MALANG POST – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batu, resmi meluncurkan program edukasi bertajuk FKUB Goes to School di SMPN 1 Kota Batu pada Rabu (15/7/2026). Diadakan di tengah pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dan dihadiri langsung oleh Wali Kota Batu, Nurochman, gerakan strategis ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai toleransi serta moderasi beragama sejak dini guna membentengi para pelajar dari arus polarisasi dan disinformasi digital.
Di tengah derasnya arus informasi dan potensi polarisasi di kalangan generasi muda, FKUB Kota Batu hadir menyapa para pelajar melalui program FKUB Goes to School. Program tersebut resmi diluncurkan di SMPN 1 Kota Batu, Rabu (15/7/2026).
Mengusung tema “Merajut Harmoni, Menguatkan Toleransi, Menginspirasi Generasi”, para siswa diajak belajar bahwa perbedaan bukanlah sebuah sekat pemisah, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan yang rukun dan damai.
Program ini menjadi langkah nyata FKUB Kota Batu dalam menanamkan nilai toleransi dan moderasi beragama kepada generasi muda. Kegiatan ini menyasar para pelajar untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya hidup berdampingan di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya di Kota Batu.
Suasana kegiatan berlangsung santai dan interaktif. Materi tentang toleransi dan moderasi beragama dikemas secara ringan agar mudah dipahami oleh para siswa yang saat ini masih menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Ketua FKUB Kota Batu, Ruba’i, mengatakan bahwa keberagaman yang dimiliki Kota Batu harus menjadi modal sosial untuk terus memperkuat keharmonisan masyarakat.
”FKUB memiliki tugas menjaga kerukunan antarumat beragama di Kota Batu. Melalui program ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada pelajar mengenai pentingnya toleransi dan bagaimana nilai itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat,” ujarnya.

PAPARAN: Wali Kota Batu Nurochman saat melakukan pemaparan dihadapan ratusan pelajar SMPN 01 Kota Batu dalam peluncuran program FKUB Got to School. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Menurut Ruba’i, pendidikan toleransi perlu ditanamkan sejak dini, terlebih Kota Batu merupakan daerah tujuan wisata utama yang dihuni oleh masyarakat dengan latar belakang yang sangat beragam.
”Tujuan kami adalah semakin mengharmoniskan kehidupan masyarakat. Kota Batu sebagai kota wisata membutuhkan suasana yang aman, nyaman, dan penuh toleransi,” imbuhnya.
Wali Kota Batu, Nurochman, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengapresiasi tinggi inisiatif dari FKUB. Menurutnya, para pelajar saat ini merupakan agent of change (agen perubahan) yang akan menentukan wajah keberagaman Indonesia di masa mendatang.
Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh tumbuh dengan mengingkari perbedaan. Sebaliknya, mereka harus memahami secara utuh bahwa keberagaman merupakan identitas bangsa yang perlu dijaga bersama.
”Anak-anak muda kita nanti menjadi generasi penerus. Jangan sampai mengingkari perbedaan. Agama kita boleh bermacam-macam, tetapi kita tetap satu karena kita adalah Indonesia,” tegasnya.
Cak Nur, sapaan akrab Nurochman, juga meminta agar materi yang disampaikan kepada siswa dikemas secara humanis dan tidak terlalu berat. Menurutnya, pendekatan yang santai akan jauh lebih mudah diterima oleh para pelajar.
”Jangan diberikan materi yang terlalu berat. Yang penting substansinya sampai, bagaimana kita memahami perbedaan, menjaga kerukunan, dan mengetahui tujuan yang ingin dicapai bersama. Penyampaiannya harus ringan dan menyenangkan, apalagi anak-anak masih dalam masa MPLS,” katanya.
Dia menambahkan, kondisi Kota Batu yang selama ini aman dan harmonis tidak terlepas dari peran aktif para tokoh agama yang terus konsisten menjalin komunikasi dan duduk bersama dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
”Ini patut kita syukuri. Ketika toleransi dijalankan dengan penuh kesadaran, maka semangat Bhinneka Tunggal Ika benar-benar hidup. Indonesia memang diciptakan dengan beragam suku, bahasa, budaya, dan agama. Perbedaan itu adalah rahmat yang harus kita terima,” tandasnya.
Melalui program FKUB Goes to School ini, nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama diharapkan dapat semakin mengakar kuat di kalangan generasi muda. Dengan demikian, para pelajar tidak hanya tumbuh sebagai generasi yang cerdas secara akademik, melainkan juga memiliki karakter inklusif, menghargai perbedaan, serta mampu menjadi penjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




