MALANG POST — Wajah gerbang masuk Kota Batu bakal berubah total. Tidak lama lagi. Hitungannya bulan. Kawasan Simpang Empat Patih yang selama ini terkenal ruwet, macet, dan semrawut, segera disulap menjadi estetik. Demi mewujudkan ambisi itu, Pemerintah Kota Batu bergerak cepat memulai proyek penataan besar-besaran sejak pertengahan Mei 2026, dengan target sterilisasi lahan rampung sebelum akhir Juni mendatang.
Langkah awal sudah dimulai. Satu per satu bangunan di atas aset pemerintah daerah mulai dibongkar.
Hari Selasa (26/5/2026) lalu, suasananya sibuk. Petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Batu menyisir koridor Jalan Trunojoyo dan Jalan Indragiri. Warung-warung dan bangunan semipermanen mulai dikosongkan.
Menariknya, tidak ada ketegangan. Tidak ada adu mulut. Apalagi aksi dorong-dorongan dengan petugas. Nol gejolak.
Mengapa bisa semulus itu?
Kuncinya ada pada pendekatan. Kepala DPUPR Kota Batu, Esty Dwiastuti, rupanya memakai jurus ketuk pintu. Persuasif. Warga diajak bicara dari hati ke hati.
“Alhamdulillah, mereka dengan senang hati dan ikhlas menyerahkan kembali aset tanah pemerintah ini,” ujar Esty, kemarin.
Warga memang tidak dikagetkan. Pemkot Batu sudah memberikan waktu sosialisasi yang panjang, hampir dua bulan.
Masyarakat punya cukup waktu untuk berkemas atau mencari tempat usaha baru.
Bahkan, tempat praktik dokter gigi di kawasan itu sudah berkomitmen mengosongkan bangunan paling lambat akhir Mei ini.

ROBOHKAN: Ekskavator milik DPUPR Kota Batu mulai merobohkan bangunan di aset Pemkot Batu yang berada di kawasan Simpang Patih. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Esty mengejar target. Beberapa minggu ke depan, lahan harus bersih total. Mengapa buru-buru? Karena kontrak fisik dijadwalkan mulai akhir Juni.
Waktu pengerjaannya 150 hari kalender. Harus tuntas Desember 2026. Banner pemberitahuan pun sudah dipasang di mana-mana sebagai penanda.
Proyek ini tidak tanggung-tanggung. Bukan sekadar melebarkan jalan di Simpang Empat Patih ke arah Jalan Trunojoyo.
Pemkot Batu sekaligus ingin menyelesaikan “penyakit” tahunan di Jalan Hasanudin.
Anda yang sering lewat sana pasti tahu. Aspal di Jalan Hasanudin sering sekali rusak bergelombang (bleeding). Maklum, setiap hari dihajar kendaraan bertonase besar. Ditambal hari ini, bulan depan sudah jebol lagi.
Kali ini, Pemkot Batu mengambil langkah ekstrem. Struktur jalan lama dibongkar total. Tidak ada lagi tambal sulam. Gantinya? Rigid pavement. Jalan tersebut akan dicor beton semen.
“Ketebalannya hampir seperti jalan tol. Supaya lebih kuat dan tidak mudah bergelombang,” jelas Esty.
Langkah ini memang mahal di awal, tapi efisien di akhir. Biaya perawatan rutin yang selama ini menguras anggaran bisa ditekan habis.
Namun, ada konsekuensi yang harus siap dihadapi masyarakat. Selama proses pengecoran beton, jalur utama ini harus ditutup total. Tidak bisa ditawar.
Lalu, bagaimana dengan arus kendaraan. Kota Batu kan kota wisata.
Saat ini, DPUPR sedang pusing-pusingnya mematangkan rekayasa lalu lintas. Mereka tidak sendirian, ada Satlantas Polres Batu dan Dinas Perhubungan yang ikut menggodok skema pengalihan arus.
Esty berjanji tidak akan membuat pengguna jalan kebingungan. Sebelum mesin cor berjalan, peta jalur alternatif akan disebar ke publik.
“Pasti akan kami informasikan skema pengalihan arusnya melalui seluruh media agar masyarakat bisa mengantisipasi,” pungkas Esty.
Kita tunggu saja. Akhir tahun nanti, masuk Kota Batu tidak lagi disambut kemacetan Simpang Patih, melainkan jalan mulus sekokoh tol. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




