MALANG POST – Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: kenapa generasi yang paling paham teknologi justru sering menjadi generasi yang paling rentan secara finansial?
Ironi ini semakin nyata ketika kita menyaksikan sendiri. Mungkin di lingkungan kita, adik sepupu, teman kos, atau bahkan diri kita sendiri. Perlahan terseret dalam pusaran konsumsi tanpa jeda.
FOMO bukan lagi sekadar istilah keren di Twitter, tetapi virus senyap yang menggerogoti tabungan, menumpuk utang PayLater, dan menjebak banyak anak muda dalam ilusi “kehidupan mewah” yang sebenarnya palsu.
Lihatlah sekeliling kita. Remaja yang baru lulus SMA sudah berani mencicil smartphone flagship lewat aplikasi pinjol.
Mahasiswa yang masih bergantung uang saku orang tua rela nongkrong di kafe mahal demi foto Instagram. Mereka paham betul teknis swipe-up dan filter TikTok, tetapi buta total membedakan mana aset dan liabilitas.
Ini bukan sekadar masalah gaya hidup. Ini adalah kegagalan sistem pendidikan yang selama ini terlalu sibuk mengajarkan cara “membuat kue” tetapi lupa mengajarkan cara “menyimpan dan membagi kuenya” dengan bijak.
Pelajaran PKWU di sekolah? Masih sebatas menjahit gantungan kunci atau membuat brownies, lalu dijual di bazar. Stop.
Kita tidak mengajarkan mereka bagaimana mengelola hasil penjualan itu, bagaimana menghindari utang kartu kredit di kemudian hari, atau bagaimana dana darurat sebenarnya adalah tameng hidup.
Ini bukan sekadar usulan—ini darurat. Yang kita butuhkan bukanlah seminar motivasi keuangan yang hanya jadi story di Instagram. Yang diperlukan adalah perubahan sistemik: literasi keuangan harus menjadi tulang punggung kurikulum, bukan tempelan.
Bayangkan jika sejak SMP, siswa sudah punya simulasi anggaran bulanan, belajar membedakan “aku butuh” vs “aku pengen” serta diajak menyusun rencana menabung untuk mimpi nyata—bukan sekadar jargon “nabung buat liburan”.
Namun, siswa tidak bisa berubah sendirian. Sekolah tidak bisa berjuang sendiri. Kita butuh gebrakan besar.
Kemendikbud harus berani turun tangan: revisi standar kompetensi lulusan, latih guru PKWU menjadi financial coach. Jalin kolaborasi konkret dengan OJK.
Bukan sekadar MoU seremoni, tetapi materi ajar yang hidup, kontekstual, dan relevan dengan ancaman digital sehari-hari.
Ini bukan sekadar soal uang. Ini soal masa depan.
Jika kita terus membiarkan anak muda tenggelam dalam budaya instant gratification, tanpa bekal literasi keuangan, maka kita sedang mencetak generasi yang cakap alat tetapi lemah kendali.
Generasi yang bisa menghasilkan uang dari internet, tetapi tidak tahu bagaimana menyimpannya dengan aman.
Kemandirian ekonomi tidak dimulai dari rekening penuh, tetapi dari pemahaman yang matang. Jika kita ingin anak-anak Indonesia thrive—bukan sekadar bertahan—di era ekonomi digital yang kejam, maka literasi keuangan bukan lagi pilihan.
Ia adalah keharusan yang tidak bisa ditawar lagi. (Penulis: Adelia Rahma)




