MALANG POST – Di tengah gempuran hiburan berbasis digital, secercah harapan bagi kelestarian seni wayang kulit muncul dari Kota Batu. Dalang muda, Ki Arghani, resmi menjalani gebyak atau pentas perdananya dalam Pagelaran Wayang Kulit Gebyak Budaya di Dusun Sabrangbendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Selasa (28/7/2026).
Di tengah gempuran hiburan digital, secercah harapan bagi kelestarian wayang kulit justru muncul dari Kota Batu.
Seorang dalang muda, Ki Arghani, resmi menjalani gebyak atau pentas perdananya dalam Pagelaran Wayang Kulit Gebyak Budaya yang digelar Sanggar Seni Purbo Laras Pujon di Dusun Sabrangbendo, Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji.
Momen tersebut tak sekadar menjadi pertunjukan seni biasa, melainkan penanda penting lahirnya generasi baru yang siap meneruskan tradisi pedalangan di Kota Batu.
Pagelaran itu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota Batu. Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, hadir langsung didampingi Kepala Dinas Pariwisata, Camat Bumiaji, tokoh masyarakat, serta ratusan pencinta seni yang memadati lokasi pertunjukan.
Suasana berlangsung semarak. Masyarakat dari berbagai usia larut menikmati alunan gamelan, suluk dalang, hingga kisah pewayangan yang dibawakan Ki Arghani.
Kehadirannya menjadi angin segar di tengah kian minimnya generasi muda yang memilih menekuni seni pedalangan.
Heli Suyanto mengapresiasi keberanian sekaligus komitmen Ki Arghani yang memilih jalan sebagai dalang di era ketika anak muda lebih akrab dengan gawai dan media sosial. Menurutnya, keputusan tersebut bukan hanya soal menjaga tradisi, melainkan juga investasi budaya bagi masa depan.
“Suatu kebanggaan bagi kami melihat generasi muda mencintai wayang. Kehadiran Ki Arghani menjadi harapan baru bagi regenerasi seni pedalangan.”
“Pemerintah Kota Batu berkomitmen menghadirkan ruang berekspresi dan mendorong tumbuhnya sanggar-sanggar seni sebagai tempat lahirnya generasi penerus budaya,” ujarnya.

GUNUNGAN: Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto saat memberikan gunungan wayang kepada dalang muda Kota Batu. (Foto: Ananto Wibowo/Malang Post)
Sanggar Seni Jadi Wadah Kreativitas dan Regenerasi
Ia menegaskan, pelestarian budaya tidak bisa hanya mengandalkan para pelaku seni yang sudah senior. Regenerasi menjadi kunci utama agar kesenian tradisional tetap hidup dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai luhurnya.
Oleh karena itu, Pemkot Batu terus mendorong keberadaan sanggar seni sebagai ruang belajar sekaligus wadah kreativitas bagi generasi muda.
Sanggar diharapkan tidak hanya menjadi tempat berlatih, tetapi juga pusat pelestarian budaya lokal yang mampu melahirkan seniman-seniman baru.
Pagelaran Gebyak Budaya di Giripurno menjadi salah satu bukti bahwa minat terhadap seni tradisional masih tumbuh di tengah masyarakat.
Dukungan kolaboratif antara pemerintah, komunitas seni, lembaga pendidikan, dan masyarakat dinilai menjadi modal penting agar wayang kulit tetap memiliki tempat di hati generasi muda.
Dengan lahirnya dalang muda seperti Ki Arghani, harapan terhadap keberlangsungan seni pedalangan di Kota Batu kembali menguat.
“Wayang tidak hanya dipertahankan sebagai warisan budaya, tetapi juga harus terus dihidupkan melalui tangan-tangan generasi penerus yang siap menjaga sekaligus mengembangkannya sesuai perkembangan zaman,” pungkas Heli. (Ananto Wibowo/Ra Indrata)




