DOSEN Perencanaan Wilayah dan Kota ITN Malang, Dr. Mohammad Reza, S.T., MURP. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Dosen program studi S-1 Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Dr. Mohammad Reza, S.T., MURP., dinobatkan sebagai wisudawan doktor terbaik Universitas Bosowa, Makassar, setelah sukses mempertahankan disertasinya mengenai alih fungsi lahan masif di Kota Batu. Menyelesaikan studi S-3 hanya dalam waktu 2 tahun 7 bulan dengan IPK sempurna 4,00, Dr. Reza berhasil memetakan model komodifikasi lahan pertanian akibat tekanan pariwisata menggunakan analisis spasial digital mutakhir guna merumuskan skenario mitigasi bencana di Malang Raya pada Rabu (15/7/2026).
Kota Batu, Jawa Timur, kehilangan banyak lahan pertanian produktif hanya dalam waktu satu dekade terakhir. Fenomena komodifikasi lahan yang masif akibat tekanan sektor pariwisata dan lonjakan industri properti di Kota Batu tersebut mengundang keprihatinan mendalam dari Dr. Mohammad Reza, S.T., MURP., dosen Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) S-1 Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.
Reza sukses membedah fenomena tersebut dalam disertasinya dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Program Doktor PWK, sekaligus lulusan terbaik Program Pascasarjana Universitas Bosowa, Makassar, Sulawesi Selatan. Ia menyelesaikan studi S-3 hanya dalam waktu 2 tahun 7 bulan dengan IPK sempurna 4,00.
”Ketika pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan tidak berjalan seimbang, konsekuensi besarnya adalah bencana. Dalam 10 tahun terakhir, Kota Batu menghadapi tantangan kebencanaan seperti longsor dan banjir yang menimbulkan kerugian material akibat perubahan tata guna lahan di beberapa kawasan. Ke depan, penguatan konsistensi menjaga tata guna lahan serta ketegasan dalam memetakan zona nonpembangunan menjadi kunci utama yang perlu disinergikan bersama,” ungkap alumnus PWK S-1 ITN Malang angkatan 2000 ini saat ditemui di Kampus 1, Rabu (15/7/2026).
Dalam risetnya yang berjudul “Model Komodifikasi Lahan Pertanian di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur”, Reza menjelaskan bahwa komodifikasi terjadi ketika lahan pertanian beralih fungsi secara instan karena nilainya diukur semata-mata dari aspek ekonomi jangka pendek.
Melalui analisis spasial canggih Cellular Automata–Artificial Neural Network (CA–ANN), ditemukan data pertumbuhan signifikan kawasan permukiman di Kota Batu, di mana tantangan terbesarnya adalah sebagian perluasan tersebut mulai memasuki zona yang memiliki tingkat kerentanan bencana tinggi.
Menurutnya, kondisi ini kian pelik karena para petani lokal kerap terdesak dari ruang hidupnya. Akibat lahan pertanian bawah sudah habis berubah menjadi sektor perdagangan dan jasa, sebagian petani terpaksa merangsek ke kawasan atas yang berstatus hutan lindung untuk bertanam secara tumpang sari. Pola penataan yang kurang tepat di area tebing kecuraman tinggi ini justru meningkatkan risiko tanah longsor saat curah hujan tinggi.
Menggunakan Social Network Analysis (SNA), Reza juga menemukan relasi kekuasaan yang timpang di lapangan. Posisi tawar petani lokal sangat lemah karena mayoritas tanah di Kota Batu kini sudah bukan milik warga setempat, melainkan dikuasai oleh pemilik modal dari luar kota. Di sisi lain, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab mengembangkan kawasan jasa demi optimalisasi pendapatan asli daerah (PAD) dan pembukaan lapangan kerja. Kondisi ini memerlukan formulasi kebijakan yang lebih adaptif agar pertumbuhan sektor jasa dapat berjalan beriringan tanpa mengesampingkan keberadaan petani lokal.
”Pemerintah pusat saat ini sebenarnya sangat fokus pada ketahanan pangan dan swasembada berkelanjutan. Jika alih fungsi lahan seperti di Kota Batu ini tidak segera dihentikan, jangan kaget kalau ke depan ketergantungan pangan kita ke luar negeri akan semakin tinggi,” ujar peraih beasiswa S-2 di University of South Australia ini.
Melalui System Dynamics Modeling, Reza menawarkan tiga skenario kebijakan kepada pengambil keputusan di Kota Batu, yakni: optimistis (menjaga lingkungan dan mengendalikan pembangunan), moderat (mengakomodasi pembangunan secara berimbang), dan pesimistis (hanya mengejar pembangunan tanpa memikirkan dampak bencana dan pangan).
Untuk menjembatani kebutuhan wisata tanpa mengorbankan sektor agraris, Reza merekomendasikan model reformulasi kebijakan tata ruang yang lebih adaptif dan inklusif. Pemerintah daerah disarankan memberikan insentif nyata bagi petani yang bertahan, mulai dari kemudahan pajak, kepastian distribusi pupuk, bibit unggul, hingga bantuan teknologi alat pertanian gratis. Kerja sama pemanfaatan lahan tidur di perkotaan lewat sistem vertical farming atau optimalisasi lahan kritis nonlindung bersama Perhutani juga bisa menjadi solusi produktif.
Sebagai akademisi, Reza berharap hasil pemodelan digitalnya ini dapat memberikan pandangan objektif bagi pemerintah daerah di Malang Raya dalam mengambil kebijakan tata ruang secara lebih hati-hati. Ke depan, ia berencana mendalami riset mengenai relasi kekuasaan dan pengaruh kepentingan ekonomi di kawasan strategis agar pembangunan vila dan hotel tidak lagi merambah kawasan tangkapan air maupun lahan produktif.
“Bagi rekan-rekan dosen dan mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studi lanjut, tetaplah konsisten, jeli melihat akar masalah di lapangan, dan mengawinkan metodologi riset secara valid agar mampu melahirkan solusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




