PAPARAN: Korwil PDHI Jawa Timur, drh. Deddy F. Kurniawan, M.Vet. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Sebanyak 10 cabang PDHI se-Jawa Timur menggelar sarasehan di Best Resort Hotel Lawang, Malang, pada Sabtu (25/7/2026) guna menyusun strategi ketahanan pangan berbasis protein hewani sekaligus merapatkan barisan mendeklarasikan drh. Deddy F. Kurniawan, M.Vet sebagai calon Ketua Umum PB PDHI.
Udara dingin kawasan Lawang, Kabupaten Malang, Sabtu (25/7/2026) terasa hangat oleh gagasan.
Bertempat di Best Resort Hotel & Waterpark, para dokter hewan dari 10 cabang Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) se-Jawa Timur berkumpul.
Mereka menggelar sarasehan krusial bertajuk “Strategi Dokter Hewan Jawa Timur Menyambut Visi Ketahanan Pangan Berbasis Protein Hewani”.
Tentu bukan sekadar ajang kumpul-kumpul biasa. Ada kegelisahan besar yang dibahas di meja diskusi.
Indonesia sedang menikmati bonus demografi yang melimpah. Korwil PDHI Jawa Timur, drh. Deddy F. Kurniawan, M.Vet, membeberkan fakta lapangan.
Hingga 2050 mendatang, populasi penduduk usia produktif Indonesia memuncak. Dependency ratio negeri ini mencapai titik terendah sepanjang sejarah. Pasar konsumen Indonesia pun tumbuh paling tinggi di Asia.

SERIUS: Para peserta sarasehan PDHI Cabang Se-Jawa Timur dengan tema “Strategi Dokter Hewan Jawa Timur menyambut Visi Ketahanan Pangan Berbasis Protein Hewani”. (Foto: Istimewa)
Namun ada ironi besar di balik tumpukan angka optimistis itu.
Peringkat Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) Indonesia masih berada di urutan 113 dari 193 negara.
Penyebab utamanya menyengat: tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih sangat rendah.
Celakanya lagi, ketergantungan impor pangan kita justru makin memprihatinkan.
”Impor susu kita mencapai 80 persen, impor daging lebih dari 50 persen, dan impor bahan baku pakan ternak terus melonjak,” tegas Deddy.
Kondisi ini dibenarkan Pejabat Otoritas Veteriner (POV) Dinas Peternakan Jawa Timur, Dr. drh. Iswahyudi, MP.
Ia menyoroti defisit produksi susu nasional yang makin menjerit. Indonesia kekurangan 800 ton susu segar per hari dari kebutuhan normal 2.000 ton per hari—alias 8,5 juta ton per tahun.
Itu baru dalam situasi normal. Belum lagi jika dihitung dengan lonjakan permintaan akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digenjot pemerintah.
Guna menutup jurang defisit itu, pemerintah kini membidik target tinggi: menambah populasi sapi perah hingga 1,7 juta ekor dengan mendatangkan impor dari Australia, Brazil, hingga Meksiko.
Tentu, ambisi besar itu tak bisa dicapai hanya dengan bermodal semangat.
Anggota Komisi E DPRD Jatim, Dr. drh. Puguh Pamungkas, MM, menyatakan bahwa fungsi trias politica harus berjalan seimbang. Eksekutif dan legislatif wajib memiliki good will politik agar potensi besar Jawa Timur bisa dikonversi menjadi regulasi dan kebijakan konkret yang berpihak pada petani serta peternak.
Puguh mendorong para dokter hewan untuk terus melakukan konsolidasi dan kolaborasi. Mereka harus aktif bersuara menyusun landscape proposal sebagai panduan bagi pembuat kebijakan di sektor kesehatan hewan.
Tak ketinggalan, Ketua ASOHI Jatim drh. Suyud menambahkan pentingnya ketersediaan obat dan obat hewan yang terstandar. Semua pemangku kepentingan wajib mengantongi Penanggung Jawab Teknis Obat Hewan (PJTOH) demi menjamin kualitas pakan, vaksin, hingga herbal.
Melihat rentetan tantangan berat itu, para dokter hewan Jawa Timur merasa perlu melakukan pembenahan organisasi dari hulu ke hilir.
Di akhir acara sarasehan dan diskusi tersebut, seluruh 10 cabang PDHI se-Jawa Timur secara bulat mendeklarasikan dukungan penuh kepada Drh. Deddy F. Kurniawan, M.Vet untuk maju sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) PDHI.
Deddy dinilai sebagai sosok pemimpin veteriner yang kuat, kolaboratif, kreatif, serta visioner—sosok yang dibutuhkan untuk merapikan barisan dokter hewan demi menjawab tantangan gizi dan ketahanan pangan bangsa. (Ra Indrata)




