MENGANYAM: Mbah Karjo, saat menularkan ilmu merangkai janur kepada anggota KKI Kabupaten Malang di pelataran Candi Kidal. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI) Kabupaten Malang, menggelar peringatan Hari Kartini dengan nuansa berbeda di kawasan bersejarah Candi Kidal, Kecamatan Tumpang, kemarin. Puluhan perempuan berkebaya ini melakukan napak tilas sejarah dengan membedah relief Garudeya sebagai simbol pembebasan dan penghormatan terhadap martabat perempuan, sekaligus meneguhkan peran ibu sebagai pilar peradaban lintas zaman.
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 anggota KKI ini, tidak hanya menjadi ajang seremoni. Tetapi juga ruang edukasi budaya. Para peserta diajak menyelami kisah klasik Garudeya, yang terpahat di dinding candi, menyaksikan penampilan tari tradisi, hingga mempraktikkan seni kriya anyaman janur di pelataran candi yang asri.
“Kami sengaja memilih Candi Kidal, karena tempat ini adalah ikon simbolik perjuangan seorang ibu. Kisah Garudeya yang membebaskan ibunya dari perbudakan sangat relevan dengan semangat emansipasi Kartini,” ujar Ketua KKI Kabupaten Malang, Endah Purwatiningsih, kepada Malang Post.
Garudeya: Simbol Bakti dan Kesetaraan
Narasumber budaya, Rakai Hino Galeswangi, menjelaskan, relief Garudeya di Candi Kidal mengandung pesan mendalam tentang pengorbanan seorang anak demi mengangkat derajat ibunya, Dewi Winata. Menurutnya, nilai ini membuktikan bahwa sejak era Hindu-Buddha, posisi perempuan sudah sangat dimuliakan dalam tatanan masyarakat Nusantara.
“Kisah ini menunjukkan, perempuan adalah sumber inspirasi dan pusat nilai kehidupan. Garudeya berjuang demi martabat ibunya, selaras dengan semangat Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara dan berdaya,” urai Rakai Hino di sela-sela pembacaan relief.
Edukasi Kriya Janur dan Filosofi Bidadari
Suasana semakin kental dengan nuansa tradisional, saat para anggota KKI belajar merangkai janur yang dipandu oleh budayawan Syamsul Bahri (Mbah Karjo) dan Bu Suli. Di bawah pohon rindang pelataran candi, mereka mempraktikkan pembuatan sembilan jenis anyaman. Mulai dari bentuk kerisan, payung, hingga burung-burungan (manuk-manukan).

SEJARAH: Budayawan, Rakai Hino Galeswangi, menjelaskan tentang relief Garudeya di Candi Kidal, kepada anggota KKI Kabupaten Malang. (Foto: Istimewa)
Mbah Karjo menekankan, keterampilan merangkai janur bukan sekadar kerajinan tangan, melainkan manifestasi dari keterampilan tujuh bidadari yang dalam mitologi Jawa turun ke bumi untuk membantu perjuangan.
“Ibu-ibu harus memiliki ketangkasan dan kelembutan layaknya bidadari dalam mengelola kehidupan sehari-hari, yang disimbolkan melalui kerajinan janur penuh makna ini,” tuturnya.
Lestarikan Budaya Lewat Tata Krama
Peringatan Hari Kartini ini turut dihadiri sejumlah tokoh budaya Malang Raya. Seperti Ki Suroso, Ki Demang, Ki Seta dan Joko Rendi.
Endah Purwatiningsih berharap, melalui kegiatan ini, para perempuan di Kabupaten Malang mampu menjaga warisan leluhur tidak hanya melalui pakaian kebaya, tetapi juga perilaku.
“Nilai perjuangan perempuan telah tertanam kuat dalam relief candi ini. Saya mengajak para anggota untuk terus melestarikan budaya mulai dari keluarga, terutama dalam menjaga sopan santun, tata krama, dan budi pekerti,” tambah Endah.
Rangkaian acara ditutup dengan suasana hangat saat seluruh peserta menari Gambyong “Mari Kangen” bersama Sanggar Topeng Setyotomo Glagahdowo.
Tarian ini menjadi simbol kegembiraan sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai budaya yang terus hidup dan diwariskan di Bumi Arema. (Ra Indrata)




