MALANG POST – Dalam wawancara yang ditayangkan Arema Official TV, pada Rabu (22/7/2026), tiga pemain asing anyar Arema FC—Careca, Marcos Vinicius, dan Gustavo Henrique—menegaskan kesiapannya untuk beradaptasi cepat dan memberikan performa maksimal, demi membawa Singo Edan merebut gelar juara di kompetisi mendatang.
Gelombang pemain asing baru Arema FC siap unjuk gigi. Careca, Marcos Vinicius, dan Gustavo Henrique, tidak datang ke Malang untuk sekadar jalan-jalan. Mereka datang untuk bertarung dan membawa trofi.
Meski baru mendarat, tidak ada raut canggung dari wajah trio Brasil ini. Adaptasi budaya dan atmosfer sepak bola Indonesia diprediksi berjalan mulus tanpa kendala berarti.
Careca, yang sudah cukup kenyang mengakar pengalaman merumput di panggung sepak bola Asia—termasuk di Liga Malaysia—mengaku sangat familier dengan kondisi di Indonesia. Kultur sosial dan iklim sepak bola di Asia Tenggara sudah luar biasa ia pahami.
“Saya sudah cukup lama bermain di Asia. Budaya di Malaysia dan Indonesia itu sangat mirip. Jadi saya tidak merasakan perbedaan yang tajam. Saya berharap bisa beradaptasi secepat mungkin. Apalagi dukungan dari manajemen, staf, dan pemain lain sangat luar biasa,” pamer Careca.
Soal komunikasi dan kekompakan tim di dalam lapangan, legiun asing anyar ini optimistis tidak ada tembok tebal yang menghalangi. Bahasa sepak bola itu universal: paham posisi dan gaya bermain rekan setim.

DI KANDANG SINGA: Julian Guevara (nomor 2 dari kiri) menjadi penterjemah bagi Marcos Vinicius, Careca dan Gustavo Henrique, saat wawancara yang ditayangkan Arema Official TV. (Foto: SC Youtube Arema TV)
“Yang paling penting adalah memahami karakter dan gaya tiap pemain di lapangan. Di mana mereka biasa berdiri dan ke mana mereka ingin menerima bola. Soal komunikasi, saya bisa berbahasa Inggris dan ada juga yang membantu menerjemahkan. Itu sangat membantu dan tidak akan mengganggu performa kami di lapangan,” tegasnya.
Ditanya mengenai posisi ideal di lapangan, para pemain asing ini menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pelatih kepala. Bagi mereka, kepentingan taktik tim jauh lebih utama ketimbang ego pribadi.
“Saya merasa nyaman bermain di beberapa posisi. Semua tergantung pilihan pelatih. Di mana pun pelatih menempatkan saya, saya siap memberikan yang terbaik,” tambah sang pemain.
Kehangatan ruang ganti Singo Edan turut mempercepat proses penyatuan visi. Sejak hari pertama menginjakkan kaki di Malang, sambutan dari para pemain lokal maupun sesama legiun asing membuat mereka langsung merasa seperti di rumah sendiri. Apalagi, beberapa di antara mereka sudah saling kenal dan pernah berhadapan di lapangan hijau.
Sementara itu, Gustavo Henrique menyikapi ekspektasi tinggi publik Malang terhadap ketajaman lini depan Arema FC dengan berkepala dingin. Mengenakan jersey Arema FC tentu membawa konsekuensi tekanan. Tapi tekanan itu justru diubah menjadi motivasi.
“Saya tidak melihatnya sebagai beban, tapi sebagai peluang bagus. Saya tahu Arema pernah punya penyerang-penyerang tajam yang mencetak banyak gol. Tentu saya dan rekan-rekan ingin mencetak gol di setiap pertandingan. Tapi saya bukan tipikal pemain yang egois untuk sekadar mencari gelar top skor pribadi,” tutur Gustavo.
Bagi Gustavo, kepentingan kolektif tim di atas segalanya. Membawa Arema FC meraih trofi juara adalah prioritas mutlak yang tak bisa ditawar.
“Tujuan utama saya adalah membawa Arema menjadi juara di kompetisi yang diikuti. Jika ada kesempatan mencetak gol dan menjadi pencetak gol terbanyak, tentu itu kebanggaan besar. Tapi saya bekerja keras untuk tim,” lugasnya.
Senada dengan Gustavo, Marcos Vinicius menegaskan bahwa fondasi utama perjuangan mereka di musim ini adalah meletakkan nama besar Arema FC di atas kepentingan pribadi.
“Tujuan kami sama, seperti yang dikatakan Gustavo: membantu Arema menjadi juara. Kami akan selalu memberikan yang maksimal di setiap sesi latihan dan pertandingan. Bagi kami, Arema selalu jadi yang nomor satu,” pangkas Marcos sebelum menutup sesi wawancara dengan pekikan khas: “Salam Satu Jiwa, Sasaji!” (Ra Indrata)




