MALANG POST — Di balik kenyalnya segelas cincau hitam yang menyegarkan di tengah terik, tersembunyi sebuah kisah tentang tanaman yang selama ini dianggap sebelah mata. Janggelan, si tanaman perdu yang kerap tumbuh liar di pekarangan dan pinggir sawah, ternyata menyimpan potensi yang jauh melampaui bayangan kita.
Masyarakat Jawa mungkin sudah akrab dengan daun janggelan yang direbus hingga menghasilkan gel hitam khas. Namun, siapa sangka di balik kesederhanaannya, tanaman ini menyimpan segudang senyawa bioaktif yang membuat para peneliti terpukau?
MELIRIK KANDUNGAN AJAIB di BALIK DAUN HIJAU
Naufal Wima Al Fahri, mahasiswa S3 Pendidikan Biologi Universitas Negeri Malang (UM), tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat berbincang tentang janggelan. Baginya, tanaman ini bukan sekadar bahan cincau biasa.
“Janggelan tidak hanya bahan cincau, tetapi juga dapat menjadi sumber pangan fungsional dan bahan baku industri kesehatan berbasis lokal,” ujarnya dengan mata berbinar.
Ia lalu menjelaskan bahwa janggelan (Platostoma palustre) mengandung flavonoid, polisakarida, dan antioksidan yang melimpah. Kandungan-kandungan ini membuka pintu lebar bagi pemanfaatan janggelan di dunia kesehatan—mulai dari pangan fungsional hingga industri farmasi.
Tak hanya itu, penelitian laboratorium menunjukkan bahwa janggelan memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang mampu melawan radikal bebas. Artinya, tanaman ini berpotensi dalam pencegahan penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, bahkan kanker.
“Memang masih tahap awal, tapi temuan tentang potensi janggelan menghambat pertumbuhan sel kanker sangat menjanjikan untuk pengembangan obat berbasis bahan alami,” imbuh Naufal.
POTENSI YANG BELUM TERGARAP di BUMI NGRAYUN
Di sudut timur Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Ponorogo, Kecamatan Ngrayun, janggelan tumbuh subur seolah tak pernah lelah. Data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Timur bahkan mencatat, janggelan dari wilayah ini memiliki kandungan serat terbaik kedua di dunia.
Namun ironisnya, di tingkat petani, janggelan masih dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang relatif rendah. Minimnya inovasi pengolahan menjadi batu sandungan utama. Sementara itu, permintaan global—terutama dari Tiongkok—terus melonjak, membuat celah antara potensi dan realita semakin menganga.
BIOPROSPEKSI: KUNCI MENGUBAH NASIB JANGGELAN
Naufal meyakini, pendekatan bioprospeksi bisa menjadi jawaban. Dengan riset dan inovasi berkelanjutan, janggelan yang tadinya hanya direbus bisa disulap menjadi produk bernilai tinggi: teh herbal, suplemen kesehatan, hingga komoditas ekspor.
“Jika diolah secara inovatif, janggelan dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi,” tegasnya.
Keunggulan lain yang tak kalah menarik: janggelan mampu tumbuh di lahan marginal. Ini berarti tanaman ini menjadi solusi alternatif pemanfaatan lahan kurang produktif di pedesaan.
Pengembangan janggelan ternyata juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Tiga poin utama yang tersentuh adalah kesehatan dan kesejahteraan (poin 3), pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (poin 8), serta konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (poin 12).
Optimalisasi tanaman lokal ini bukan hanya soal menghadirkan produk kesehatan baru, melainkan juga tentang memberdayakan ekonomi desa dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam.
Di lereng-lereng Ponorogo, petani mulai melirik janggelan dengan cara pandang baru. Bukan lagi sekadar tanaman pinggir jalan yang kadang dipetik untuk dibuat minuman sehari-hari. Janggelan kini tengah bersiap naik kelas—dari cincau tradisional yang sederhana menuju komoditas global yang bernilai tinggi.
Bukankah seringkali hal terbesar lahir dari hal yang paling sederhana? Janggelan mengajarkan kita bahwa di balik kesederhanaan, selalu ada keajaiban yang menunggu untuk digali. (M. Abd. Rachman Rozzi-Januar Triwahyudi)




