Pelatihan K3L bagi Guru dan Tendik K3L. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Bencana alam tak pernah meminta izin. Sadar akan hal itu, Universitas Brawijaya (UB) memastikan kesiapsiagaan para tenaga pendidik tidak hanya sebatas hafal teori, tetapi sudah menjadi kebiasaan.
Hal ini ditegaskan oleh Sekretaris Universitas UB, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si, saat membuka pelatihan Kesehatan Keselamatan dan Keamanan Lingkungan (K3L) bagi guru dan tenaga kependidikan di Brawijaya Smart School (BSS), awal pekan ini.
“Kita hukumnya wajib untuk mitigasi dan antisipasi. Bisa jadi kita kekurangan stok air karena tidak prepare. Ketika saluran biopori tidak dibersihkan. Jika terjadi, lalu apa yang bisa kita lakukan?,” tegas Tri di hadapan peserta.
Pelatihan yang menghadirkan pemateri dari Divisi K3L UB dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang ini bukan sekadar seremonial. Tri menekankan bahwa edukasi komunitas ini adalah kewajiban moral sivitas UB.
“Harapannya para guru di sini juga mawas terhadap K3 pada kondisi tertentu, misal pada saat bencana dan sebagainya,” ujar dosen Fakultas Pertanian tersebut.

Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., memberikan materi dalam Pelatihan Guru Brawijaya Smart School. (Foto: Istimewa)
Sambutan hangat datang dari Direktur BSS, Dr. Binti Maqsudah, M.Pd. Ia menilai kegiatan ini sangat relevan dengan visi sekolah.
“Kegiatan ini selaras dengan budaya kami sebagai sekolah yang aman, nyaman, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan. Harapannya, kegiatan ini tidak hanya untuk pemenuhan kewajiban, tapi juga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya.
Para peserta tidak hanya mendapatkan teori kelas. Prof. Dr. Ir. Qomariyatus Sholihah, Amd.Hyp, ST., M.Kes., selaku Kepala Divisi K3L UB, memberikan pemahaman mendalam tentang prinsip dasar K3L untuk individu dan lingkungan sekolah.
Sementara itu, dari BPBD Kota Malang, Dwi Hermawan Purnomo, S.STP (Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi) dan Surya Adhi Nugraha, S.T (Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik) memberikan materi spesifik tentang kesiapsiagaan menghadapi gempa bumi di lingkungan sekolah.
Yang membuat pelatihan ini berbeda, para peserta tidak hanya mendengarkan. Mereka langsung turun tangan dalam simulasi evakuasi saat bencana.
Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi perjanjian kerja sama antara Divisi K3L UB dan BPBD, sekaligus upaya nyata peningkatan kapasitas pengurangan risiko bencana, kesehatan, keselamatan kerja, dan lingkungan—baik untuk sivitas UB maupun masyarakat luas.
Dengan bekal ilmu dan praktik langsung ini, para guru BSS diharapkan bukan hanya menjadi pendidik, tetapi juga garda terdepan penyelamat saat darurat. Karena, selamat itu bukan soal takdir, tapi soal kebiasaan. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




