Connect with us

Hi, what are you looking for?

Di's way

Kini Hanya Sekadar Jadi Penonton.

Harian DIs Way Malang Post

Malang – Publik dan petinju profesional Malang, harus puas menjadi penonton. Ketika Mahkota Promotions memanggungkan dua partai perebutan sabuk gelar juara dunia versi IBA (International Boxing Association),  Minggu (17/11) silam di Jawa Timur Park 3, Kota Batu. Malang bahkan hanya menjadi tempat saksi sejarah, bagi petinju ‘tamu’, Daud ‘Cino’ Yordan asal Ketapang, Kalimantan Barat dan Ongen ‘Hawk’ Saknosiwi, petinju asal Weinibe, Pulau Buru, Maluku merengkuh juara dunia versi IBA tersebut.

Daud Yordan meraih gelar juara dunia IBA, sekaligus WBO Oriental (World Boxing Organisation Oriental) kelas Ringan Super (super lightweight/junior welterweight) 63,50 kilogram.

Sedangkan Ongen Saknosiwi, menggondol sabuk juara dunia kelas Bulu (featherweight) 57,1 kilogram versi IBA.  Bahkan itu terjadi di depan seribuan publik Malang, Wali Kota Batu,  Hj Dewanti Rumpoko dan puluhan tokoh dan mantan petinju profesional Malang masa lalu. 

‘’Era 1970-an hingga 1990-an, merupakan masa emas tinju profesional Malang. Saya nggak tahu persis, mengapa setelah era 2000 hingga saat ini, tinju profesional memudar di Malang. Dulu puluhan petinju profesional, silih berganti muncul . Begitu banyaknya dalam tiga dekade 1970-1990,’’ tutur Drs. H Nurhuda, juara dunia WBC Junior  dan IBF Inter-continental kelas Bulu Jr 1986-1987.

‘’Puluhan sasana tinju dan ring tinju, banyak dijumpai di Malang. Dulu kami punya venue  tempat pertandingan tinju bersejarah. GOR Pulosari Malang dan dua penggerak tinju Malang, Sam Eddy Rumpoko dan almarhum Sam Ikul (Lucky Acub Zainal). Dulu Wali Kota Malang juga sangat totalitas mendukung setiap petinju Malang yang tampil,’’ tambahnya.

Sejatinya Malang pada tiga dekade 1970-1990-an, merupakan salah satu barometer dan pionir tinju profesional di Tanah Air, selain  Surabaya. Malang mencatatkan Wongso Suseno, sebagai petinju pertama Indonesia yang meraih sabuk juara di level internasional. Petinju kelahiran Malang, 17 November 1945 tersebut, merebut  sabuk gelar juara OPBF (Oriental and Pacific Boxing Federation) kelas Welter 66,6 kilogram, usai menang angka atas Chang Kil Lee dari Korea Selatan, 28 Juli 1975 di Istora Senayan, Jakarta.

Kemudian ada nama Nurhuda, sang juara dunia dua badan dunia versi WBC Junior dan IBF Intercontinental (1986-1987), di kelas Bulu Junior 55,3 kilogram. Petinju berjuluk Si ‘Macan Tutul’ tersebut, meraih gelar juara, setelah  mengalahkan Loremer Pontino (juara bertahan asal Filipina).

Indonesia juga tak akan pernah melupakan  Si ‘Badak Berhati Singa’, Mariono, yang memiliki nama ring Monod. Petinju  bergaya fighter sejati  tahan pukul, raja kelas Bulu 57,1 kilogram nasional era 1990-an.

Dunia tinju profesional Malang, dibesarkan dari ring tinju bersejarah GOR Pulosari di Jalan Kawi, Kota Malang awal 1970-an. Kini sudah beralih fungsi menjadi kawasan kuliner. Era 1980-an kian menggeliat, dengan kemunculan Javanoea BC yang didirikan dua anak muda Malang, Eddy Rumpoko dan almarhum Lucky Acub Zainal. Bahkan menjadi bagian dari kekuatan tinju pro Indonesia di level internasional.

Terlebih Wali Kota Malang, Sugiyono saat itu, ikut mengelola Sasana Gajayana. Malang juga pernah memiliki pelatih tinju kenamaan bertangan dingin, (alm) Haji Abu Dhori.

Malang  banyak melahirkan seniman ring in fight gong to gong lainnya 1980-1990an. Sebut saja Thomas Americo sang juara OPBF kelas Welter Junior, Little Pono, Michael Arthur (Bantam Jr), Abdi Pohan (Terbang), Edward Apay (Bantam) dan Faisol Akbar, serta raja kelas Welter nasional 1990-an, M Solikin.

Termasuk lima bersaudara ‘Anak Terminal (Arter)’, Joko Arter, Tejo Arter, Kid Manguni (Sutoyo), Jon Lee (Slamet Widodo), dan si bungsu Dobrak Arter. Mereka semua, kecuali Thomas Americo, yang telah wafat di Timor Leste (2002), kini aktif tergabung dalam KMPI (Kebersamaan Mantan Petinju Indonesia) Malang.

