MALANG POST – Pembelajaran matematika di Indonesia masih kerap dipersepsikan abstrak dan jauh dari realitas siswa.
Kondisi tersebut mendorong Tim Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang (FIP UM) untuk menghadirkan pendekatan berbeda dengan mengawinkan konsep geometri dan budaya lokal Topeng Malangan.
Tim yang diketuai Vika Cahya Kurnia, bersama tiga anggota lainnya, Sinta, Anggya dan Farah, melihat lemahnya pemahaman konsep sudut pada siswa Sekolah Dasar (SD).
Pembelajaran yang masih bertumpu pada gambar di papan tulis dinilai belum mampu membangun kemampuan numerasi secara optimal.
“Mayoritas siswa masih kesulitan memahami konsep sudut karena pembelajaran cenderung abstrak dan kurang dikaitkan dengan benda atau fenomena nyata,” ujar Sinta, anggota Tim LIDM FIP UM.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim menggagas inovasi bertajuk “Inovasi Digital Etnomatematika: Model Inkuiri Terbimbing dengan Topeng Malangan untuk Meningkatkan Kreativitas Siswa SD.”
Inovasi ini menyasar siswa SD di Kota Malang dengan memanfaatkan budaya lokal yang dekat dengan kehidupan mereka.
Budaya Topeng Malangan dipilih karena memiliki keterkaitan erat dengan konsep sudut dalam geometri dasar.

Sudut-sudut tersebut tampak pada ornamen topeng maupun gerakan Tari Topeng Malangan. Kesinambungan ini menjadi jembatan agar matematika tidak lagi terasa asing bagi siswa.
Gagasan tersebut diwujudkan dalam sebuah website pembelajaran bernama Sutoma, akronim dari Sudut Topeng Malangan. Sutoma dirancang berbasis model inkuiri terbimbing yang terdiri atas tahapan pendahuluan, inti dan penutup.
Pada tahap awal, siswa diajak memahami tujuan pembelajaran. Selanjutnya, materi inti disajikan secara interaktif dengan contoh jenis-jenis sudut yang diambil dari gerakan tari dan ornamen topeng.
Untuk memperkuat pemahaman, Sutoma juga dilengkapi latihan soal sebagai sarana refleksi. Dalam penerapannya, inovasi ini mendapat sambutan positif dari siswa maupun guru.
“Mayoritas siswa mampu mengerjakan penugasan di website dengan menerapkan perhitungan sesuai materi yang mereka pelajari,” jelas Anggya saat diwawancarai Tim Humas UM.
Meskipun demikian, proses pengembangan Sutoma tidak lepas dari tantangan. Tim harus menyesuaikan desain website agar ramah dan menarik bagi siswa SD.
Selain itu, ketepatan contoh gerakan Tari Topeng Malangan yang membentuk sudut juga menjadi perhatian tersendiri.
Berdasarkan hasil uji coba dan respons pengguna, Tim LIDM FIP UM berharap inovasi ini dapat menghadirkan pembelajaran matematika yang menyenangkan, kontekstual, dan berakar pada budaya lokal.
Melalui Sutoma, matematika tidak hanya menjadi pelajaran hitung-menghitung, tetapi juga sarana merawat kearifan lokal Topeng Malangan sejak usia dini. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




