PEKERJA LOKAL: Dua pekerja yang berasal dari tetangga sendiri, tengah menata Rengginang di tempat penjemuran di rumah produksi di Desa Sambi Gede. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
MALANG POST – Dagangannya sangat sederhana. Diproduksi sendiri dari sebuah desa di Kabupaten Malang. Namanya Rengginang. Berbahan dasar beras ketan. Yang saat ini memiliki tujuh varian rasa.
Tetapi di tangan Muhammad Azmi, pria asal Desa Sambi Gede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Rengginang itu mampu dikenal hampir di seluruh Indonesia. Serta sebagian negara di kawasan Asia.
Camilan yang memiliki sejarah panjang dan erat kaitannya dengan budaya masyarakat agraris itu, diberi nama Rengginang Kencana. Yang menarik, meski hanya dipasarkan lewat Shopee, tetapi Azmi mampu meraup omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.
“Saat Ramadan kemarin, menjadi puncak dari pesanan Rengginang Kencana. Dalam satu hari, kami bisa mengirim seribu pak Rengginang ke berbagai daerah. Bahkan kami sampai menolak pesanan, karena tidak tenaganya tidak mampu memenuhi permintaan pasar,” kata pria yang pernah menjadi koki di kapal laut.
Azmi bertutur, sejak memutuskan pulang kampung dari bekerja di luar negeri, dia bermaksud meneruskan usaha produksi Rengginang, yang dirintis orangtuanya sejak 2020 lalu.
Ketika itu, pemasalah Rengginang Kencana, dilakukan secara tradisional. Dari mulut ke mulut, menyebar ke toko-toko yang ada di Sumberpucung atau di kawasan Kabupaten Malang saja.

ONLINE: Rengginang Kencana bergabung di Shopee pada 2022, dengan nama Toko Rengginang Kencana Official Store. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
Baru pada 2022, Azmi melakukan ekspansi ke penjualan online. Lewat platform e-commerce berbasis marketplace, Shopee, dagangan yang sangat sederhana itu bisa meningkat sangat tajam. Tidak butuh waktu lama, peningkatannya mencapai 50 persen.
Bahkan di bulan Maret 2026 ini, penjualan Rengginang Kencana meningkat hingga 20 kali lipat, dibandingkan bulan sebelumnya.
“Untuk harga di Shopee, kami patok Rp24 ribu per pak dengan berat 250 gram. Tapi jika menjadi reseller, harganya hanya Rp12 ribu. Syaratnya, minimal harus mengambil 300 pak dan mematuhi aturan kami,” sebut mantan kuli bangunan ini.
Walhasil, untuk saat ini Rengginang Kencana sudah memiliki 10 reseller aktif. Tersebar tidak hanya di Pulau Jawa, tapi juga di beberapa wilayah lain. Seperti Kalimantan dan Papua.
Azmi sendiri sempat dibuat geleng-geleng kepala, ketika di masa-masa puncak pesanan, terutama sebelum masuk Ramadan dan Idulfitri, satu reseller bisa pesan hingga ratusan kilo. “Bahkan ada yang pesan satu sampai dua ton. Jelas kami sempat ragu. Untungnya Shopee bisa meyakinkan soal keamanan transaksi tersebut,” kata pria dengan empat putra ini.
Bukan itu saja, Azmi juga mengakui bergabung dengan Shopee -bahkan menjadi satu-satunya marketplace yang diikutinya- banyak hal positif yang didapatkan. Terutama dari sisi pemasaran produk dan ketepatan waktu pembayaran.
Bagi pengusaha kecil seperti dirinya, aku Azmi, soal perputaran modal menjadi hal yang sangat penting. Terlebih-lebih di tengah naiknya harga bahan pokok produksi. Serta keterbatasan perangkat produksi yang dimilikinya.

QUALITY CONTROL: Azmi harus turun tangan sendiri, untuk mengecek tingkat kekeringan Rengginang Kencana. (Foto: Ra Indrata/Malang Post)
“Kami hanya mengandalkan sinar matahari, untuk bisa mengeringkan Rengginang. Kami belum mampu membeli oven berbahan bakar LPG. Harganya masih sangat mahal. Jadi kalau hujan terus, jelas produksi akan berhenti,” sebut Azmi.
Pun dengan bahan baku utama, beras ketan. Meski bisa didapatkan dengan mudah dari wilayah Kabupaten Malang sendiri, namun harganya terus naik. Dari semula hanya Rp16 ribu perkilo, saat ini sudah mencapai Rp20 ribu perkilo. Sedangkan setiap bulan, dibutuhkan minimal tiga ton beras ketan.
“Bisa dibayangkan kalau pembayaran tidak lancar, jelas akan menganggu proses produksi.”
“Untungnya para reseller mengerti kondisi tersebut. Kalau mereka pesan dalam jumlah besar, biasanya mereka memberi uang muka terlebih dahulu,” ujarnya.
Diakuinya, meski produksi Rengginang Kencana terus meningkat tajam. Tetapi Azmi dengan dibantu sepuluh pekerja yang rata-rata berusia di atas 50 tahun, belum tersentuh bantuan apapun dari Pemerintah Daerah. Pun dengan pihak perbankan, belum juga ada yang berkunjung untuk sekadar menawarkan bantuan modal kerja.
“Untuk meningkatkan penjualan, saya hanya menjadikan affiliate marketing solution sebagai fitur utama. Jadi tujuh varian rasa Rengginan Kencana, seperti bawang, terasi, udang, cumi, ikan, pandan dan ketan hitam, full tergantung pada Shopee,” sebut Azmi.
Dan yang menarik lagi, bersentuhan dengan platform e-commerce, semua dipelajari secara otodidak serta dipandu oleh costumer service dari Shopee. “Pokoknya kalau ada apa-apa, saya tanyanya pada CS Shopee. Mereka sangat fast response dan selalu bisa menyelesaikan masalah,” tandas Azmi sembari mangacungkan jempolnya. (Ra Indrata)




