-3. Sayangnya, tambahan waktu yang diberikan wasit tidak cukup bagi Arema untuk menyamakan kedudukan.
Evaluasi Mendalam Jelang Akhir Musim
Kekalahan beruntun dalam laga derbi ini menjadi tamparan keras bagi manajemen dan tim pelatih. Marcos Santos mengakui bahwa masalah komunikasi di lini belakang menjadi faktor utama kekalahan tersebut.
“Kami mencoba melakukan perubahan untuk memberikan kesegaran, tapi ternyata pemain butuh waktu lebih untuk saling memahami di lapangan. Kami kebobolan karena kesalahan kami sendiri di babak pertama,” ujarnya usai laga.
Dengan hasil ini, Arema FC harus tertahan di papan tengah klasemen sementara Super League 2025/2026.
Singo Edan dituntut segera berbenah dan melupakan kekalahan menyakitkan ini, karena pekan depan tantangan yang tak kalah berat sudah menanti.
Fokus pada penguatan organisasi pertahanan dan kembalinya mentalitas petarung menjadi harga mati jika tidak ingin terus menjadi bulan-bulanan di sisa musim ini. (Ra Indrata)




