MALANG POST – Produksi beras di Kota Batu pada 2025 tercatat mengalami penurunan, meski luas lahan panen justru bertambah. Pemkot Batu menilai kondisi tersebut bukan semata persoalan teknis, melainkan konsekuensi dari transisi pola tanam petani yang mulai beralih ke varietas padi organik.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu menunjukkan, luas lahan panen padi sepanjang 2025 naik signifikan. Dari 503,25 hektare pada 2024, bertambah menjadi 553,28 hektare atau meningkat 9,94 persen.
Namun, peningkatan luas tanam itu tidak sejalan dengan hasil produksi. Gabah kering giling (GKG) justru menyusut 249,32 ton atau turun 6,81 persen dibanding tahun sebelumnya.
Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto menjelaskan, bahwa fenomena tersebut berkaitan erat dengan perubahan pola pertanian di sejumlah wilayah, terutama Kecamatan Junrejo. Di kawasan itu, sebagian petani khususnya di Desa Pendem, mulai konsisten menerapkan pertanian padi organik.
“Di sana sudah ada varietas padi organik. Pola tanamnya tidak lagi bergantung pada pestisida kimia. Kalaupun digunakan, jumlahnya sangat minim. Jadi wajar kalau hasil panennya tidak sebesar pertanian konvensional yang sepenuhnya memakai bahan kimia,” ujar Heli, Senin (2/2/2026).

MENURUN: Luas lahan panen padi Kota Batu naik signifikan di tahun 2025, namun hal itu berbanding terbalik jumlah hasil panen justru menurun. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Menurutnya, selain faktor cuaca, karakteristik wilayah Kota Batu juga memengaruhi produksi beras. Ketersediaan Lahan Sawah Dilindungi (LSD) relatif terbatas dan sebagian besar wilayah pertanian lebih didominasi komoditas hortikultura. Kondisi itu membuat produksi padi tidak bisa digenjot secara masif seperti daerah lumbung beras.
“Karena lahannya terbatas, orientasi pertanian padi di Kota Batu memang mulai bergeser. Bukan sekadar mengejar kuantitas, tetapi kualitas hasil pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tegasnya.
Penurunan produksi GKG tersebut berdampak langsung pada stok beras konsumsi penduduk. BPS mencatat, total produksi beras Kota Batu pada 2025 mencapai 1.969,04 ton. Angka itu turun 143,99 ton dibanding produksi tahun 2024 yang berada di level 2.113,03 ton.
Sementara itu, berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA), produksi padi di Kota Batu menunjukkan fluktuasi sepanjang tahun. Bahkan pada Maret dan September tercatat tidak ada produksi sama sekali. Meski demikian, pemerintah tetap optimistis potensi panen masih cukup menjanjikan.
Terdapat sekitar 145 hektare lahan padi yang terdata panen pada periode Oktober hingga Desember 2025. Dari luasan tersebut, estimasi produksi gabah diperkirakan mencapai 1.293,27 ton.
Untuk memastikan ketahanan pangan lokal tetap terjaga, Pemkot Batu terus memantau kondisi pertanian melalui pemanfaatan teknologi citra satelit. Langkah ini dilakukan untuk memetakan lahan tanam, memprediksi masa panen, sekaligus mengantisipasi potensi penurunan produksi.
“Kami tetap optimistis. Meski volume produksi melandai karena transisi ke organik, pemanfaatan lahan dan pengawasan berbasis teknologi akan memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap aman,” pungkas Heli. (Ananto Wibowo)




