MALANG POST – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 menyisakan tantangan tersendiri bagi pemerataan pendidikan di Kota Batu. Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu mencatat pada Rabu (15/7/2026), terdapat delapan sekolah dasar yang sepi peminat dengan jumlah siswa baru di bawah atau tepat 10 anak. Salah satu kondisi paling mencolok terjadi di SDN Gunungsari 4 (SD Satu Atap) yang hanya memperoleh delapan murid baru akibat faktor geografis wilayah yang terpencil serta penurunan demografi anak usia sekolah.
Tahun ajaran baru 2026/2027 belum sepenuhnya membawa kabar gembira bagi seluruh sekolah dasar di Kota Batu. Di tengah ramainya pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), terdapat delapan sekolah dasar yang justru masih kekurangan siswa.
Bahkan, salah satu sekolah dilaporkan hanya memperoleh delapan peserta didik baru. Data Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu mencatat bahwa delapan SD tersebut saat ini memiliki jumlah siswa baru di bawah atau tepat 10 anak. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah upaya pemerataan layanan pendidikan dasar di Kota Dingin.
Plt. Kabid Pembinaan SD Dindik Kota Batu, Dina, mengatakan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi berubah dalam beberapa pekan mendatang.
”Ada delapan sekolah yang saat ini jumlah murid barunya kurang dari 10 atau tepat 10 siswa. Saya menyebutnya ‘saat ini’ karena biasanya masih ada tambahan siswa baru melalui jalur perpindahan atau mutasi pada Agustus nanti,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Menurut Dina, minimnya jumlah pendaftar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah penerapan sistem zonasi dalam SPMB yang membuat persaingan antarsekolah, baik negeri maupun swasta, semakin ketat. Di sejumlah wilayah, terdapat beberapa sekolah dengan lokasi yang berdekatan, sementara jumlah calon siswa di lingkungan sekitar relatif terbatas.
”Faktor utamanya karena ada sekolah-sekolah yang lokasinya berdekatan, sedangkan potensi peserta didik di wilayah tersebut sedikit. Memang ada lingkungan sekolah yang jumlah anak usia SD-nya sangat sedikit,” imbuh Dina merujuk pada tren penurunan demografi populasi anak usia 6 hingga 12 tahun di beberapa kawasan.

KURANG SISWA: Tak semua SD di Kota Batu mendapatkan siswa sesuai kuota, sedikitnya ada delapan SD yang mengalami kekurangan siswa. (Foto: Ananto Wibowo / Malang Post)
Kondisi tersebut memunculkan kembali wacana merger atau regrouping sekolah. Namun, Dindik memastikan belum akan mengambil langkah tergesa-gesa karena penggabungan sekolah bukan sekadar menyatukan bangunan atau siswa, melainkan juga menyangkut penataan sumber daya manusia hingga administrasi pendidikan.
”Masih dalam kajian dan evaluasi mendalam. Ada hal-hal sensitif yang perlu dipertimbangkan, mulai dari penataan guru dan kepala sekolah, pemindahan data di Dapodik, sampai penggabungan aset dan inventaris sekolah,” tegas Dina.
Salah satu sekolah yang merasakan dampak minimnya jumlah peserta didik baru adalah SDN Gunungsari 4 Kota Batu. Sekolah yang dikenal sebagai SD Satu Atap (Satap) karena berada dalam satu kawasan dengan SMP tersebut tahun ini hanya menerima delapan siswa baru.
Kepala SDN Gunungsari 4, Hendi, mengaku bahwa kondisi tersebut bukan hal baru. Kekurangan siswa telah berlangsung selama bertahun-tahun di lembaga yang dipimpinnya.
”Stabil. Tahun ajaran baru 2026 ini kami mendapat delapan siswa karena hampir setiap tahun jumlahnya seperti itu,” ujarnya.
Fenomena ini terlihat jelas dari jumlah siswa di setiap jenjang kelas. Dari kelas satu hingga enam, jumlah murid rata-rata masih berada di angka satu digit. “Setahu saya kondisi ini sudah lama terjadi. Ada kelas yang hanya berisi empat siswa dan paling banyak sembilan siswa,” ungkap Hendi.
Menurut Hendi, faktor geografis menjadi penyebab utama. Lokasi sekolah yang berada di kawasan relatif terpencil membuat jumlah anak usia sekolah di sekitar lingkungan tersebut sangat terbatas.
”Letak sekolah memang cukup terpencil. Di sekitar sini hanya ada empat RT dan satu RW, sehingga angka kelahiran juga sedikit,” terangnya.
Akibatnya, total siswa dari kelas satu hingga kelas enam di SDN Gunungsari 4 saat ini hanya berjumlah 41 anak. Meski demikian, pihak sekolah berkomitmen tetap berupaya menjaga kualitas pembelajaran secara optimal. Dengan jumlah siswa yang sedikit, proses belajar mengajar justru dapat berlangsung lebih intensif dan pendampingan kepada setiap siswa bisa dilakukan secara maksimal. (Ananto Wibowo / Ra Indrata)




