Saipul Koclok saat bersama Bupati Situbondo Mas Rio dalam ajang perlombaan layang-layang sambetan tingkat nasional. (Foto: Istimewa)
MALANG POST – Permainan tradisional layang-layang, kini kembali naik daun dan menjelma sebagai hiburan murah meriah lintas generasi, yang melanda seluruh sudut Malang Raya. Tidak sekadar menjadi pengisi waktu luang pada sore hari untuk mengurangi ketergantungan anak-anak terhadap gawai (gadget), maraknya tren layangan aduan atau sambetan ini terbukti ampuh menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM, mulai dari perajin bambu, kertas, benang gelasan, hingga menghidupkan atmosfer kompetisi nasional yang dilirik peserta mancanegara pada Rabu (15/7/2026).
Siapa bilang layang-layang hanya untuk anak-anak? Di Malang Raya, permainan tradisional ini justru menjadi primadona hiburan semua usia. Setiap sore, lapangan-lapangan di Kota Pendidikan, Kota Dingin, dan Kota Apel ini dipenuhi oleh anak-anak, remaja, hingga orang dewasa yang asyik menerbangkan layangan ke angkasa.
Menariknya, fenomena ini bukan sekadar ajang nostalgia masa kecil. Layang-layang di Malang kini menjelma sebagai hiburan murah meriah yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya para perajin UMKM lokal.
Seru-seruan Adu Layangan dan Berburu Layangan Putus
Suasana semakin meriah ketika para pemain mulai mengadu layang-layang mereka atau yang biasa dikenal dengan istilah sambetan. Di sinilah strategi, keahlian, dan kecepatan reaksi para pemain diuji untuk menjatuhkan layangan lawan di udara.
Namun, momen yang paling ditunggu justru saat ada layangan yang putus. Bukannya kecewa, momen tersebut justru menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para pemburu layangan putus yang sudah bersiap saling berebut di area bawah.
Cerita Saipul Doble Koclok dan Komunitasnya
Saipul Doble Koclok atau yang biasa disebut Cak Ipul, salah satu pegiat layang-layang sambetan asli Malangan, menyampaikan bahwa kecintaannya pada permainan ini sudah tertanam sejak kecil. Ia kembali aktif menekuni hobi ini setelah melihat tren layang-layang mulai naik kembali sejak era tahun 2000-an.
”Awalnya cuma nostalgia. Eh, ternyata seru banget. Apalagi pas musim liburan begini, lapangan ramai sekali,” ujarnya sambil tersenyum, Rabu (15/7/2026).
Yang menarik, di Malang Raya sendiri saat ini tercatat ada sekitar 50 klub layang-layang yang tersebar di berbagai wilayah. Komunitas-komunitas ini menjadi wadah silaturahmi, tempat saling bertukar pendapat, hingga ruang belajar bersama untuk merakit layangan yang aerodinamis.
Bukan Sekadar Bermain, tetapi Sehat dan Mendidik
Bermain layang-layang ternyata memiliki segudang manfaat. Mulai dari menyatukan keluarga lintas generasi, mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai, hingga melatih kemampuan motorik dan koordinasi tubuh secara aktif.
Ditambah lagi, aktivitas di luar ruangan ini membantu tubuh menyerap vitamin D alami dari sinar matahari sore serta menyehatkan mata karena pembiasaan fokus melihat objek visual jarak jauh.
”Silaturahmi itu penting. Melalui lapangan layangan ini, kita bisa saling bertukar pendapat dan menjalin kekerabatan antarwarga dari berbagai daerah,” tambah Saipul.
Dari Malang untuk Dunia: Tembus Kompetisi Nasional dan Internasional
Tak hanya sekadar menjadi hobi musiman pada akhir pekan, layang-layang sambetan di Malang sudah memiliki berbagai agenda acara dan kompetisi rutin. Bahkan, skala perlombaannya sudah mencapai tingkat nasional dan kerap dihadiri oleh peserta dari mancanegara.
Saipul bersama rekan-rekan sesama pegiat berharap semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk bergabung. Apalagi, Malang Raya memiliki peran dan nama besar di kancah perlayangan Indonesia.
”Harapannya, permainan tradisional ini terus lestari. Selain bernilai edukatif bagi anak-anak, tren ini juga terbukti mampu memajukan UMKM para perajin layang-layang di Malang,” pungkasnya.
Pada akhirnya, layang-layang bukan sekadar urusan benang dan kertas yang diterbangkan ke langit. Ia adalah jembatan komunikasi antar-generasi, media pelepas penat yang sehat, serta roda penggerak ekonomi kecil yang nyata di masyarakat. (M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




