Connect with us

Hi, what are you looking for?

News

Sistem Pengolahan Sampah Bagi Warga

CARI SOLUSI: Sampah di DAS Brantas masih menjadi persoalan tanpa solusi pasti. (Foto: Rian/HARIAN DI’S WAY MALANG POST)

Malang –  Ecoton tak pernah lelah mengedukasi soal limbah. Meski pandemi covid-19, Aliansi Zero Waste Indonesia ini, masih melakukannya. Namun kali ini melalui webinar. Temanya: Mitos Daur Ulang dan Paparan Mikroplastik di Brantas.

Webinar series ini, rangkaian hingga April 2021. Diawali materi: Kondisi Terkini Sungai Brantas dan Bahaya Mikroplastik. Disampaikan Alex dari Environment Green Society. Dipaparkan temuan-temuan fakta dari mokroplastik di sungai Brantas.

Baca Juga ----------------------------

Pertama, sungai Brantas memiliki peran sangat penting bagi masyarakat Jawa Timur. Sebagai pemasok bahan baku air terbesar PDAM Kota Surabaya dan Malang. Kedua, sungai Brantas sungai terpanjang yang mengalir di Jawa Timur. Ketiga, banyak biota air di sungai Brantas yang wajib dilindungi.

Ia menunjukkan dokumen berbagai sampah dari berbagai Kota di Jawa Timur yang dilewati sungai Brantas. Seperti: Mojokerto, Sidoarjo, Jombang, Kediri, Surabaya dan Malang. Khusus di Malang, kawasan Muharto jadi penekanan.

Lantara anak kecil sudah dibiasakan membuang sampah ke sungai oleh orang tuanya. Hal-hal kecil seperti ini yang perlu penataan ulang mindset masyarakat. Khususnya yang sudah terbiasa membuang sampah di sungai.

Alex menjelaskan melalui data survey terkait timbulan sampah dalam skala besar. Tidak menutup kemungkinan, sampah plastik yang mendominasi. Pada gilirannya akan mengalami degradasi dari sinar matahari dan hujan secara kontinyu, hingga menjadi mikroplastik.

Jenisnya antara lain: Mikroplastik fiber, berasal dari pencucian kain baju atau sisa-sisa benang pakaian; Mikroplastik film, berbentuk lembaran plastik; Mikroplastik fragmen, ciri berupa pecahan plastik; Mikroplastik granul/mikroplastik primer, sengaja diproduksi berukuran mikro dan mudah dikonsumsi oleh organisme perairan. Bentuknya butiran putih kecoklatan, padat dan ukuran kurang dari 1 mm. Biasanya digunakan bahan produksi industri.

Serpihan mikroplastik ini, menjadi ancaman bagi biota-biota yang hidup di sungai maupun perairan. Pasalnya, rantai dari mikroplastik ini bersifat terbuka dan sifatnya hidrofobis. Artinya, dapat mengikat senyawa-senyawa toxic pada lingkungannya.

Dari pemaparan itu, berdasarkan hasil pengujian air sungai Brantas, semuanya mengandung mikroplastik. Kelimpahan mikroplastik tertinggi sungai Brantas di Kota Malang adalah daerah Muharto. Sedangkan kelimpahan tertinggi sungai Brantas keseluruhan, di Mojokerto. Didominasi mikroplastik filamen.

Disampaikan juga materi mitos daur ulang. Dibawakan Daru Setyorini. Mitos ini didorong produsen plastik, yaitu: Pencemaran plastik adalah masalah perilaku manusia. Bukan material plastiknya. Kita boleh pakai banyak plastik, karena semua plastik bisa didaur ulang.

Daru membedahnya. Dijelaskan bahwa banyak unsur kimia yang ditambahkan selama pembuatan plastik. Data yang dirilis dalam artikel 2020, tentang daur ulang plastik di kawasan perkotaan pulau Jawa, menghasilkan produksi 189.348 ton per bulan. Tetapi hanya bisa terkumpul sisa plastik yang nantinya didaur ulang sebanyak 11,83 % (22.395 to). Sisanya sebanyak 88,17 % (166.953 ton) tidak terkumpul untuk didaur ulang. Artinya, sisa-sisa plastik yang tidak terkumpul ini, tercecer di lingkungan.

Juga temuan fakta daur ulang plastik. Industri plastik memilik investasi sebesar Rp 400 milliar untuk pengembangan plastik. Tetapi hanya menyediakan dua miliar rupiah saja, untuk menangani sampah plastik maupun daur ulang.

Maka upaya dan kesadaran mengurangi pencemaran lingkungan dari sampah plastik, harus dilakukan. Solusinya menerapkan empat komponen Zero Waste.

Pertama, perubahan budaya produksi konsumsi. Artinya, mengubah pola konsumsi dan produksi dengan memprioritaskan pengurangan dan mendorong produsen sampah untuk bertanggung jawab atas produknya.

Kedua, peran aktif masyarakat. Bisa dengan mentertibkan masyarakat yang minim edukasi tentang pencemaran sampah plastik. Ketiga, peran aktif produsen. Produsen plastik harus didorong untuk memproduksi bahan yang lebih awet. Agar tidak sering menimbulkan sampah baru. Keempat, peran Pemerintah Daerah menyediakan sistem pengolahan sampah bagi setiap warga. (ryn/jan)

Click to comment

Leave a Reply

Baca Juga

headline

Malang Post – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Malang Raya, membuka donasi bagi korban erupsi gunung Semeru. Ketua PWI Malang Raya, Cahyono mengatakan, open donasi...

Malang Raya

Malang Post – Vaksinasi di Kota Malang menyasar warga dari berbagai lapisan umur, mulai dari remaja sampai lansia. Contohnya, vaksinasi di Kelurahan Tanjungrejo oleh...

Olahraga

Malang Post — Kompetisi MS Glow For Men Liga 3 Zona Jatim 2021 sudah masuk fase 16 Besar. Sebanyak 16 klub lolos dari fase 32...

News

Malang Post — Seorang sopir rentalan ditemukan tewas, Minggu (5/12/2021) sore, di hutan Balekambang. Sekitar pukul 18.25 WIB, ambulan Sibat Gedangan tiba di halaman ruang...

headline

Kondisi jembatan Gladak Perak setelah diterjang lahar dingin Semeru. (istimewa) Malang Post —  Malang Post – Terang benderang siang itu mendadak gelap gulita seperti malam....

Pendidikan

Malang Post — Jurusan Ekonomi Pembangunan FE Universitas Negeri Malang menggelar Seminar Nasional bertajuk Inovasi Pembelajaran Digital, Selasa (16/11/2021). Dilakukan daring melalui platform Zoom dan terhubung dengan...

Pendidikan

Malang Post — Tax Center Universitas Negeri Malang (UM) telah menyelenggarakan event Workshop Sosialisasi Perpajakan Pada Guru SMA dan SMK di Kota Malang. Pelaksanaan kali...

Malang Raya

Malang Post – Puluhan mahasiswa Universitas Tribuana Tunggadewi dari Fakultas Administrasi Publik melaksanakan kerja bakti, Minggu (5/12). Mereka kerja bakti bersama Babinsa-Bhabinkamtibmas Tlogomas, di...