‘’Prihatin juga era 2000-an ini, mencari calon petinju saja sulit. Apalagi melihat sasana tinju dan ring tinju seperti era kami dulu. Era kejayaan tinju profesional Malang, seperti hilang ditelan bumi. 10 tahun ini  mati suri. Memang masih ada dua petinju profesional saat ini. Malang dulu itu gudangnya petinju profesional di Indonesia dan kami ibarat Singa lapar di atas ring. Butuh kerja keras dan kebersamaan semua pihak, untuk membangkitan kembali Malang sebagai  kampungnya tinju profesional Tanah Air,’’ timpal Monod, juara nasional kelas Bulu 1981-1984.

Kebersamaan para mantan petinju pro Malang, yang pernah berjaya di ring tinju level nasional dan internasional era masa lalu, kini tetap menjalin tali silaturhami. Wadahnya Kebersamaan Mantan Petinju Indonesia (KMPI).

Sekretariat mereka berpusat di Jalan Gresik, Gading Kasri, Kecamatan Klojen, Kota Malang dan selalu dikunjungi mantan petinju top. Seperti Wongso Suseno, Ferry Moniaga, Nurhuda, Agus Eka Jaya, Little Pono, Monod dan lain-lain.  (act/rdt)

Legenda tinju profesional Malang 1970-1990an 

1.      Wongso Suseno (juara OPBF kelas Welter 1975-1977)

2.      Nurhuda (juara WBC Junior  dan IBF Int kelas Bulu Jr 1986-1987)

3.      Juhari (juara OPBF kelas Ringan 1983-1984)

4.      Thomas Americo (juara OPBF dan nasional kelas Welter Jr 1980-1983)

5.      Monod (juara nasional kelas Bulu 1981-1984)

6.      Abdi Pohan ((juara nasional kelas Terbang Jr 1990-1992)

7.      Edward Apay (juara nasional kelas Bantam Jr 1983)

8.      Imam Buchori “Kid Samora” (juara nasional kelas Bantam Jr 1990-an)

9.      Faisol Akbar (juara IBF Int 1997 dan PABA 2001 kelas Layang)

10.    Rame Wicahyono “Dobrak Arter” (juara nasional, IBF Int, IBO kelas Ringan 1989-1992 dan 2004)

11.    M Solikin “Little Holmes” (juara nasional kelas Weltern Ringan 1980-1985)

12.    Kid Hasan (juara nasional kelas Bulu 1981)

13.    Joko Arter (juara nasional kelas Bulu 1983)

14.    Yani “Hagler” Dokolamo (juara nasional kelas Terbang Jr 1982-1984)

15.    Johny Mangi (juara nasional kelas Bulu 1976-1979)

16.    Little Pono (kelas Terbang Ringan 1990-an)

17.    Michael Arthur Hityahubessy (kelas Bantam Jr 1990-an)

18.    Tejo Arter (kelas Terbang Jr 1980-an)

19.    Sutoyo “Kid Manguni” (kelas Bantam Jr 1980-an)

20.    Slamet Widodo “Jon Lee” (kelas Terbang 1980-an)

Sasana tinju profesional di Malang 1970-1990an

1.      Javanoea BC

2.      Trisula Boxing Camp Malang

3.      Gajayana Boxing Camp

4.      Abudhory Gym

5.      Satria Yuda BC

6.      Alamanda BC

7.      Birawa BC Malang

8.      Higam BC Malang

9.      Kawanoea BC Malang

10.    Sasana Arek Malang

11.    Jaguar Boxing Camp

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like

headline

Lumajang – Telah terjadi Awan Panas Guguran (APG) Gunung Semeru dengan jarak luncur kurang lebih 4,5 kilometer, Sabtu (16/1) sore, pukul 17.24 WIB. Laporan...

headline

Surabaya – Menteri Sosial Tri Rismaharini membantah adanya penjarahan bantuan gempa Sulbar yang sempat viral di media sosial. Risma mengatakan kejadian yang sebenarnya bukan...

Di's way

Surabaya – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) pada Senin (11/1) telah mengeluarkan izin pakai darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Sinovac....

Kuliner

Malang – Jika sudah memasuki akhir pekan seperti ini, salah satu aktivitas rutin yang bisa dilakukan bersama keluarga dan orang tersayang, adalah berburu kuliner...

Opini

Makan merupakan aktivitas rutin sehari – hari yang pasti dilakukan  manusia pada semua kelompok umur, jika dilihat sepintas tampaknya sangat sederhana namun sebenarnya makan...

Dahlan Iskan

Oleh : Dahlan Iskan Enam hari di rumah sakit saya tidak menghidupkan TV sama sekali. Memang sudah hampir 5 tahun saya praktis tidak nonton TV...

Di's way

Malang – Beberapa kontestan Liga 1 2020/21 dari Jawa Timur, memutuskan membubarkan tim mereka. Untuk tidak lagi berlaga di kompetisi yang terhenti sejak Maret...

Di's way

Suramnya persepakbolaan di Kabupaten Malang mulai disibak. Ujungnya harus dibenahi. Kongres Luar Biasa (KLB) Askab PSSI Kabupaten Malang yang dihentikan polisi pada Kamis (15/1)...

Ameg

Malang – Aplikasi berbagi video pendek, TikTok punya  aturan baru bagi penggunanya yang  berusia di bawah 18 tahun. Aturan baru ini dibuat untuk melindungi...

Di's way

Malang – Pandemi tak menghalangi tim dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka tetap berkontribusi kepada masyarakat. Melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM). Empat dosen...