Malang Post – Guna mencetak eksportir muda yang kompeten dan siap menghadapi tantangan ekonomi global, Program Studi Ekonomi Pembangunan (EP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar kuliah tamu strategis bertajuk “From Campus to Global Market: Be The Next Smart Exporter”.
Bertempat di Aula BAU UMM, kegiatan ini secara khusus menggandeng Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Jawa Timur II guna membedah detail regulasi kepabeanan sekaligus menanamkan motivasi berbisnis lintas negara.
Kepala Kantor Wilayah DJBC Jawa Timur II, Muhamad Lukman, memaparkan secara komprehensif terkait ekosistem ekspor bagi pemula. Ia mengurai mulai dari syarat dasar, proses kepabeanan, pengelompokan komoditas, hingga sistem transportasi.
Lukman juga mengingatkan mahasiswa tentang pentingnya mengetahui larangan dalam ekspor, serta aturan komoditas yang dikenakan biaya sesuai regulasi PMK No. 39/PMK.001/2022. Ia menilai pemahaman dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) mutlak diperlukan oleh calon eksportir.
“Proses ekspor itu sebenarnya sangat terstruktur dan mudah diakses jika pengusaha sudah memahami alur birokrasi dan legalitas dasarnya,”
“Kalian jangan pernah takut berurusan dengan kepabeanan. Karena pemerintah saat ini justru memberikan banyak fasilitas pendampingan guna mendongkrak volume ekspor nasional,” tegasnya kemarin.
Sejalan dengan paparan regulasi tersebut, praktisi UMKM Ekspor Binaan Bea Cukai, Anggri Sartika Wiguna, membagikan pengalaman langsung di lapangan.
Ia menjelaskan strategi teknis mengawali ekspor barang yang wajib memenuhi standar mutu internasional dari negara tujuan. Ia menyarankan mahasiswa untuk aktif membangun kemitraan strategis dengan instansi pemerintah serta memperluas jaringan melalui perguruan tinggi.
“Sebagai pemula atau exportpreneur, kalian harus sangat jeli melihat celah peluang dan disiplin menjaga standar mutu produk di pasar global,”
“Manfaatkan jejaring yang sudah disediakan oleh pihak kampus dan jadikan lembaga pemerintah sebagai mitra strategis untuk memperlancar perizinan, bukan dianggap sebagai hambatan bisnis,” ujarnya.
Melalui giat ini, mahasiswa diharapkan tidak sekadar lulus sebagai pengamat ekonomi. Lebih dari itu, mereka diharapkan mampu mengambil langkah nyata untuk merintis usaha dan menjadi exportpreneur yang tangguh.
Kolaborasi harmonis antara akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah ini diproyeksikan menjadi bekal berharga bagi generasi muda UMM untuk membawa produk lokal bersaing di kancah internasional. (*/M. Abd. Rachman. Rozzi-Januar Triwahyudi)




