Connect with us

Hi, what are you looking for?

News

Riset Buktikan Pekerja Migran Terdampak Pandemi

SURVIVE: Masyarakat Desa Sukowilangun membuat gaplek sebagai usaha sampingan dibantu tim akademisi UB. (Foto: istimewa)

Malang – Pandemi Covid-19 ternyata berdampak juga ke pekerja migran. Menyebabkan perlambatan pengiriman uang ke daerah Malang atau asal wilayah pekerja migran.

Karena pemberian gaji sejumlah pekerja tertunda. Sehingga tidak dapat mengirimkan uang bagi keluarga mereka di Indonesia.

Ini ditemukan melalui penelitian tim Universitas Brawijaya (UB). Yaitu Faishal Aminuddin, Saseendran Pallikadavath, Sujarwoto, Keppi Sukesi dan Henny Rosalinda.

Mereka mencatat banyak pekerja migran kehilangan pekerjaan. Sehingga tidak dapat mengirimkan uang bagi keluarga mereka di Indonesia.

“Pemerintah perlu memperhatikan kesejahteraan pekerja migran di luar negeri dan keluarga mereka di Indonesia selama pandemi covid,” katanya.

Anggota peneliti, Keppi Sukesi mengatakan. Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Malang. Lebih tepatnya di Desa Sukowilangun. Merupakan salah satu daerah yang banyak mengirimkan pekerja migran ke luar negeri.

Para pekerja migran itu umumnya bekerja di Singapura, Malaysia, Hong Kong, Taiwan dan Arab Saudi. Mereka bekerja di sektor domestik. Seperti asisten rumah tangga atau pekerja pabrik.

Sejak terjadinya pandemi, banyak di antara mereka yang menghadapi permasalahan ekonomi. Berakibat tersendatnya pengiriman uang ke keluarga mereka di Indonesia.

“Para pekerja migran, umumnya menghadapi masalah seperti terlambatnya pembayaran gaji dan pemberhentian pekerjaan bagi mereka yang bekerja di pabrik akibat pandemi. Sehingga, mereka tidak bisa mengirimkan uang kepada keluarga mereka di Indonesia sampai beberapa bulan. Tidak hanya itu, beberapa dari mereka juga menghadapi permasalahan psikologis akibat takut terpapar virus atau tidak bisa kembali ke Indonesia,” kata Prof Keppi.

Anggota peneliti lain, Sujarwoto menjelaskan. Survei dilakukan terhadap 605 rumah tangga dengan 1.926 anggota rumah tangga keluarga migran di Kabupaten Malang. Semua mengalami permasalahan sosial ekonomi. Serta merasakan kekhawatiran terhadap keluarga mereka akibat pandemi.

“Pada umumnya, keluarga pekerja migran merupakan warga yang berada pada kelas sosial menengah ke bawah. Mereka bergantung pada keluarga yang bekerja sebagai migran untuk bertahan hidup. Sehingga, saat pekerja migran mengalami kendala terkait pengiriman gaji kepada keluarga mereka di Indonesia, para keluarga migran juga terkena dampak secara langsung,” kata Sujarwoto.

Tidak hanya itu, isu-isu seperti pengadaan sekolah daring selama pandemi juga memunculkan permasalahan tersendiri bagi keluarga migran. Banyak dari anak-anak pekerja migran yang kesulitan bersekolah. Akibat tidak memiliki akses terhadap jaringan internet.

Meskipun pemerintah telah memberikan bantuan sosial berupa bahan pangan dan kuota internet bagi pelajar. Tetapi, di beberapa wilayah persebaran pemberian bantuan masih dinilai belum merata.

Sehingga keluarga migran yang belum memperoleh bantuan dari pemerintah harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam hal kesehatan, para pekerja migran juga mengaku tidak pernah memperoleh bantuan kesehatan dari pemerintah Indonesia.

Pemerintah dinilai kurang memperhatikan kondisi kesehatan pekerja migran yang ada di luar negeri. Demikian juga keluarga yang ditinggalkan. Pada umumnya, bekerja sebagai petani di desa yang tidak memiliki akses terhadap asuransi kesehatan yaitu BPJS.

Penelitian ini bekerja sama dengan Portsmouth University Inggris. Bertujuan melihat bagaimana kondisi sosio ekonomi dan kesehatan para pekerja migran dan keluarga yang ditinggalkan, khususnya selama pandemi.

“Dalam riset ini, kami ingin melihat. Masalah apa saja yang muncul dan bagaimana kebijakan yang telah atau sebaiknya dilakukan oleh pemerintah,” kata Prof Keppy mengakhiri statementnya. (roz/jan)

Click to comment

Leave a Reply

You May Also Like

Malang Raya

AMEG – Ketua Bidang Komisi Fatwa MUI Kabupaten Malang, Dr KH Ramadhan Chotib MH, berpendapat, di tengah pandemi Covid-19 ini […]

Malang Raya

AMEG – Pandemi Covid-19 sudah mewarnai dua Lebaran. Silaturahmi yang sudah menjadi kultur, bahkan ajaran agama, terpaksa harus disesuaikan dengan […]

headline

AMEG – Sembilan startup binaan Badan Inovasi dan Inkubator Wirausaha Universitas Brawijaya (BIIW-UB) berhasil mendapatkan dana hibah dari Program Startup […]

News

AMEG – FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) Kota Malang mengemban amanah menjaga kondusifitas ruang keagamaan. Artinya, semua umat beragama di […]

Malang Raya

AMEG – Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) tahun 2021 ini, masih belum dinaikan. Hal tersebut dikarenakan saat ini dalam kondisi pandemi […]

Dahlan Iskan

MEREKA harus bolak-balik Surabaya-Jakarta. Tiap minggu. Untung sudah ada jalan tol. Kemarin, mereka ke Jakarta lagi –untuk kali yang ketiga. […]

headline

AMEG – Universitas Brawijaya (UB), memberikan santunan kepada sekitar 3.500 anak yatim piatu, dari 179 panti asuhan se Malang Raya […]

Pendidikan

AMEG – Peringati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Aliansi Mahasiswa Brawijaya (Amarah) menyampaikan pernyataan sikap, mengkritisi sejumlah permasalahan di kampusnya. Sekitar […]

Pendidikan

AMEG – Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya (UB), menerima pendaftaran mahasiswa baru melalui jalur prestasi. Pendaftaran dimulai 3-21 Mei 2021, […]

Pendidikan

AMEG-Tanggal 2 Mei, adalah Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Sekiranya kurun waktu 2019-2021 membawa dampak sangat besar bagi pendidikan di negeri […]

%d bloggers like this: