MALANG POST – Universitas Brawijaya (UB) sukses menuntaskan seluruh rangkaian Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 dengan catatan impresif.
Wakil Rektor 1 Bidang Akademik UB, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, memastikan pelaksanaan ujian bagi 16.225 peserta yang terbagi dalam 11 sesi tersebut berjalan lancar tanpa ditemukan adanya indikasi tindak kecurangan (zero fraud).
Keberhasilan ini diklaim sebagai buah dari sistem pengamanan berlapis yang jauh lebih matang dibandingkan tahun sebelumnya.
Prof. Imam Santoso menyebutkan, koordinasi intensif antara panitia pusat dan daerah menjadi kunci utama suksesnya penyelenggaraan seleksi masuk perguruan tinggi tersebut.
“Penyelenggaraan UTBK tahun ini jauh lebih bagus. Panitia pusat sudah sangat antisipatif dalam mencegah potensi kecurangan, salah satunya dengan sistem penentuan lokasi ujian secara acak yang baru diinformasikan kepada peserta pada H-7 sebelum ujian,” ujar Prof. Imam Santoso, saat menjadi narasumber talk show di program Idjen Talk City Guide FM, Selasa (28/4/2026).
Tekan Potensi ‘Main Belakang’ dari Masyarakat
Secara sistemik, Prof. Imam menganalisis, potensi kecurangan biasanya dipicu oleh dua pihak, yakni penyelenggara dan masyarakat atau orang tua wali murid.
Ia tak memungkiri, ekspektasi tinggi orang tua agar anaknya menembus program studi (prodi) favorit seringkali memicu tindakan yang melanggar etika.
Guna membentengi integritas ujian, UB menerapkan prosedur pemeriksaan fisik yang sangat ketat di setiap pintu masuk ruangan.
Panitia menyiagakan petugas dengan metal detector, pemeriksaan senter telinga untuk mendeteksi perangkat audio tersembunyi, hingga pengawasan melalui jaringan CCTV.
“Kami juga melakukan sosialisasi aktif kepada orang tua wali serta memberlakukan aturan ketat bagi tim teknis dan pengawas.”
“Seluruh pengawas dilarang keras mengoperasikan ponsel selama bertugas untuk menjamin sterilitas area ujian,” tegasnya.
Pendidikan Karakter: Mengasah Integritas Sejak Dini
Senada dengan hal tersebut, Pengamat Pendidikan sekaligus Mantan Rektor UIN Maliki Malang, Prof. Dr. K.H. Imam Suprayogo, menekankan bahwa teknologi canggih saja tidak cukup untuk memberantas kecurangan.
Menurutnya, fondasi kejujuran harus dibangun melalui pendekatan hati dan spiritualitas.
“Salah satu cara fundamental untuk mengurangi kecurangan adalah mendidik hati.”
“Pendekatan agama melalui proses yang panjang sangat krusial untuk menciptakan karakter anak yang jujur.”
“Kedekatan dengan Tuhan adalah rem paling pakem untuk menghindari penyimpangan,” urai Prof. Imam Suprayogo.
Ia berharap institusi pendidikan tinggi, khususnya kampus-kampus di Malang Raya, mampu menjadi pionir dalam mencetak karakter unggulan.
Kampus tidak boleh hanya memuja prestasi akademik semata, namun harus mengedepankan nilai-nilai integritas sebagai standar kelulusan.
“Intelektual tanpa kejujuran hanya akan melahirkan penyimpangan di masa depan. Peran kampus adalah memastikan mahasiswanya memiliki karakter yang tidak tergoyahkan oleh tuntutan target sesaat,” pungkasnya. (Yolanda Oktaviani/Ra Indrata)




